Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 86.


__ADS_3

Mengintip dari jendela mobilnya.


" Astaga.. Mereka kelihatan marah besar. Aduh maafin daddy ya anak-anak Daddy. Huh! Ini semua gara-gara ayah. Pikiranku tidak sejalan dengan skedul. "


Merapikan rambutnya dan tak lupa menyemprotkan parfum mulut. Agar tetap fresh, tidak menimbulkan bau yang tidak menyenangkan.


" Assalamualaikum, anak-anak Daddy.. "


" Hem.. " Princess.


" Wa'alaikumsalam.. Telat menjemput 10 menit, kenapa tidak mengabari kami saja.. Jika Daddy tidak bisa menjemput. Tak perlu Zhafran dan Zhalina harus menunggu Daddy di gerbang sekolah. "


" Iya.. Tuan. Sebaliknya Anda menjemput putra-putri anda di sebelum jam mereka pulang. Bagaimana jika tidak ada satpam yang mengawasi? Bisa-bisa mereka menjadi korban penculikan anak. "


" Hey ! ! " Bintang memperingatkan sosok guru yang menemani putra-putri nya berbuat maka Buberani tanggung Jawab I


Sekali lagi bintang menegaskan. " Tidak akan ada seseorang yang berani menyentuh putri dan putra ku. Bahkan sehelai rambut pun aku tahu. Ayo kita naik ... "


Menggenggam tangan keduanya ingin rasanya ia bernyanyi. " Gel... "


Namun, siapa sangka, keduanya tidak melangkahkan sedikit pun kakinya.


" Anak-anak.. Kita nyanyi sambil menuju mobil ya? "


" Tidak. ! Aku tidak suka bernyanyi Daddy, apa Daddy lupa? Kalau lidahku terkadang suka tergigit saat bernyanyi. "

__ADS_1


" Tidak akan.. Sayang. Ayo prince nya Daddy, kita menyanyi. " Mengusap ubun-ubun princes Zhalina.


" Tidak. Zhalina dan Daddy saja yang bernyanyi. " Melepaskan gandengan itu lalu mempercepat langkahnya menuju mobil.


" Selamat siang den, bagus. "


" Maaf pak... Nama saya Zhafran. Bukan Bagus. "


Zhafran masuk ketika pintu mobilnya sudah terbuka. " Mari pulang, marilah pulang. Marilah pulang, bersama-sama. "


Keduanya sampai tak menyadari kalau mereka sudah sampai pada tepat di depan mobil. Dengan sigap, bintang membantu Zhalina untuk mengambil tempat duduk di mobil. Memasangkan setbelt agar mencegah dari hal-hal yang tentunya kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di menit bahkan detik selanjutnya.


" Ayo anak-anak kita siap pulang.. Ayo pak supir, jalan ke arah mansion. "


Setibanya di rumah.


" Anak-anak ibu.. Kalian kemana saja sih? Kenapa jam segini baru pulang? "


" Maaf, maafkan aku mom. Daddy telat menjemputku, jadi.. " Ujar Princess.


Mata Mutia berbalik menatap bintang.


" I'am sorry. "


Huh... Mutia membuang nafasnya dengan kasar. Melihat raut wajah kedua balita kembar itu nampak murung, Mutia tidak ingin mendebatkan masalah ini lagi.

__ADS_1


" Baiklah. Ibu memaafkan kalian, sekarang.. Kalian boleh bersihkan diri terlebih dahulu, selepas itu.. Kita akan menyantap makan bersama. "


" Ok mom. "


" Baik Bu. "


Sikap bertolak belaka. Ntah apakah ini yang di namakan sikap bayi kembar.


Di ruang tamu. " Mbak.. Ada yang ingin bintang sampaikan. . . "


" Sampaikan? Apa itu? "


Mutia mulai tertarik. Kali ini pembahasan apalagi selain memintanya untuk menjadi istrinya. " Besok aku akan pulang ke rumahku yang ada di desa. "


" What ! ! Kau gila? Lalu siapa yang akan memimpin meeting besok? Mbak sibuk dengan butik, itu saja tidak mempunyai waktu untuk mengelola. Jangankan mengelola, menengok pun waktu ku sudah tidak ada. "


" Jangan khawatir mbak... Chika kan ada... "


" Huh! jangan membahas orang lain ketika kita bicara berdua. "


: Hah? Apa maksud dengan ini? Apakah mbak Mutia sudah mulai ada rasa di hatinya untukku?


Pikiran melayang jauh.


: Maafkan mbak. Mbak memang egois menahan mu disini. Mbak.. Maafkan mbak. Mbak memang bukan wanita baik-baik yang pantas untuk pria jujur berkompeten seperti mu.

__ADS_1


__ADS_2