
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
******
" Apa! " Mutia kaget. Pasalnya Om Dewa mengatakan kalau proses itu berjalan lancar dan hakim pun menolak esepsi penggugat.
" Kenapa? Kamu kaget istriku? Apakah asisten ibuku eh maksudku, ibu mertua mu itu berbanding dengan apa yang sedang aku utarakan saat ini? "
Mutia nampak bingung. " Aku yang telah memohon pada ibu. Dan asisten ibumu itu, hanya menuruti apa yang ibumu perintahkan. "
^^^Flash Back**^^^
Kejadian yang tak terduga menghampiri Dewa dan A'yunina. Saat ibu Mutia kangen ceritanya dengan Arman. Dia mengunjunginya, ada banyak rasa jengkel dan amarah yang sudah ia pendam saat melihat setiap sudut apartemen Arman dihiasi dengan foto Wina. Namun, tetap kalah jika seseorang dilanda rindu. " Bu.. Andaikan ibuku masih hidup. Aku akan memohon padanya untuk melamarnya lagi untuk ku. " Rancaunya.
" Arman? " Pelan.
" Ibu. " Arman mengusap air matanya.
" Kamu nangis nak? "
" Eh, nggak kok Bu. Ibu ada perlu apa kesini? Ibu kangen sama aku kah? "
" Cih siapa juga yang kangen sama anak bandel seperti kamu. "
Arman bangkit dari duduknya dan tersenyum. " Bu, walaupun Arman tidak terlahir dari rahim ibu. Arman tetaplah Arman yang engkau asuh dan jaga. Arman tahu, ibu saat ini sedang merindukan Arman. Iya kan Bu? "
" Nggak ! "
Justru kata-kata ibunya malah membuatnya semakin emosional. Frontal memeluk ibunya dengan erat. " Bu, Arman kangen banget sama ibu. Biarlah bila ibu tidak kangen sama Arman. Lagian Arman memang tidak pantas untuk di rindukan. "
" Arman. " Menitikkan air matanya.
" Bu.. Arman baik-baik saja. Ibu lihat? Setelah kepergian Wina dan juga Mutia dari sisi Arman. Usaha Arman menjadi berkembang pesat. " Mencoba menghibur dirinya sendiri. Kepalan tangannya menahan tangis yang ingin keluar lebih dan lebih lagi.
" Nak.. " Mencoba menyentuh kepala anaknya dan memandang lekat mata anaknya dari dalam.
Kamu benar-benar menyesalkah? Atau hanya keegosian saja? Hanya karena ingin memiliki keturunan. - Batin ibunda Mutia.
" Bu.. Jangan pandang Arman Bu. Arman sedang jelek-jelek nya kali ini. Banyak ingus yang meleber kemana-mana. "
" Ini. Lap dulu. " Memberikan sapu tangan itu. Wangi khas yang sangat di rindukan Arman. Wangi ini yang mampu membuatnya tenang.
" Ibu, dimana Mutia? "
__ADS_1
Sekejap saja mata A'yunina terbelalak. " Haah? Apa nak? Mutia? "
" Iya Bu. Dimana Mutia? "
A'yunina seperti sedang menyerahkan nyawa kedalam kandang macan. " Mana ibu tahu? Kan kamu suaminya? "
" Bu.. Mutia hilang Bu. Mana mungkin ibu tidak tahu? "
" Arman, ibu benar-benar tidak tahu. "
Pandangan Arman teralihkan. Memandang raut wajah Dewa yang seperti menunjukkan wajah kegelisahannya. " Kamu kenapa Dew? "
" Eh.. Saya? Sa-yaaa.. "
" Kenapa kamu tanya Dewa? Dia pasti juga tidak tahu. "
" Bu, kepergian Mutia sudah sangat lama Bu. Aku tidak ingin anak-anakku yang dibawanya sampai tidak mengenali siapa ayah mereka. "
CK ckck.. Kau hanya mengkhawatirkan anak-anakmu saja pria bodoh. Batin Dewa.
" Nak.. Mutia butuh ketenangan. "
Deg !
Haduh.. Ini mulut kenapa, nggak bisa ngerem sedikit saja. Paling nggak sampai lewat leter S lah.
Dewa, bagaimana ini? - Tanyanya melalui isyarat mata.
Saya juga tidak tahu nyonya. - Dewa malah menggelengkan kepala.
" I-iiyyaa i-ibbuu tahu. " Dadanya terasa akan sesak. Beberapa hari yang lalu, baru saja ia mencoba menyelamatkan Mutia. Tapi, malah hari ini dia sendiri yang ingin membocorkannya.
" Katakan Bu.. Dimana Mutia berada? "
" Ibu tidak ingin memberi tahu mu sekarang nak.. Persidangan akan mulai berjalan. "
" Aku akan mencabutnya Bu. Lagian, laporan itu bukanlah aku yang memasukkannya ke pengadilan. Ada seseorang yang dekat dengan kita mencoba menjadi pahlawan kemalangan. "
Apakah tuan muda tahu sesuatu? .- Tatapan Dewa mengarah seperti memandang seekor anak tikus dari atas langit.
" Apakah ibu boleh berbicara jujur? Sebenernya.. "
^^^Flash Off**^^^
" Tidak ! Kau pasti bohong ! "
__ADS_1
" Buat apa aku bohong? Aku masih menyayangi kedua baby kecilku. Untuk apa aku bercerai? Yang ada kau akan jadi serakah dan tidak mau membaginya. Lebih baik dia berada di kota, supaya ayah mu ini bisa bermain setiap hari denganmu. "
" Canda mu. tidak lucu ! ! "
" Hey ! Ayolah sayang.. Aku bukanlah penyair, aku bukan pria puitis. Aku hanya pria biasa, maafkan aku. Aku akui aku memang bersalah dalam hal ini. Apakah kau tidak ingin membuka lembaran kisah baru lagi bersama dengan ku? "
" Tidak ! Kau masih belum cerai dengan Wina. Untuk apa aku kembali dan untuk apa juga aku harus menanggung derita batin yang sampai saat ini belum usai. "
" Aku minta maaf. Aku janji, aku akan menceraikannya. "
" Seseorang yang benar-benar mencintai. Tidak akan memakan janji yang telah dia buat. Aku akan kembali dengan sendirinya. Kalau mas Arman sudah menunjukkan surat cerai itu kepadaku. "
Arman stres sekali saat ini. Keberadaan Wina sampai saat ini belum juga ia temukan. Bagaimana dia bisa menceraikan tanpa ada tergugat. " Hemp.. Gimana kalau kita balik dulu ke Jakarta, nah setelah kita balik. Kita cari Wina dulu. Karena sampai sekarang pun, mas belum menemukannya. Tolonglah Mutia, mas bisa meledak jika sampai tidak membawamu pulang saat ini juga. "
" Satu wanita saja sudah pusing. Ini dua. Mangkanya, kalau bertindak dan mengambil keputusan harus dengan kepala dingin. Jangan mengikuti ego yang ingin bersama Dangan pacar tapi tidak menyadari, jika istrinya juga akan terluka karena ulahnya. "
" Mas benar-benar mengaku salah sayang. "
" Pulanglah mas. "
Satu kata berhasil membuat Arman tidak banyak menuntut kembali. Ia pun bersama ajudannya pulang. " Mas akan kembali lagi dengan surat cerai Wina dan mas. Tunggu mas ya sayang. "
" Tidak janji. "
^^^**^^^
..." Imel, tolong kamu bawa mereka masuk kamar. "...
" Baik Bu. "
Di dalam kamar, Mutia menutup pintunya rapat-rapat.
" Hiks hiks hiks.. Kenapa kau jahat sekali mas. Setelah kau menebar pesona, kau malah menikah lagi dengan wanita yang sangat aku benci tingkahnya. Aku sadar,,, aku memang bukanlah wanita kota. Aku hanya gadis biasa yang tumbuh dan di besarkan dari desa dan kampung yang sangat kumuh. Tapi, apakah cinta itu harus memandang fisik? Apakah cinta hanya berhak di miliki oleh seseorang yang mampu? "
Malam itu benar-benar menjadi malam banjir air mata. Sarung bantal yang basah. Tisu yang berserakan, mata membengkak merah. Dan akhirnya ia pun tertidur.
^^^***^^^
" Bagaimana? " Tanya A'yunina.
" Nihil bu. Mutia tidak ingin pulang bersama Arman. "
" Rasakan itu ! Siapa suruh kamu berbuat yang macam-macam. Tuhan pun pasti setuju dengan jalan yang dipilih Mutia saat ini. "
" Bu.. Tolong bantu Arman kali ini saja Bu. " Berlutut memegangi kedua betis ibu tua itu.
__ADS_1