
Tingkah seperti anak kecil yang tidak ingin berpisah dari induknya.
" Ih ih ... Jangan dekat dekat mas. " Merasa risih tapi sebenarnya nyaman.
" Kenapa sih... Mas kan cuma kangen sama kamu sayang. "
Deg..
Hati Mutia sedikit mencair.
" Kamu nggak lihat? Noh banyak orang yang lihatin kita. Jangan bertingkah, mas mau aku dan anak-anak balik ke desa lagi? "
Ancaman yang begitu ampuh dan membuat Arman melepaskan rangkulannya dari bahu Mutia. " Hia hiya... "
Tapi.. Kalau di rumah bisa bukan?
Bisikkan Arman.
" Nggak ! "
...----------------...
Rumah megah.. Yang di rindukan namun ia harus tahan. Tinggal di tempat yang asing bagi seseorang wanita hamil tidak mudah.
" Rumah ini tidak pernah berubah.. "
Melihat Mutia yang ingin menangis.
" Sudah. Maafkan aku... Jangan mengingat itu lagi. " Menghapus air mata Mutia.
" Hiks hiks hiks.. " Tak tega, Arman langsung menarik Mutia kedalam pelukannya.
" Maafkan mas. "
" Hiks hiks hiks iya mas. Iya, tapi.. Tidak semudah itu. "
" Mas akan berusaha sekuat tenaga membuat kamu mencintai mas lagi. "
" Janji? Jangan kecewakan Mutia lagi mas. Mutia lelah. "
" Nggak akan. Sekarang kita masuk ya... Yuk anak-anak Daddy juga masuk yuk masuk ... "
Untuk sejenak Mutia ingin melupakan yang pernah ia alami beberapa bulan silam. Yang membuatnya akan takut tentang pria. Ya.. Menjalin hubungan yang istimewa misalnya... Jika hanya teman saja.. Mutia tak akan menolaknya. Karena baginya, pertemanan itu sangat penting. Kerena dulu, ia sempat tidak di beri kesempatan memiliki banyak teman pada anak umumnya. Membantu berjualan, atau membantu ibunya mencuci pakaian milik tetangga.
" Putri.. Put.. Tolong ambilin centong kayu buat ibu dong? "
Terdengar suara ibu-ibu yah.. kalian tahu sendiri itu pasti A'yunina. Berdua saja, tidak masalah. Karena pembantu mereka ada di paviliun.
" Makasih ya nak.. Kamu memang paling pengertian deh kalau di suruh apa-apa sama ibu. " Ucap ibunya saat melihat centong nasi dari sudut yang lain.
Namun, mata itu baru menyadari.
" Nak.. Sejak kapan tangan kamu begini? Nggak biasanya urat kamu nampak? "
__ADS_1
" Ini memang bukan Putri ibu.. Ini Mutia. "
Saat suara itu berhasil membuat ibu A'yunina mendongak. " Mu...Mutia... Nak.. Ini.. Ini.. " Terharu dan ia pun menangis sejadi-jadinya.
" Hiks hiks hiks.. Apa kabar kamu nak.. Kamu nggak marah kan sama ibu? Ibu hanya.. "
" Sssttttssss... Sudah ya.. Sudah jangan nangis lagi. Mutia nggak akan pernah bisa marah sama ibu. Ibu adalah orang yang telah melahirkan Muti. Bagaimana mungkin Muti akan marah? Ibu.. Melakukan semua itu hanya demi Muti tidak sakit hati bukan? Mutia tahu Bu. " Dengan senyum yang sangat merekah.
Merenggangkan tubuhnya dan mengelap air mata yang turun pada pipi yang sudah tidak muda karena kerutan di wajah.
Dari belakang.
" Heh ! ! Siapa kamu ! Kamu apakan ibu ku ! ! ! "
Nak macan yang baru saja keluar dari kandang.
" Ibu.. Sudah ya Bu.. Jangan nangis lagi. Nanti biar kak Arman saja yang mengurus perempuan ini. " Memeluk ibunya.
Wanita itu masih menunduk dan belum mendongak.
" Silahkan. Kakak menginginkanmu untuk memarahi kakak. "
Mendongak. Barulah ia sadar, hal apa yang membuat ibunya menangis. " Kakak.. " Masih tak percaya.
Kakaknya yang selalu dia mimpikan selama Mutia menjauh darinya dan ibunya.
" Ibu.. Ini nggak lagi mimpikan? Kalau memang Putri mimpi.. Jangan pernah bangunkan Putri ya Bu.. "
" Apa sih kak ! Please deh.. Jangan ganggu dulu. Sana sana.. " Mendorong kakaknya supaya menjauh.
Setelah beberapa detik.
Barulah dia sadar, apa yang dia lakukan tadi bukanlah mimpi. Berarti yang berada di depannya juga bukanlah ilusi. " Kakak.. Ini benar kau? " Ia menepuk pipinya lagi karena ia takut terbawa oleh rasa rindu.
" Tentu. Ini kakak mu, adik. "
" Oh kakak... Kenapa kau baru mau kesini setelah sekian lama.. Huhuhu.. Aku rindu dirimu. Tahu kah kau? Kakak menjadi orang gila saat kau tidak ada di sini. Tidak mandi tidak mencukur kumisnya... " Sontak ceplosan itu membuat Arman ingin menyumbatnya dengan dua potong apel.
" Awuk awuk awuk.. " Penuh terisi dan mulutnya tidak bisa berbicara sembarangan lagi.
Tatapan tajam menghadap kepada Arman.
Awas kau kak ! Aku akan balas ini.
" Mas ... Kamu ini. Kita baru saja berkumpul. Tapi.. "
" Maaf kan aku.. "
" Baiklah. Aku memaafkan mu. Dimana anak-anak kita? "
" Mereka ada di kamar mereka. Biarkanlah mereka istirahat. Kau tidak perlu khawatir, perawat bayi yang aku pilih merupakan paling terbaik se-asia. "
" Huh.. Ya sudah... Aku ingin istirahat dulu di kamarku. "
__ADS_1
" Yah.. Cepat sekali? Aku baru saja ingin mengajak kakak ke mall. "
" Putri.. Biarkan kakakmu istirahat sejenak. Perjalanan yang di lewat bukanlah sebentar. "
" Huh ! Baiklah Bu. "
...----------------...
Mutia menuju kamarnya. Kamar yang dimana dia rindukan selama ini. " Semua tidak pernah berubah. Malah semakin indah. " Tersenyum.
" Kau suka? " Memeluk Mutia dari belakang.
" Mmmm...mas.. " Gugup.
" Kenapa? Kenapa kau gugup seperti itu? "
" Mas, menjauh lah dari ku. Aku merasa ini sangat risih. "
" Hey ! Kau tak berhak melarang ku. Aku ini masih ' sah ' menjadi suamimu. "
" Tidak. Aku ingin kau mengucapkan janji pernikahan yang baru. Dengan binti yang berbeda. Dahulu... Ketika kau menikahi ku, kau tidak mencintaiku dan hanya rasa bersalah saja. "
" Tapi.. "
Melepaskan pelukannya dan Mutia pun berbalik. " Jika kau tidak menginginkannya. Maka kau sama saja tidak menginginkan kami untuk kembali di sisi mu, mas. "
" Baiklah. Aku akan membuat pernikahan kita sangatlah mewah dan di hadiri oleh para pejabat dan juga artis. "
" Terserah padamu. Tapi, bisakah kau keluar sekarang? Aku tidak mau berduaan dalam kamar bersama dirimu. "
" Baiklah. "
Aku akan sabar menantimu. Bila esok hari adalah hari yang sangat bahagia bagi dirimu dan anak-anak kita, aku rela berkorban.
Arman pun meninggalkan Mutia di kamar itu sendirian. Ia turun menghampiri ibu dan adiknya. " Loh mas? Kenapa? Di usir kak Mutia ya? 😂"
Tatapan tajam seperti es.
" Kau kira adikmu ini akan takut lagi padamu mu mas? Oh tidak. Semenjak kejadian mas menyakiti kakak ku. Aku mengubah persepsi ku, dan tidak takut lagi padamu. Lelaki yang tidak bisa di pegang teguh oleh satu orang wanita. "
Blush.. Kata-kata itu ringan bagi Putri saat dia mengucapkan. Namun, hati Arman tercabik-cabik saat mengingat momen itu.
" Sssttsss.. Sudah de, jangan pancing masalah lagi. Benar kata adikmu? Kamu di usir? "
" Nggak Bu. "
" Lalu? Kalau memang di usir. Ibu yang akan membujuk Mutia supaya memaafkan mu lagi. "
" Dia akan memaafkan Arman kalau akad yang kemarin kami lakukan di ulang. Beserta pesta para tamu undangan. " Ujar Arman
___
SEMINGGU INSYAALLAH 1 BAB 🤠shio lagi ketagihan baca timbang nulis.. kalau ada asisten enak 🤣
__ADS_1