Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 46.


__ADS_3


LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..


*****


Sepekan lebih setelah Bintang mengajaknya terus menerus mendekati tanpa lelah selama hampir 6 bulan lamanya. Entah mengapa bukannya rasa risih, Mutia malah nyaman. " Mbak, Mbak makan dulu. Biar urusan Zhalina aku saja. "


" Bin, kamu nggak di marah sama bapak mu? Aku nggak enak lho.. Kamu selalu ke sini. "


" Nggak perlu merasa nggak enak Mbak. Ayah ku juga sudah mengetahui kalau aku ingin serius sama mbak. "


" Tapi, ini salah Bin. Lebih baik kamu cari gadis, mbak sudah janda. Mbak nggak pantes, apalagi dengan statusmu anak dari lurah desa ini. Mbak takut nantinya nama ayah mu juga akan jelek jika harus berjodoh sama mbak. "


" Mbak ! " Menggenggam tangan Mutia.


Sontak saja Mutia reflek melepaskannya secara perlahan. Pandangan Bintang tertuju kepada Mutia kali ini. " Mbak, jika Bintang bisa request kepada Allah. Bintang akan menggantikan posisi suami mbak yang dulu, jadi tidak ada kata aku dapatkan jandamu. "


" Hahahaha.. Kamu bisa melawak juga Bin? " Tawa Imel.


" Hust ! Kamu jangan ikut campur ! "


Warga kampung heboh saat ini. Pria yang hampir sama dengan pakaian hitam serta kacamata datang dengan 2 mobil tertutup.


" Wah kita kedatangan tamu lagi.. "


" Iya ya.. Sekarang kenapa banyak banget warga kota yang ke sini? Apa kita harus aduin ini sama pak RT? "


" Tapi, kalau di lihat-lihat gayanya memang orang kota. Tuh tuh lihat sepatunya mengkilap banget. "


Sampai di rumah yang bertuliskan ( Bidan Tasya. ) " Mutia? Sayang.. Ayo kita pulang.. "


" Wah kok manggil Mutia dengan sebutan sayang sih? Jangan-jangan dia mantan suaminya Lista lagi? "


" Iya ya.. Kita harus melaporkan ini kepada bidan Tasya. "


" Tapi, aku tadi lihat bidan Tasya pergi ke kota untuk mengambil stok obat untuk disini. "


" Lalu? Lista? Ada yang lihat tidak? "


" Aku jeng, aku lihat. Tadi aku juga habis dari sana, aku lihat anak pak lurah lagi sarapan barengan. "


" Sarapan apa? Bubur atau soto? "


" Sepertinya bubur. Soalnya sambil melatih anaknya makan. Kan usia baby Z udah 6 bulan tepat hari ini. "


^^^**^^^


Di tengah asik menyantap buburnya.


" Enak kah sayang? "


" Enak banget ibu. Ayah Bintang juga suka. "


Wajah Mutia tak bisa menutupi senyumnya.


" Dek, jangan berlebihan. "


" Aku nggak berlebihan Mbak. Bahkan kalau misalnya hari ini di suruh tanggung jawab pun Bintang siap. "


Mutia menggeleng lemah, bagaimana sikapnya harus menghadapinya. Tak pantang menyerah begitu saja. " Neng, neng Lista. "

__ADS_1


" Eh kamu dengar? "


" Dengar apa sih? Yang ada di jantung hatiku cuma suaramu saja Mbak. "


" Lebai kamu. "


**


" Haduh... Nggak dengar lagi. "


" Sebaiknya kita ke sana aja. "


" Aku nggak enak sama den Bintang. "


" Kenapa? Lebih nggak enak lagi kalau neng Lista nggak di beri tahu sekarang. "


" Eh iya juga ya.. "


Dengan terburu-buru untung saja tidak terserimpet dengan baju daster yang mereka gunakan. ( Gombroh-gomroh. )


" Neng.. "


" Nah kan ada suara lagi. "


Bintang pun menoleh memeriksa siapa yang sedang memanggil Lista. " Eh itu sepertinya tetangga sebelah rumah mu deh, Mbak? "


" Eh iya, Bu Darmo sama Darmi kenapa ya? Kamu ada urusan sama mereka Mel? "


" Saya, nggak Bu. "


" Lalu? "


" Mmmp. "


**


Setelah menceritakan panjang lebar.


Dari ciri-ciri yang di sebutkan tadi. Itu mas Arman? Ngapain dia kesini? - Batinnya.


Melihat perubahan dari raut wajah Lista, Bintang sepertinya sudah menduganya.


Brengsek ! Ngapain pria hina itu kesini. - Mengepal erat telapak tangannya merasa sangat gatal ingin menghajar seseorang.


" Kita harus pulang. " Cepat menggeret kereta bayi mereka dan mengajak Imeldianti untuk ikut.


" Bu.. Ibu kenapa? "


Wajah Mutia menjadi pucat.


" Mbak.. " Tegur Imel.


Dan benar saja yang sedang berdiri di dekat tiang beton itu memang suaminya, lebih tepatnya mantan suaminya jika Mutia menganggap hubungan mereka sudah berakhir sejak kejadian yang tidak diinginkan itu terjadi.


" Mas Arman. "


Deg !


Jantung Imel pun ikut berdetak kencang.


Astaga .. Jadi itu yang di ceritakan mas Dewa? Astaga astaga .. Aku seperti mimpi ketemu sharukhan aja kalau begini namanya.

__ADS_1


" Mutia, tolong buka pintunya. Mas mohon sama kamu. Mas sadar, mas salah. Mas minta permohonan maaf mu sayang. "


Kamu memanggilku sayang di saat-saat kita benar-benar berpisah. Apakah mas sadar? Mulut memang berbicara cinta, tapi hati tuan muda mengatakan tidak. Tidak Mutia ! Kamu tidak boleh lemah sekarang.


Sejenak ia mengingat momen-momen yang baik saat menyandang istri Arman. Namun, ingatannya juga tak akan lupa jika harus berhadapan dengan maut yang hampir memisahkan dirinya dan juga kedua putra putrinya.


" Untuk apa anda kesini ! " Mencoba tegas kali ini Mutia tak ingin terbawa suasana hati.


Sontak saja Arman menoleh dan mata itu. Mata itu berkaca-kaca memandang dua stroller yang sedang di genggam.


" Sayang.. " Menghampiri seraya ingin memeluk. Namun, pergerakannya kalah cepat dengan Bintang.


" Berhenti ! "


Muka Arman langsung merah padam.


Siapa laki-laki ini? Apakah dia kekasih Mutia yang baru? Tidak tidak! Mutia tidak mungkin seperti itu. - Batinnya mencoba menepis hal buruk yang kemungkinan besar bukan nyata.


" Siapa kamu ! Jangan mencoba-coba untuk bermain dengan ku ! "


" Hahaha... Dan siapa juga kamu? Apakah kamu lelaki paling bodoh yang pernah ada? Haah Memang benar bodoh! Ceroboh dan juga tolol ! ! "


" Kau ! ! " Menunjukkan jari telunjuknya pada Bintang. Kali ini tak cuma itu, menggertak kan giginya juga.


" Kenapa? Seharusnya kau tidak akan tersinggung? Asal kau tahu saja, aku hanya asal bicara saja. Tapi, lihat kau ini ! Langsung menunjukkan sikap aslimu yang sebenarnya. "


" Dek.. Udah dek. Jangan. Biar ini menjadi urusan Mbak. Kamu tidak usah ikut campur. "


" Tapi, Mbak. "


" Mbak mohon.. " Melemas.


" Baiklah mbak. "


Mutia akhirnya bisa mengatasi hawa panas yang ada diantara keduanya jika tidak di pisahkan maka akan terjadi keributan besar. Tak cuma antara Bintang dan juga Arman. Mungkin saja akan melibatkan warga kampung serta ajudan ajudan Arman yang dia bawa untuk mengawal.


" Mari mas, kita bicara sebentar. "


" Imel, ibu titip baby Z. "


" Iya Mbak. Selesaikan masalah Mbak terlebih dulu. "


^^^**^^^


" Apa kabarmu, sayang? " Mencoba menyentuh jari-jemari Mutia.


" Jangan sentuh ! ! "


" Oke oke ! Aku tidak akan menyentuhmu. "


" Buat apa mas datang kesini? "


" Aku? Kamu tanya kenapa aku datang kesini? Ah yang benar sajalah sayang. Ya apalagi kalau bukan ingin menjemputmu. "


" Aku tidak ingin kembali. "


" Kamu tahu kan? Mas mu ini tidak bisa menerima penolakan. "


" Mas bukan siapa-siapa Mutia lagi. Sidang putusan hakim sudah di ketok palu. "


" Hahaha.. Kamu mimpi? Sidang itu tidak pernah ada. Dalam surat itu, akulah yang mengajukannya. Dan akulah yang berhak meminta di batalkan, dan aku membatalkannya. "

__ADS_1


__ADS_2