Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 27.


__ADS_3


LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..


******


Karena tak puas hanya meraba di bagian luar. Arman mencoba melepas kancing baju itu namun tak berhasil. Usaha tak akan mengkhianati hasil, cara apa pun Arman luncurkan demi hasrat yang menggebu agar tertuntaskan. Baju itu ia naikkan, nampak lah dua bukit kembar yang menempel tak luput dari tangan kasar Arman. Mutia hanya memakai mini set untuk dalaman ketika ia tidur.


" Ahhhhhh.. " Raungan lakn*t itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Mutia.


" Teruslah sayang.. Sebut namaku oke.. Hemp.." Arman menjilati seperti anak kucing yang sedang menyusu pada induknya.


" Oh sayang ini benar-benar masih ori. Hup.. " Arman menenggelamkan wajahnya.


Tak puas hanya memainkan itu.. Arman turun untuk melepaskan ****** ***** Mutia.


Mutia hari ini memang memakai rok. Dan ia biasanya jika tidur tidak menggunakan pakaian yang terlalu ketat mangkanya ia tidak memakai celana lapisan untuk roknya itu.


" Tuan jangan!! " Mulai sadar.


Saat Mutia tersadar, dengan secepat kilat Arman melepas CD itu dan kembali ke posisi semula. ******* bibir ranum itu, dan memainkan lidahnya.


Hingga berselang ketika Mutia mulai rileks kembalilah tangan Arman keduanya menaikkan rok itu hingga ke pangkal paha Mutia.


Tangannya masuk. Dan jarinya mulai beraksi.


" Akhhhhhh!! "


Satu sundulan dengan satu jari membuat Mutia menggelinjang hebat. Arman tak puas hingga ia mengeluarkan jarinya dan mulai menjilat jarinya itu dan mencoba memasukkan kembali namun tak cukup satu sepertinya Arman memasukkan 2 jarinya kali ini. " Akhhhhh Arman... "


Suara begitu seksi membuat Arman tak tahan. Adik kecilnya sudah menegang dari tadi. " Sayang.. Aku ingin masuk.. "


" Tuan jangan.. Tidak tuan jangan.. "


Mutia mencoba merangkak mundur. Tapi lagi-lagi kalah cepat dengan Arman. Yang langsung dengan cepat memegang erat kedua tangan itu lalu mengikat keduanya. " Tuan.. Jangan.. "


" Sayang aku sudah sangat rindu. Jangan halangi aku lagi. " Kini tangannya sudah terikat.


Dan malam itu benar-benar membuat mereka menjadi satu. Hak yabg paling di takuti oleh Mutia terjadi.


^^^**^^^


" Morning my Lolly.. " Ujar seseorang itu.


" Sayang.. Jangan bangunkan aku. Aku masih mengantuk. "

__ADS_1


" Bangun sayang.. Ini sudah pagi. Mari kita berjalan terlebih dahulu. "


" Arman, biarkan aku tidur sebentar saja. "


" Wina!!! " Ucap pria itu dengan wajah yang sudah merah padam.


" Iyah. " Wina tersadar.


Astaga kenapa dia berada disini? Dan ini, ini bukan berada di apartemen Arman ya? Oh tidak!! Wina Wina Wina. Jangan membuatnya bertambah marah lagi. Bujuk ayo bujuk dia. - Batin Wina.


" Eh sayang.. Selamat pagi.. "


Namun, pria itu tak menjawab sama sekali. " Sayang.. Jangan marah. Aku tadi benar-benar tidak sengaja sayang. Aku bukannya. "


" Bukan apa! Sayang, disaat aku berada disini kau malah menyebut namanya. " Saga nampak kecewa.


Wina memberanikan diri untuk mendekat dan memeluknya dari belakang. " Aku benar-benar tidak sengaja. Kamu kan tahu sendiri sayang. Aku kan biasa tidur bersama dia sayang, jadi aku.. hiks hiks hiks. "


Saga paling tidak ingin wanitanya menangis.


" Ya ya maafkan aku sayang.. Aku yang salah, please berhentilah menangis. "


" Hiks hiks hiks aku akan berhenti menangis jika kau sudah memaafkan aku. " Sujudnya pada kaki sang pria yang terkesan dibuat-buat.


" Oke oke aku sudah memaafkan mu. Sayang, sudahlah.. Jangan duduk dilantai. Aku kasihan dengan dirimu dan juga anak kita. "


" Maafkan aku hiks hiks hiks.. "


" Sudah-sudah. Aku sudah memaafkan mu. " Ujar Saga, lalu memeluknya dengan erat. Tak lupa mencium pucuk kepalanya.


" Aku mencintaimu sayang. " Bisik Wina.


" Aku juga mencintaimu. "


Baru dengan hembusan nafas saja kau sudah merem melek sayang. - Wina tersenyum.


" Sayang.. Kau ingin makan apa hemp? Biar aku akan mencarikan sesuai keinginan mu. "


" Aku sedang tak ingin memakan apapun sayang. "


" Oh jadi karena itu, pagi-pagi kau sudah menggodaku? Hem.. " Melepaskan pelukannya.


Menggoda sang kekasih adalah kunci awetnya hubungan itu. " Menggoda? "


" Iya, menggoda. Apa kau sedang menggodaku? Kau memelukku dengan erat, sampai-sampai juniorku bangun kembali setelah aku menyegarkan diri. "

__ADS_1


Bahkan aku tiada niat menggoda. Aku hanya melakukan hal reflek saja tadi. - Bantahnya dalam hati.


" Benarkah? "


Saga mulai memajukan langkahnya, sebaliknya Wina malah memundurkan kakinya.


" I..iya benar. Sayang, aku mau mandi dulu. "


" Tidak ada kata penolakan di kamus ku sayang. Kau harus memuaskan ku sekali lagi, setelah itu aku akan memulangkan mu. " Diangkatnya tubuh Wina dan kejadian seperti semalam pun terjadi kembali.


^^^**^^^


" Auh.. " Pekiknya saat ia terbangun.


Mutia menoleh ke arah samping.


Bahkan saat kau tertidur pun, kau masih tetap tampan tuan muda. Sayangnya kau mengambilnya dalam keadaan tidak sadar di tambah kau melakukan itu dengan nama wanita jal*** itu. Tanpa ada cinta, sungguh rumit sekali jalan hidupku. - Batin Mutia.


Ia menyingkap selimut itu, mencoba berdiri walau perlahan. Area sensitifnya masih sangat sakit. Arman sepertinya meminum alkohol terlalu banyak. Hingga melakukan itu kepada Mutia 2 ronde sekaligus.


" Tuhan.. Bantu aku. "


*


Gemercik air saat shower itu membasahi dirinya. Air mata yang mengalir pun tak akan nampak, menurutnya hal semalam yang ia lakukan bersama suaminya itu bukanlah hal yang salah. Itu memang kewajiban dirinya untuk menyerahkannya kepada suaminya sendiri.


Usai mandi, setelah ia berpakaian. Pikirnya hal utama yang ia pikirkan hanya perut suaminya. Mengambil sayuran yang ada di pendingin, lalu mulai memasaknya.


Masakan pun jadi. Ia kemudian mengetok kamar sang suami. Karena tiada sautan, Mutia masuk kedalam kamar. Dan menaruh secarik kertas yang berisikan. { Jangan lupa makan, tuan. Mutia sudah menyiapkannya di meja. Mutia pamit, Mutia ingin ke pasar sebentar. }


Tak berselang setalah Mutia pergi ke pasar. Arman pun bangun, dengan kepala yang masih sangat berat ia rasakan. " Eghhhhhh kepala ku. " Menyentuhnya dengan satu tangan dan yang satunya bertumpu pada meja di samping tempat tidurnya.


Ia merasakan sedang memegang benda yang tak asing. " Kertas? " Gumamnya secara pelan.


" Mau ke pasar saja, lagaknya sudah mau ke mall. " Arman meremas kertas itu lalu melemparnya ketempat sampah.


" Ini ini badan aku kenapa? "


Ternyata banyak cakaran disana yang masih tertinggal. " Cakar.. " Kemudian Arman menyingkap selimutnya fan berlari kearah cermin.


" Ini kenapa? Dan.. Astaga baju ku... " Cairan yang masih menempel di ****** nya menjadi jawaban semua pertanyaannya.


" Aku.. Melakukan itu. Tapi? Dengan siapa? "


Otaknya berpikir keras. Tidak mungkin kan dia berbuat seperti itu kepada Mutia. Ia mengobrak-abrik selimutnya. Dan benar saja...

__ADS_1


" Darah.. " Arman menjadi lemas.


" Tidak.. Ini pasti hanya halusinasi ku saja. " Kemudian ia menutup matanya kembali. Dan mencoba menggoyangkan kepalanya supaya yang ia lihat tadi berubah.


__ADS_2