
Setelah memeriksa, benar yang di katakan sesosok lelaki yang berada di depannya.
" Ibu-ibu.. Lihat ya lihat.. "
Mengeluarkan salah satu sarung dan juga baju Koko atau baju muslim orang desa menyebutnya kepada ibu-ibu yang lainnya agar mereka percaya. Dan tiada dusta di antara satu dan yang lain.
" Maaf ya nak bintang, saya nggak bermaksud untuk meragukan kamu. Cuma saya.. "
Bintang mengerti dan menerima uluran tas yang ibu itu berikan. " Nggak apa kok Bu. Bintang ngerti, ibu hanya ingin berbuat yang adil. Kalau begitu bintang permisi dulu, dan terimakasih sudah menyelamatkan tas saya, assalamualaikum. "
Senyumannya yang sangat ramah jarang sekali ada peringai seorang lelaki remaja saat ini.
" Iya, nak sama-sama. "
Dan yang berbadan gempal membalikkan badannya. Kelihatan penuh dengan amarah, seperti tengah baju yang hendak ia gulung saja ingin menghajar entah Nuni atau pencuri itu sendiri.
***
FlashOff.
***
__ADS_1
" Boleh, boleh saja kalau kamu ingin menjadi asistennya mbak... Tapi, tugas kamu menghandle semuanya selama 3 bulan. Jika kamu berhasil, maka saya akan mengangkat kamu sebagai asisten saya. "
Bukan tanpa alasan Mutia mengatakan itu semua.
: Aku tahu jika kau ingin menghabiskan waktumu bersama anak-anak mu yang memang sangat membutuhkanmu, mbak. Kelak, jika aku sudah bisa memimpin ini semua engkau tak perlu bersusah payah memikirkan ini.
Bintang menanggapinya dengan senyuman.
" Baiklah mbak. Jika mbak menginginkan aku seperti itu. Mbak tahu sendiri bukan, kalau seorang bintang tidak akan pernah ingkar janji. Tapi, jika lebih awal aku dapat mempelajari ini dan memimpin ini semua dengan baik... Ijinkan seorang bintang yang mbak anggap anak kecil atau bahkan adik mbak sendiri mengisi hari-hari mbak yang kosong dan juga menjadi ayah sambung bagi Al dan El. "
( Deg. )
" Hahahaha.. Baiklah. Mbak setuju, jika kamu sanggup dalam satu bulan. Kalau.. Kamu tidak sanggup ? "
: Menantang ganda kah?
Batin bintang yang tak takut dengan apapun. Sekalipun harus mengorbankan nyawanya demi orang yang ia sayang.
" Aku.. Ya jelas memilih menjadi ob aja mbak, ketimbang menjauh dari kalian. Rasanya.. "
" Hihihi.. Hihihi.. "
__ADS_1
" Oaaa...oaa... "
Suara tawa yang membuat mereka menoleh. Suara balita yang satu menangis dan yang satunya tertawa.
" Sudah-sudah.. Jangan menggombal, bantu mbak menggendong salah satu dari mereka. "
Bintang dengan semangat pergi meninggalkan Mutia. " Hei hei.. Kau mau kemana? Bantu mbak dulu, hey ! "
" Toilet mbak.. "
" Hey ! ! Toilet bukan sebelah sana, tapi sebelah sini. "
Oh good. Bintang sepertinya telah terkecoh dengan warna pintu yang terlihat seperti pintu kamar mandi.
" Eh iya iya.. "
" His dasar sok tahu. Begitu mau mencoba satu bulan, dasar sang peremeh pekerjaan. Kita lihat saja bagaimana kau bisa mempelajari ini semua dengan waktu satu bulan. Kau yang menawarnya bukan aku yang memberikan waktu tersebut. "
Tapi, di satu sisi Mutia bingung. Bagaimana jika bintang berhasil dan dia.. dia harus ...
: Hah masa bodoh. Jika harus menjalin hubungan dengan bintang tak masalah. Toh dia baik pria yang bebas dari perempuan mana pun. Jika dia pria hidung belang mungkin aku akan memikirkannya berulang sebelum ijin aku keluarkan dari mulutku ini.
__ADS_1