
Mengintip dari jendela mobilnya.
" Astaga.. Mereka kelihatan marah besar. Aduh maafin daddy ya anak-anak Daddy. Huh! Ini semua gara-gara ayah. Pikiranku tidak sejalan dengan skedul. "
Merapikan rambutnya dan tak lupa menyemprotkan parfum mulut. Agar tetap fresh, tidak menimbulkan bau yang tidak menyenangkan.
" Assalamualaikum, anak-anak Daddy.. "
" Hem.. " Princess.
" Wa'alaikumsalam.. Telat menjemput 10 menit, kenapa tidak mengabari kami saja.. Jika Daddy tidak bisa menjemput. Tak perlu Zhafran dan Zhalina harus menunggu Daddy di gerbang sekolah. "
" Iya.. Tuan. Sebaliknya Anda menjemput putra-putri anda di sebelum jam mereka pulang. Bagaimana jika tidak ada satpam yang mengawasi? Bisa-bisa mereka menjadi korban penculikan anak. "
" Hey ! ! " Bintang memperingatkan sosok guru yang menemani putra-putri nya berbuat maka Buberani tanggung Jawab I
Sekali lagi bintang menegaskan. " Tidak akan ada seseorang yang berani menyentuh putri dan putra ku. Bahkan sehelai rambut pun aku tahu. Ayo kita naik ... "
Menggenggam tangan keduanya ingin rasanya ia bernyanyi. " Gel... "
Namun, siapa sangka, keduanya tidak melangkahkan sedikit pun kakinya.
" Anak-anak.. Kita nyanyi sambil menuju mobil ya? "
" Tidak. ! Aku tidak suka bernyanyi Daddy, apa Daddy lupa? Kalau lidahku terkadang suka tergigit saat bernyanyi. "
__ADS_1
" Tidak akan.. Sayang. Ayo prince nya Daddy, kita menyanyi. " Mengusap ubun-ubun princes Zhalina.
" Tidak. Zhalina dan Daddy saja yang bernyanyi. " Melepaskan gandengan itu lalu mempercepat langkahnya menuju mobil.
" Selamat siang den, bagus. "
" Maaf pak... Nama saya Zhafran. Bukan Bagus. "
Zhafran masuk ketika pintu mobilnya sudah terbuka. " Mari pulang, marilah pulang. Marilah pulang, bersama-sama. "
Keduanya sampai tak menyadari kalau mereka sudah sampai pada tepat di depan mobil. Dengan sigap, bintang membantu Zhalina untuk mengambil tempat duduk di mobil. Memasangkan setbelt agar mencegah dari hal-hal yang tentunya kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di menit bahkan detik selanjutnya.
" Ayo anak-anak kita siap pulang.. Ayo pak supir, jalan ke arah mansion. "
Setibanya di rumah.
" Anak-anak ibu.. Kalian kemana saja sih? Kenapa jam segini baru pulang? "
" Maaf, maafkan aku mom. Daddy telat menjemputku, jadi.. " Ujar Princess.
Mata Mutia berbalik menatap bintang.
" I'am sorry. "
Huh... Mutia membuang nafasnya dengan kasar. Melihat raut wajah kedua balita kembar itu nampak murung, Mutia tidak ingin mendebatkan masalah ini lagi.
__ADS_1
" Baiklah. Ibu memaafkan kalian, sekarang.. Kalian boleh bersihkan diri terlebih dahulu, selepas itu.. Kita akan menyantap makan bersama. "
" Ok mom. "
" Baik Bu. "
Sikap bertolak belaka. Ntah apakah ini yang di namakan sikap bayi kembar.
Di ruang tamu. " Mbak.. Ada yang ingin bintang sampaikan. . . "
" Sampaikan? Apa itu? "
Mutia mulai tertarik. Kali ini pembahasan apalagi selain memintanya untuk menjadi istrinya. " Besok aku akan pulang ke rumahku yang ada di desa. "
" What ! ! Kau gila? Lalu siapa yang akan memimpin meeting besok? Mbak sibuk dengan butik, itu saja tidak mempunyai waktu untuk mengelola. Jangankan mengelola, menengok pun waktu ku sudah tidak ada. "
" Jangan khawatir mbak... Chika kan ada... "
" Huh! jangan membahas orang lain ketika kita bicara berdua. "
: Hah? Apa maksud dengan ini? Apakah mbak Mutia sudah mulai ada rasa di hatinya untukku?
Pikiran melayang jauh.
: Maafkan mbak. Mbak memang egois menahan mu disini. Mbak.. Maafkan mbak. Mbak memang bukan wanita baik-baik yang pantas untuk pria jujur berkompeten seperti mu.
__ADS_1