
Saat pembicaraan mereka sudah mulai dingin dan bingung harus berkata apalagi. Suara klakson mobil membuyarkan seisi ruangan.
" Eh sepertinya suamiku sudah pulang. Sebentar ya? Aku akan menyapanya dahulu. "
Dengan senyum hangat, saat Arman mendapati sosok yang sedang menjalin hubungan kerjasama dengan perusahannya. " Bu, ibu yakin ini rumah ayah? "
" Yakin. Kenapa memangnya? "
" Bu, itukan pak Ali Wardhana. Yang memiliki perusahaan Wardhana group. "
" Tepat sekali. Kamu ini pintar banget kalau mengenai bisnis. "
" Ya bukan masalah pintar dan nggak ya Bu.. Tapi, pak Ali baru saja mendatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan kita. Arman takutnya, kontrak ini akan di batalkan kalau kita hanya di bilang pembohong. "
" Arman Arman Arman.. Kamu ini bodoh atau apa? Kecanggihan teknologi tidak dapat di pungkiri untuk membuat para rakyat terbantu. Mungkin sangat mahal, tapi hal itu memang penting. Tinggal tes DNA saja kok repot. " Melengos, saat menghadapi pikiran bodoh Arman saat ini.
" Haah iya ya.. "
" Di maafkan, mangkanya sebelum apa-apa di cek apa yang harus di umbar dan di bagi, menjaga hati satu orang atau membagi satu pria dengan anggapan nafsu saja. "
" Baiklah bu.
" Lika-liku yang kamu jalani belum seberapa dengan perjalanan hidup ibu nak. "
Senyum terlukis di wajah Merriam. Seakan-akan dia sangat bahagia dengan kedatangan Ali.
" Papa. " Tanpa malu di hatinya dia berlari sambil merentangkan tangan. Umur di tepis demi harta bergelimang.
" Eh.. Kok berada disini? "
Menyambutnya dengan rasa kaget, dan hampir saja terlepas karena ketidaksiapan untuk menangkap. " Awh.. " Namun, sayang. Kaki tua itu terlanjut terkilir.
" Kenapa? " Melihat raut wajah Merriam membuat Ali langsung menoleh ke segala sisi.
" Kaki ku,...saaaa...sakit. " terisak.
Rencanaku berhasil. Aku akan menunjukkan kepada semua orang bahwa suamiku ini bukanlah seseorang yang hanya pandai dalam dunia bisnis. Tapi, dia juga pandai untuk merawat dan membahagiakan istrinya. Hahaha..
Ali sesosok orang yang peduli akan hal-hal kecil, bukan dasar cinta. Tapi, demi anak yang ada di antara merekalah yang membuatnya tetap bertahan. Walau, sebenarnya dalam hati Ali sendiri ia ingin berpisah. Karena sikap menghamburkan uang susah sekali untuk di buang dari dalam diri Merriam.
" Ya ampun.. Roger, tolong kau bawa ini dulu. " Menyerahkan tas kerjanya pada asistennya.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Ali mengangkat Merriam memasuki mansion.
Tatapan para pegawai membuat mereka tergerak untuk bertanya. " Tuan, nyonya besar kenapa? " Tanya Wilna.
" Tidak. Dia tidak papa, tolong kamu bawa air hangat dan kotak p3k ke kamar saya. "
" Baik, tuan. "
__ADS_1
Tanpa melihat kanan dan kiri, dia terus berjalan lurus ke kamar mereka. Ingin sekali, Merriam berkata ' kita disini saja '. Namun, bibirnya seakan beku.
Kenapa dengan bibirku? Kenapa aku tidak bisa mengatakan itu.
Setelah tiba di kamarnya.
" Ma, ini akan terasa sakit. Mama tahan sebentar ya? "
**
Setelah perban terpasang.
Pandangannya masih menuju pintu kamar mereka. " Kenapa ma? Kenapa memandang ke arah luar. Mama jangan berjalan dulu, kalau perlu apa-apa mama bisa panggil Tari atau Wilna dan pak Tarjo. Udah ya? Papa mau mandi dulu. "
" Bukan, pa. " Menghentikan langkahnya lalu berbalik.
" Lalu? Istriku ini mau kemana hemp? " Menaik turunkan bola matanya.
" Itu... Mama hanya ingin papa menemui dahulu tamu kita. "
" Tamu? Siapa? "
" Ntahlah. Seseorang pria dengan ibunya datang kemari. "
Pria? Jangan-jangan dia ingin melamar Ana? Tapi, kenapa Ana tidak memberi tahu ku?
" Baiklah pa. "
^^^***^^^
" Siapa? Siapa yang memberi tahu? " Mutia terus berpikir. Selama ini ia jarang berkomunikasi dengan orang lain termasuk kepada ibunya. Kerena, ketakutannya akan Arman jika ia kesini pada saat masa perceraiannya terketuk palu hakim, tidak menuntut kemungkinan akan mengambil alih hak asuh anak-anaknya.
" Lista, jangan stres. Mungkin saja dia tahu dari anak buahnya. Kasian dari tadi anak-anakmu main dengan susternya terus. Walau bagaimanapun dia juga butuh perhatianmu. "
" Eh bibi. Nggak kok bi, Lista tidak kenapa-kenapa. " Mencoba berbicara seakan tidak ada yang terjadi.
" Jangan bohong, bibi bisa membaca pikiranmu melalui mata mu itu. " Saat duduk di samping Mutia.
Reflek saja Mutia memeluk erat Tasya. " Hey hey jangan peluk peluk. Bibi belum mandi nih. "
Sengaja menggoda Mutia agar ia tersenyum. " Tidak bi, bibi itu harum. " Malah mempererat pelukannya.
Mulai terbawa suasana yang ada, Tasya mengelus pelan punggung Mutia. " Sabar. Biarpun bibi tidak pernah atau belum merasakan hal itu. Bibi bisa merasakannya. "
Dengan sesenggukan ia mengangguk.
^^^***^^^
Mereka? Tunggu-tunggu..
__ADS_1
Bukannya salah satu dari mereka itu yang sedang menjalin kerjasama dengan Wardhana groub?
" Ehem ehemp.. " Memecah kesepian di sana.
" Eh, tuan. "
" Tuan. " Berdiri tegak.
" Ada apa kalian kemari? "
" Kami hanya ingin menyampaikan? "
" Menyampaikan apa? Dan kamu? Kamu kan, yang pernah meminta permohonan kerjasama dengan perusahaan saya? "
" Benar sekali pak. "
" Lalu, Apa keperluan kalian datang kesini? "
" Begini pak. Kalau saya di ijin kan bicara, saya dan anak saya ingin memberikan informasi yang sudah saya cek kepastiannya. Namun, itu tergantung pada diri bapak sendiri. Jika bapak tidak keberatan? Apakah saya boleh mengambil Sempel darah dan juga rambut anda? "
" Tunggu dulu, maksud kalian apa? Saya tidak mau. "
Deg ! Jiwa Arman bergemuruh.
Apakah sebegitu tidak ada rasa sayangnya kepadaku?
" Kenapa pak? "
**
" Untuk apa kalian datang ke sini mengambil Sempel saya? Kalian tidak ada maksud tertentu bukan? " Mengeras sambil menunjukkan jari telunjuknya.
" Oh jadi begini Bu, sikap ayah yang selalu Arman rindukan. Sudahlah Bu, jika dia tidak ingin. Arman juga tidak ingin di cap sebagai pembohong apalagi penjilat di rumah Arman sendiri. "
Menggenggam tangan ibunya untuk bangkit juga bersama dengannya meninggalkan tempat dimana ia duduk saat ini. " Tunggu ! ! "
Saat ia berhasil menggenggam dan mengajak ibunya untuk melangkah. " Nak, ayah mu memanggilmu. " Tangan kiri itu mengelus lembut dan perlahan pada tangan yang sedang menggenggam tangan kanannya.
" Tapi, Bu ! " Keras kepala seperti ayahnya.
Menatap mata sendu ibunya yang sudah berubah ekpresi.
" Huffffttttt ! Fyuhhhhhhh ! ! ! " Mulai meredam emosinya sesaat.
" Apa maksud, nak Arman? " Tanya Ali saat ia mendekat kepada kedua tamunya itu.
" Apakah saya harus menjelaskan secara spesifik lagi? Saya dan ibu saya, hanya ingin meminta Sempel darah ataupun rambut dari anda. Tapi, jika anda keberatan? Saya tidak masalah. Lagi pula, saya sudah mempunyai ibu yang sudah berbesar hati merawat saya dari umur 10 tahun hingga sekarang. "
Deg ! Penuturan Arman membuat tangan tua itu bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Angin pun ikut menyambut dengan hembusan yang cukup kencang. Dedaunan mulai berjatuhan di tanah. Suasana tegang sedang di hadapi diantara ketiganya.
__ADS_1