
" Mommy... "
Kedua bocah kembar itu memeluk erat Mutia dengan bergandengan tangan tanpa renggang sedikitpun.
" Bagaimana sekolahnya? Belajar apa tadi? "
" Belajar nulis Mom, belajar bahasa Inggris satu sampai sepuluh. "
" Wah gampang berarti ya.. Anak-anak ibu kan bisa perkalian sampai 100. "
" Ya jelas dong bu, kami kan anak-anak yang sangat berbakat. Alias rajin belajar. "
" Belajar apa? Kamu tadi malah asik bermain di luar padahal guru sedang menjelaskan. " Ujar El. Dengan nada yang jengkel karena saudara kembarnya itu tidak ikut mata pelajaran sampai selesai.
" Benar begitu Al? "
" Tidak mom. Itu tidak benar. "
" Bohong mom. "
" Aku nggak bohong. Aku berkata jujur. Apa salahnya jika pelajaran yang di tulis ibu guru sudah aku selesaikan dan kumpulkan ke depan untuk bermain di luar. Kan yang penting Al sudah mengerjakannya dengan nilai juga memuaskan. Tadi Al mendapatkan bintang 5 dalam waktu kurang dari 5 menit. "
: Astafirullah sabar Muti.. Anak-anak mu jika di ajak debat mereka akan tiada henti hentinya.
" Tuh kan mom, abang mah begitu terus kalau di kasih tahu mommy. "
" Stttsss... Sudah sudah. Jangan kelahi. Kita lupakan saja masalah ini. Lebih baik kita masuk, kasihan oma dirumah pasti sudah menunggu kalian. "
" Aih.. Mommy begitu bah. Abang kalau salah nggak pernah di tindak. Coba saja ada daddy, pasti ada yang membela El. "
" Sttss.. Sudah sudha ah.. Ibu lagi malas bahas daddy kalian. "
" Emangnya kenapa mom? Kan daddy baik sama kita, walaupun bukan ayah kandung kita. "
" Benar mom. Yang katanya ayah kandung saja belum tentu kasih sayangnya sama seperti daddy kepada kami. "
Mutia mendiamkan anaknya.
Mengemudikan mobilnya dan seketika msanpai di halaman rumahnya.
" Kalian langsung masuk, cuci tangan atau bahkan mandi lalu makan. "
" Kami langsung mandi aja mom. Al dan El tadi main perusutan yang ada di sekolahan. "
__ADS_1
" Baiklah. Ibu, langsung balik ke kantor lagi ya.. Pekerjaan ibu ada yang belum selesai, baik-baik sama tante Putri dan oma ya... "
" Iya bu. "
" Bu.. Kapan daddy pulang? "
Sayangnya kaca mobil Mutia sudah tertutup dan sudah cukup jauh dari kediamannya.
" Yah.. Mom kok malah tutup kacanya sih.. "
" Sudahlah de, nggak usah bahas daddy. Kalau daddy sudah pulang kita bakalan lihat daddy kok. "
" Tapi, "
Al tahu, jika kedua orang tuanya sudah berpisah. Dan yang ia panggil sebagai daddy bukanlah ayah nya. Atau bahkan suami dari ibunya. Sebab itu, dia tidak begitu mengharap lebih. Ada perasaan mommy nya yang harus dia jaga. Dia adalah anak laki-laki, dia harus menjadi pelindung bagi ibu dan adik perempuannya.
Mutia kembali ke kantor, dia masih sibuk dalam sengketa tanah yang kasusnya belum usai. Pembangunan vila yang berada di sana terpaksa di hentikan. Karena masalah tanah ini, beberapa pekerja terpaksa di berhentikan. Operator alat berat mereka mengundurkan diri karena tidak ingin terlihat lebih jauh dalam permasalahan yang berat ini.
" Bu, bagaimana ini? Masalah ini tak kunjung usai bu. " Kata asisten Siska.
" Aku pun tidak tahu Sis, yang punya tanah pun tidak mengakui kalau tanah ini masih di perebutkan. Mana tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. "
" Benar bu. Seandainya ada yang mau, maka pasti pembangunan ini bisa di lanjutkan kembali. "
" Iya bu.. Seandainya pak Bintang ada disini. "
Sementara Bintang masih berada di dalam rumah itu. Kemarin sempat ia ingin angkat kaki dari sana.
" Aku harus bagaimana ya Allah. Aku mencintainya. Tapi.. Aku tak sanggup kalau harus menyakitinya untuk kedua kalinya. "
" Bagaimana Bintang? Apakah kamu sudah memikirkannya secara baik-baik? Tawaran bapak masih bisa di pertimbangkan bukan? "
" Pak, apakah tidak ada pilihan lain? Bapak tahu sendiri, bukan? Mutia itu sudah tersakiti oleh perilaku suaminya yang dulu. Jika aku menikahinya, apakah aku tidak akan sama dengan mantan suami Mutia yang dulu. Itu terlalu egois pak.. "
" Bapak juga tidak bisa membatalkan perjodohan ini, Bintang. Kamu tahu sendiri kan, bapak yang minta.. Masa bapak yang membatalkan. Tidak etis Bintang. "
" Itu salah bapak. Kenapa bapak nggak berunding dulu denganku. Aku punya perasaan, yang pasti bapak tahu.. Perasaan Bintang dari dulu tidak bisa berubah. "
" Bapak tahu, bapak mengerti. Tapi, kamu tahu sendiri bukan? Pandangan masyarakat kita ini berbeda. Kita ini sebagai contoh yang baik. Apalagi warga pernah mencurigai kalian berdua ada apa-apa waktu Mutia belum bercerai dengan suaminya. Lantas, bagaimana kalau kalian saat ini menikah? Apakah kenyataan yang dahulu mereka pikir kalian menjalin hubungan gelap itu benar. Bagaimana kita bisa menyangkalnya, nak. "
Bintang saat ini sedang frustasi.
" Pak, jika kita memikirkan kata tetangga. Hidup kita tidak akan tenang pak. Kita akan tenang bila menutup semuanya. "
__ADS_1
" Baiklah, jika kita menutup telinga kita bisa. Tapi, siapa yang akan berbicara kepada orangtua Lisa? "
" Bintang saja yang akan berbicara pada pak camat. Jika mereka akan meminta ganti rugi, Bintang akan membayarnya. "
" Terserah. "
Ayah Bintang sepertinya sedikit kecewa dengan keputusan Bintang saat ini.
Dia hanya ingin anaknya mempunyai jabatan penting nantinya. Tapi, Bintang hanyalah anak tunggalnya. Ia tidak mau kehilangannya.
Sempat kemarin dirinya dan juga Bintang berargumen. Tapi, setelah dirinya sudah sedikit mendingin. Dia mempertimbangkan kembali. Bagaimana bisa dia memaksakan pernikahan yang sangat sakral yang akan di jalani oleh anaknya sendiri.
" Aku harus bisa. Aku tidak boleh menjadi orang tua yang egois. Aku ingin melihat anakku bahagia. "
Bintang bersyukur, akhirnya ayahnya menyetujui sarannya untuk membatalkan perjodohan ini.
" Huh! Karena masalah ini, aku lupa menghubungi anak-anakku. Aku yakin mereka pasti merindukan aku. "
Merogoh ponselnya dan menghubungi calon ibu mertuanya. Ia menghubungi A'yunina.
" Kenapa tidak ada yang mengangkat panggilannya ya? Apa di rumah sedang tidak ada orang? " Bintang menghubungi A'yunina namun tidak berhasil untuk yang ke tiga kalinya.
" Sebaiknya aku menghubungi Mutia saja. "
Tombol hijau dia tekan, dan tak lama terdengar suara disana.
" Hallo.. "
" Haloo.. Bintang.. Kapan kamu pulang? "
" Kenapa? Apakah kamu sudah merindukan aku? " Bintang sudah salah tingkah sendiri di buatnya.
: Astaga Bintang, baru satu hari disana sudah kembali gombal lainnya.. ðŸ¤
" Ih jangan PD terlalu tinggi kamu. Ini ada masalah. "
" Iya aku tahu, masalah rindu kamu ke aku yang sangat menggebu bukan? "
" Ih! Kamu tadi makan apa sih? Sampai bicaranya ngelantur kaya orang lagi mabuk. "
" Iya aku mabuk. Cintamu memabukkan ku. "
Pipinya merona, ia seperti tante-tante yang sedang di goda sama berondong kelas kakap. " Astaga.. Ini masalah kantor Bintang. "
__ADS_1