
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
Terdengar sangat riuh diluar sana.
" Dek, itu diluar ada apa ya? Kok sepertinya rame sekali? "
" Iya yah.. Kok rame kayanya. "
" Coba tolong kamu cek ke depan dek. Siapa tahu ada masalah di depan? "
" Hem ammmm Putri numpang toilet sebentar ya kak? Biasa.. Panggilan alam. "
" Hemp.. "
Kira-kira apa yang terjadi diluar ya? Semoga diluar baik-baik saja. - Batinnya.
^^^*^^^
3 hari setelah kejadian itu. Mutia menjadi sosok yang sangat galak. Setelah tahu dia adalah anak kandung dari Daulay. " Mau apa kamu kesini? " Dengan tegas.
" Heh cewek kampung!! Jangan sok jadi nyonya besar!! Rumah ini masih atas nama Arman, kau tidak berhak melarang ku ke sini. "
" Aku berhak. Aku berhak mengusir siapa saja yang berniat buruk kepada keluarga ku. "
" Mutia!!! Jaga bicaramu!! " Suara Arman lantang.
" Hiyaah.. Ada apa tuan muda Ali Arman Daulay? Pengusaha sukses yang dulunya di adopsi oleh ibu. Dan sekarang bersikap kurang sopan kepada pewarisnya? "
" Sayang.. Aku pengen tinggal disini. "
" Iya sayang. Kita akan tinggal disini. "
" Kau yakin sayang? "
" Apapun untuk kalian. "
" Cih!! Dasar rubah berbulu landak!!! "
Mutia berlalu meninggalkan mereka. ia tak ingin tahu kegiatan apa yang akan mereka berdua lakukan di rumah besarnya kali ini ia hanya memikirkan sosok ibunya yang sangat ia nanti-nanti kan akan datang dalam hidupnya walau bukan hanya ibunya saja yang ia harapkan. Andai saja ada keajaiban yang bisa membawa ayahnya Aklesh untuk tetap hidup dan berada disisinya saat ini mungkin saja Mutia akan memeluk dan bercerita banyak tentang apa yang sudah ia alami selama ini.
" Dek.. Bagaimana ibu? Apakah ibu sudah ada kabar? "
" Tidak ada tanda-tanda apapun kak. Putri pusing sekali kalau nggak mendengar celotehan ibu kalau lagi begini. Kalau lagi sehat, Putri sendiri yang memilih kabur untuk tidak mendengarkan. "
" Oh adek ku. Jangan menangis. Kalau kamu pengen ibu cepat sembuh, maka belajarlah yang rajin dan raihlah cita-citamu setinggi langit. "
" Hemp.. Baiklah kak. Oh iya kak? Bentar lagi kan ada pembukaan pendaftaran bagi mahasiswa baru. Kakak nggak kepengen ikut daftar gitu? "
" Hahahaha. " Mutia hanya tertawa ringan.
__ADS_1
" Tidak perlu dek. Kakak tidak akan bisa lagi melanjutkan sekolah. Karena kakak hanya tamatan SMP. Jika pun kakak melanjutkan.. Berarti kakak harus menempuh jalur pendidikan pembimbing. "
" Ya kan bisa melanjutkan. Nah nanti jika ingin kuliah, kita barengan aja kak. Kan enak tuh hihihi.. Kamu mah bilang enak enak aja. Masalah biaya bagaimana? "
" Yang penting kakak ada niat buat ambil paket nggak? Soalnya temanku ada punya kenalan yang mau melanjutkan program pelajarannya gitu lho.. Jadi, nggak ada salahnya kan? Kalau kakak mencobanya? Yang penting niat dulu dan berhasil atau lolosnya pikir belakangan aja. "
^^^*^^^
Di tempat yang putih bersih, di tumbuhi banyak sekali dengan bunga-bunga yang mekar dan wewangian semerbak dimana-mana. Hutan yang sangat asri, pepohonan dan daun nampak segar. Sejenak A'yunina menghabiskan pandangannya untuk melihat itu semua.
" Mas Aklesh. Itu kayaknya mas Aklesh? " Matanya kali ini seperti sedang rabun atau halusinasi.
" Nggak! Mas Aklesh kan sudah meninggal. Bagaimana bisa aku melihatnya secara dekat? "
" Yuni. "
Deg.
Gemetar datang menghampiri A'yunina.
Bagaimana orang yabg telah tiada bisa menyebut namanya dengan benar. Bahkan panggilan itu hanya untuk Aklesh dan dirinya.
" Ma..mmasssss. " Dengan gugup namun jelas.
" Ada apa sayang? Kemari lah. " Perintah seseorang tersebut walau seseorang itu tak berbalik menghadapnya.
Apa aku sebaiknya ke sana? Aku aku takut jika itu bukan dia. - Batin A'yunina.
A'yunina mencoba memberanikan diri untuk mendekat kearah kursi goyang yang ada nampak sosok menggunakan baju Koko putih serta peci.
" Duduklah. "
" Mas.. Innnn...ini beneran kamu? "
" Iya sayang. Ini aku. Bagaimana kabarmu di sana? Aku yakin. Putra kita sangat baik menjagamu di sana. Karena dia sudah aku didik dengan segala kemampuan ku. Tidak mungkin dia mengecewakan ayahnya. "
Nyatanya dia emang sudah mengecewakanku.
Dia sudah dengan tega melukai gadis hamil seperti menantu kita mas. - Ingin sekali A'yunina berkata seorang itu.
" Iiiyaaa mas. Dia sudah menjagaku dengan baik. " Terpaksa berbohong.
" Apakah kau sedang berbohong sayang? " Tanya Aklesh.
" Tii..tidak sayang. Mana berani aku berkata 'tidak benar' kepada mu. "
Senyum terlukis indah di raut wajah Aklesh.
" Aku senang mendengarnya. Bagaimana dengan keadaan Putri? Apakah dia masih nakal seperti dulu? Ah sungguh ingin sekali aku memeluk kalian dengan erat. "
" La...lalu..ke..kenapa tidak kau lakukan mas? " Saat saat A'yunina sangat amat berharap akan pelukan hangat mendekapnya seperti beberapa tahun lalu.
" Andai aku bisa. " Dengan wajah murung.
__ADS_1
" Kembalilah kepada anak-anak kita. Aku tak ingin melihat raut wajah putri yang kita cari cari menjadi bersedih. "
" Tidak mas. Aku.. "
" Mas minta kepadamu. Tolong kembalilah. "
" Baa..baiklah mas. Jika kau menginginkan itu. Aku akan kembali. Do'akan aku, semoga aku bisa merawatnya dengan baik. "
" Selalu. "
Dan cling... Cahaya terang menyeruak begitu terangnya hingga membuat A'yunina terbatuk-batuk. " Uhuk uhuk uhuk. "
" Ibu.. Ibu sudah bangun. " Kaget karena ia baru bangun dari tidurnya setelah bercerita panjang kepada ibunya.
" Putri.. Putri.. Hiiiisss!!! Bangun... " Menyenggol Putri agar ia mau berpindah sandarannya. Karena bahu dirinya tadi di gunakan putri sebagai bantal.
" Egghhhhh hoammmmm ada apa sih kak.. " Ujarnya sambil mengucek matanya.
" Itu ibu bangun. "
Menunjuk dan sekilat mungkin Mutia mendatangi ibunya. " Bu.. Ibu.. Ibu sudah sadar? Ibu ingin apa? Biar Mutia aja yang kerjakan. "
" Tidak ada nak. Ibu hanya menginginkan Arman agar tetap di sisimu. "
" Tak perlu memaksakan kehendaknya Bu. Dia sendiri yang menolak bersama. Mungkin setelah bayi ini lahir.. Mutia akan menggugat mas Arman. Ibu tenang saja, harta ibu Mutia sama sekali nggak ingin. Lebih baik itu di atas namakan seseorang yang di cintainya. "
" Betul Bu. Putri pun setuju. Jadi, nggak ada tuh yang namanya perebut calon keponakan Tante ini. Nanti biar Tante yang rawat kamu, baik-baik sayang. "
Mengelus perut kakaknya tanpa ijin.
" Ih ih geli tahu nggak Put! " Bukan bentak tapi sedikit protes.
" Hehehehe masa gini aja udah geli sih mbak? "
" Kulit kakak tipis nggak kayak durian yang tebal.. "
" Hahaha kakak bisa aja bercandanya. "
Detik-detik Wina menelpon sang suami.
Sayang tolong aku.. Panggilan itupun terputus.
" Win, Wina? Akhhhhhhh!!! "
Mendengar sahabatnya itu berteriak.
" Ada apa bos? " Tanya Naufal. Yang rupanya mendengar teriakan Wina saat di telpon.
" Sepertinya ada yang mencoba bermain-main denganku. Naufal, segera hubungi kepala bidang penyadapan. "
" Untuk apa bos? "
Namun pertanyaan yang lolos tak di tanggapi oleh Arman.
__ADS_1