
Setelah sedikit menjauh dari sang ibu, dia langsung melepas genggaman yang semasa tadi masih menempel di pergelangan suaminya.
" Ada apa mas? "
Berbicara dengan sebuah tangan yang di genggam menguatkan hati semasa masa jika Arman menghempaskan dirinya dan memilih untuk kembali kepada wanita cinta pertamanya itu.
" Mutia... Maafin mas.. "
Mutia tersenyum. " Maaf untuk apa ya mas? Mas tidak salah kok. Mungkin ini sudah jalan takdir Mutia. " Sedikit mengambil nafas. dalam-dalam mencoba menutupi sesak yang ada.
" Mutia nggak apa mas. Mutia sadar diri, Mutia memang dari awal tidak di inginkan oleh mas. Yang mas inginkan cuma mbak Wina saja. Jadi, buat apa mas meminta maaf kepada Mutia? "
( Deg. )
Pernyataan Mutia membuat hati Arman teriris. Selama beberapa bulan ini entah mengapa dia sangat nyaman jika berdekatan dengan Mutia.
Walau, rasa cinta ia pun ragu apakah di hatinya sudah memilikinya atau masih di duduki oleh Wina istri pertamanya yang nyatanya istri ke dua.
" Maafin aku Mutia, mas salah. Mas khilaf. Mas hanya merasa kasihan dengannya. Dia... Hiks hiks hiks... " Tangan Arman lunglai, ia seakan tak sanggup menceritakan segala hal yang ada.
: Lho.. Ada apa dengan mas Arman.. Kenapa dia yang nangis? Kan seharusnya aku yang nangis kenapa malah dia..
Mutia kebingungan dengan sikap Arman.
" Mas ... Mas kenapa? "
" Hiks .. Hiks .. Dia..dia . . "
__ADS_1
" Dia siapa mas? mas... "
Menggoyang-goyang kan bahu mantan suaminya. " Wina .. Dia.. dia telah tiada. "
" Hah... Kok bisa? Kalian bertengkar? Kalian bertengkar gara-gara tadi.. "
" Mas dosa Mutia, mas nggak nolong dia. Dia tewas di tangan kedua harimau peliharaan ku. "
" Ha..harimau. "
Arman mengangguk... " Mas punya harimau? Sejak kapan? "
" Sudah lama, kamu saja yang tidak tahu.. Bagaimana ini Mutia, mas akan masuk penjara karena ini... "
" Coba-coba ceritakan kronologi nya seperti apa? "
Mutia menjadi pendengar yang baik.
" Tapi.. Bagaimana dengan keluarga Wina? "
" Kita beritahu saja mas, mau di tutupin pun tidak akan bisa selamanya rapat mas. Lebih baik jujur ketimbang membuat hal yang tidak benar dengan berbohong. "
" Tapi mas takut Mutia.. "
" Mas.. Manusia tidak boleh takut kepada apapun kecuali sang peniup ruh kita. Kalau kita tidak takut mungkin saja tiba-tiba ruh kita di cabut langsung. "
" I..iya sih. " Arman menggaruk kepalanya.
__ADS_1
" Sudah ya... Sebaiknya mas siap-siap. Kita akan ke rumahnya mbak Wina. "
" Tapi... Apakah orang tua Wina ada di rumah? Mereka sering sekali keluar kota sayang... "
" Apa salahnya kalau kita lihat kesana dulu. Mana tahu mereka ingin membuat kejutan kepulangannya. "
" Iya. "
Mansion utama keluarga Wina.
" Mas.. Apakah kita melakukan yang benar? "
" Benar, bagaimana?
" Dengan pulang secara mendadak seperti ini? Tanpa mengabari Wina? "
" Namanya juga kejutan ma, nggak akan ada salahnya dong .. "
" Hufftt... Iya. Ya sudah, mama mau masak dulu. "
" Nggak usah, biar para maid yang mengerjakan semuanya. "
" Tapi... "
Wanita itu tidak berkutik lagi, ia duduk di samping suaminya. " Huh.. Gerahnya... " Sambil mengendorkan ikatan dasinya.
Wanita itu merubah suhu AC dengan begitu sang suami tidak lagi kepanasan.
__ADS_1
" Mas... Ani pijatin ya? "
" Nggak usah, ma. Lagian mama juga capek kan pastinya. " Tolak secara halus.