
Nona akan berkata apa.. Apa dia akan meminta Lamborghini? atau land cruiser.. Astaga itu masalah yang sangat gampang jika hanya untuk tuan muda. Tinggal menghentikan jari saja sudah ada depan mata.
Batin Dewa.
Semoga nona tidak meminta yang aneh. Cukup permintaan tuan muda yang selalu aneh-aneh dan terkadang membuat Nauval jengah.. Huh.. Kalau bukan karena aku butuh pekerjaan yang tetap untuk membangun rumah impian nggak bakalan aku betah.
" Dengan syarat... Tuan muda kalian harus menikahi ku dengan megah. Acara yang sangat megah hingga semua orang terpukau dengan hiasan dan ornamen yang sangat mahal. Berhias berlian dan emas serta batu giok biru kepunyaannya menjadi milik baby Z. "
" Apa... "
Mereka berdua melongo tidak percaya.
Nona muda bisa berpikiran sangat matre juga ya.. Astaga aku kira dia tidak akan bisa.
^^^**^^^
Setelah kejadian itu, Dewa dan juga Nauval mencoba menghubungi Arman.
" Iya halo. "
" ... "
" Baik. Aku akan mengabulkan yang dia inginkan. Tapi, apakah dia bersedia datang ke sini? Dan memaafkan kesalahan ku? " Dengan nada bertanya dan seakan pertanyaan itu semakin lirih. Arman sudah mulai mengetahui sedikit demi sedikit peranan istrinya yang saat ini mengasuh dua orang baby sekaligus tidak akan mudah baginya. Walau mempunyai baby sister.. Tugas di tengah malah pasti ia yang melakukannya sendirian.
" ... "
Setelah mendengar jawaban dari Mutia sendiri. Arman merasa lega. Sempat ia berpikir Mutia belum mau memaafkannya. Setelah beberapa bulan ia tidak sempat kembali karena mengurus suatu hal yang mengganjal hatinya.
" Baiklah. "
Panggilan itu berakhir.
Senyum-senyum kala seperti orang gila dan seperti bocah yang mendapatkan ASI dengan lahap menyedotnya hingga tertidur. Seperti itulah perasaan Arman kali ini.
" Sebentar lagi kita akan bertemu anak-anakku. "
Katanya, sambil mencium foto-foto gundul kedua putra putrinya yang tak lepas memakai pakaian yang senada.
Tok tok tok.. Gedoran pintu membuatnya tersadar. " Kak Arman... Turun sebentar.. Ibu mau bicara. "
Suara itu..
Arman langsung membuka pintu kamarnya dan memeluk erat sang adik. " Apa kabar dek,.. " Walau hanya sekedar kakak angkat. Arman tidak pernah membedakan sedikitpun. Bahkan kasih sayangnya tidak pernah usai.
__ADS_1
Wanita yang selalu menjadi kebanggaan dirinya. Wanita yang berhasil membujuknya dengan segala cara agar kakaknya itu kembali rujuk dengan Mutia. Sampai suatu titik yang membuat Putri Gayn Daulay merasa lelah. Lelah dan untuk pergi menjauh untuk sementara. Hingga kali ini ia baru kembali lagi di rumah besar itu.
" Apaan sih kak ! Jangan sentuh Putri... " Menghempas tubuh kakaknya hingga menabrak pintu.
" Awh.. " Lenguh Arman saat kepalanya bagian belakangnya terasa sakit.
" Kakak.. "
Arman tahu.. Adiknya ini tidak mungkin dapat membenci dirinya. Karena bagaimana pun... Putri sangat tidak menyukai jika Arman terluka. Bahkan, putri sempat berkata.
Kakak adalah sosok pengganti ayah bagi Putri. Berjanjilah akan selalu melindungi putri dari segala apapun ancaman mau pun bahaya. Tapi.. Jangan sampai kakak terluka. Karena putri... Tidak akan pernah menerima rasa kehilangan untuk yang ke dua kalinya.
Janji yang selalu ia ingat, janji yang selalu ia genggam. Bahkan ayahnya sendiri tidak pernah berkata manis seperti saat putri berkata seperti itu. Hanya sosok mendiang alm. Intan, yang bisa.
" Kakak nggak apa-apa kok dek.. Kenapa dengan wajah mu itu... Senyum sedikit dong.. Kakak sudah lama nggak melihat boneka Barbie nya kakak tersenyum. "
Astaga kakak benar-benar kadal lintah darah.. Semuanya ingin di miliki. Kenapa dia tidak menandatangani surat ajuan cerai pernikahan yang mbak Muti buat. Kenapa dia malah.. Ah ! Tuhan... Hanya satu yang aku takutkan.. Dan .. Jangan sampai itu terjadi.
Berdoa dalam hatinya. Memohon dengan sungguh.
^^^***^^^
Acara yang di tunggu telah tiba. Lista Mutia Sari Daulay telah datang alias welcome back to home. Di bandara kalah itu penyambutan yang sangat luar biasa. Seperti sesekali yang akan mengadakan acara pemakaian kunyit pada tradisi India. Gendang bertabuh dan juga nyanyian yang tak lupa seiringan dengan langkah berjalan mundur. Terbukalah jalan dan tampaklah sesosok lelaki yang sangat dia cintai.
" Kamu masih tidak berubah mas. " Ucapnya pelan.
" Selamat datang.. Sayang.. " Saat hendak menangkup pelukan dari Mutia.
" No. Ayolah Daddy.. Masa nggak kasian sama aku .. Aku masih sangat kecil kalau harus menjadi korban. " Bicaranya seperti anak kecil.
Memang tak ada salahnya jika berbicara seperti itu. Apalagi kepada suami yang selama ini belum bisa menerima dirinya namun menerima anaknya setelah tes DNA itu.
" Oh iya.. Dady lupa Son. "
Sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal itu. " No problem dad. "
Senyuman itu.. Senyuman yang selama 2 bulan ini tidak ia lihat secara langsung.
Pulang dengan wajah gembira setelah masalah yang harusnya tidak mengakibatkannya pergi dari rumah dan mengasingkan diri dari keluarga. Membuat perasaan baru dan hati yang sudah mulai sedikit demi sedikit memaafkan.
Ketika perjalanannya di tengah kota tua. Ya ... Mereka tinggal di Surabaya. Karena rumah mereka sudah di pindahkan dengan craine sedikit jarak tempuh dari kota tua.
" Berhenti. " Ujar Arman.
__ADS_1
Deg...
Kenapa Arman meminta sopir alias Dewa untuk berhenti? Apakah ada sosok astral yang lewat?
Batin Mutia.
" Ke...kenapa kita berhenti, m...mmmaasss.. "
" Aku lapar. " Satu kata. To the points. No basa-basi, karena dia lebih suka sama yang fresh timbang yang basi.
" Ha...hahh... L...apa...r... " Terbengong.
Tidak biasanya Arman berhenti di tengah jalan dan tepat ada seorang pedangan kaki lima yang menjual makanan. " Dewa, Nauval. Kalian cari tempat parkir. Dan tolong jaga anak-anak saya dulu. "
Haah... Kita nggak salah dengar kan? Si bos yang begitu membenci sekarang sepertinya sedang ingin berkencan?
Batin Nauval.
" Baik, tuan muda. "
" Tidak bisa. Nanti kalau mereka nangis dan haus? Bagaimana... "
Pertimbangan Mutia.
" Dewa , Nauval. Kalian pasti tahu harus bagaimana? "
" Siap... Di mengerti. "
^^^**^^^
Dengan perasaan yang kikuk. Mutia dan juga Arman turun dari mobil. " Pegang tanganku. " Ucap Arman.
" Hah? Buat apa? Sini situ saja pakai pegangan tangan segala. Sudah macam orang tua yang pakai tongkat saja. "
" Huh ! "
Arman tidak ingin ribut. Kemudian dia mengambil inisiatif untuk menggenggam tangan Mutia. Mutia yang di pegang pun tidak marah.
Kenapa dia berubah.. Baiklah, aku akan memberikan kesempatan.
" Pak.. 10 bungkus terang bulan. "
Mutia menoleh ke arah Arman dan wajah mereka saling bertemu satu sama lainnya.
__ADS_1
Wajahmu tidak berubah.. Tapi.. Kenapa janggut mu tidak di potong sih..
Batinnya geram.