
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
****
Seperti sedang membaca mantra.
" Ya udah deh, terserah Kakak aja. Putri mau lanjutin makan siangnya Putri. "
Baru saja Arman hendak mengucapkan *selamat makan.*
" Stop! Putri sedang makan, dan tak ingin di ganggu. Okeh!! " Pria-pria cool itu mengangguk.
Setelah melanjutkan makannya, ia kembali ke kamar. Namun, siapa sangka? Gadis cantik ayu nan rupawan sedang berdiri dihadapan kaca. Nampak jelas disana ia tengah berusaha menaikkan model baju nya. Namun, berulang kali gagal ia usahakan.
" Ehemmp!!! "
" Tu...tuan. " Deg deg deg deg deg deg.
Kenapa tuan mendekat? Jangan bilang ia ingin meminta haknya malam ini? Aku belum siap. - Meremas ujung gaunnya.
" Cih dasar kampung!! "
" Maksud tuan apa? Saya memang dari kampung tuan, tapi jangan semena-mena begitu. "
" Kalau nggak mau dibilang kampung! Jangan kau naikkan itu baju! Itu mamang seperti itu modelnya. "
Oh maksud dia itu. Tapi, kenapa musti nyolot sih! # Sebel kepada Arman.
" Tapi tuan, kenapa tuan nadanya seperti orang kesal aja. Mutia kan hanya mengenakan baju yang ada di lemari. Kalau tuan tidak memberi ijin, biar Mutia ambil baju-baju Mutia yang lama di kamar ibu. "
" Mangkanya! Jangan terlahir dari kampung! Biar nggak ribet sendiri sama baju. "
Aduh tuan, kalau ngomong bisa nggak sih jangan sudut kan orang. Ih untung kau suamiku! Kalau nggak ku, ku apa ya? Aduh wajahnya sangat tampan. - Batin Mutia.
" Kenapa melamun? Cepat keluar sana, kalau kamu tidak nyaman menggunakan pakaian itu jangan kenakan. Masih banyak baju di mall milik saya. Nanti saya akan menyuruh orang membawakan. Dasar kampung!! "
" Baa..baik tuan. "
Meski ucapannya menusuk di hati, dia tak mempermasalahkannya. Begitu Mutia keluar dari kamarnya, ia terkejut melihat sosok asing di hadapannya.
" Kakak ipar.. " Berlari sambil merentangkan tangannya.
Mutia yang reflek langsung memeluknya. " Kakak, ceritakan pada Putri. Bagaimana kalian bertemu? "
Pertemuan.. Pertemuan yang sangat buruk. - Batin Mutia.
" Ehmmpp..itu.. "
__ADS_1
" Sayang.. Ibu masih kangen sama kamu. Kenapa, eh ada nak Mutia. "
" I..iya Bu. "
" Ibu ih, Putri kan hanya pengen kenal lebih jauh sama kakak ipar. "
Kamu memang harus mengenal kakak mu dengan baik nak. Firasat seorang ibu tak akan mungkin salah. Tapi, bagaimana aku mengetes DNA? Kalau rambut atau apa yang berkaitan saja belum aku dapatkan?- Batin A'yunina.
" Benar begitu, Mutia? "
" Iya Bu, benar. "
" Ya sudah, ibu mau istirahat di kamar. Kamu lebih baik temani kakak mu ini makan. "
" Siap bos. "
^^^*^^^
Di kamar, setelan jas sudah rapi ia kenakan. Padahal jam kantor baru akan ada 1 hari lagi. " Sebaiknya aku temui Wina sekarang. Dari pada nanti-nanti, dia pasti akan tambah marah. "
Begitu Mutia selesai makan malamnya, ia langsung mendapati sosok suaminya yang sudah berpakaian dinas kembali.
" Kakak!! Coba jangan kerja kerja dan kerja! Kasihan kakak ipar kalau kakaknya aja kabur terus. Lalu, kapan Putri akan menggendong ponakan. "
Pletaakk !!
" Benarkah? Alhamdulillah, akhirnya kakak ku sadar. Ada wanita yang jauh lebih baik dari pada dia. "
" Dia? Dia siapa maksud kamu? "
" Hehehehe bukan apa-apa kak. Terus, Putri boleh ikut nggak? "
" Dik, katamu kakak harus membuatkan ponakan untuk mu. Tapi, giliran kakak mau berkenalan lebih lanjut. Kamu nya malah begini. "
Deg!
Perkataannya benar? Atau hanya sebuah kata manis yang akan menyenangkan adiknya saja? Mutia, kamu tahu benar bagaimana sikapnya selama yang pernah kamu temui. Sikap arogansinya tidak bisa lepas begitu saja. Ingat itu Mutia!!! - Mutia langsung menggeleng, menepis segala pikiran yang tak akan mungkin terjadi.
" Hehehe bercanda kak. Ya sudah, kakak ipar. Kakak ikut saja sama kakak ku yang paling tampan sejagat raya ini. "
Mutia hanya mengangguk. Dia masih terbilang kaku, namun kalau ia tak menuruti perkataan adik iparnya ini. Maka, suaminya pun akan memarahinya.
Mobil mewah yang dimiliki Arman cukup banyak. Bahkan sejenis mobil kelas presiden pun ia memesannya untuk menghadiri acara-acara penting.
Di tengah malam, menyusuri jalan. " Maaf, tuan. Kita mau kemana? "
" Nggak usah banyak tanya! Nanti kamu cukup diam disini, tunggu saya balik lagi. "
Mutia tak bodoh. " Tuan, apakah nanti tuan akan menguncinya dari luar? "
__ADS_1
" Tentu tidak. "
" Boleh pinjam kunci mobilnya, tuan? Saya takut jika harus menunggu tuan, dan saya ada keperluan sendiri. "
Sesampainya di depan apartemen. Mobil ia parkir sengaja di seberang jalan, agar Mutia bebas jika ingin mencari makan.
Arman turun, sebelum ia turun ia memperingatkan sebuah kunci yang berfungsi mengunci mobil itu dengan remote. " Kamu tekan ini, jika nanti kamu ingin keluar. Dan ini jika kamu ingin masuk kembali. Dan kamu butuh uang jajan nggak? "
Sebenarnya butuh, tapi nggak butuh banget. - Batin Mutia.
Tak tega atau merasa pernah dalam posisi itu. Arman memberikannya 2 lembar kertas berwarna merah.
" Segini cukup kan? "
" Cukup, tuan. "
Saat Arman membuka self belt nya, Mutia mendekat. " Mau ngapain kamu! Saya bisa melepas sendiri. "
" Bu..bukan tuan muda. Saya hanya ingin mencium tangan anda saja. "
" Untuk apa! Saya bukan suami kamu sebenarnya! Kita hanya melakukan pernikahan inj dalam keterpaksaan. Jadi, saya minta,- "
" Tapi tuan, saya tidak bisa melanggar ini. Suatu ketidaksopanan saya, sebagai istri. Kalau tidak mencium tangan anda, tuan. "
Ia sebenarnya pernah melihat kedua orang tua angkatnya melakukan itu. Tapi, pernikahan kedua orang tua angkatnya merupakan pernikahan yang saling mencinta. Sedangkan dirinya, mencintai saja tidak. Apalagi menjalin hubungan melebihi ini. " Huh! Sudahkan!! Jangan mengharapkan cinta atau apapun yang melebihi ini. Karena semua itu tak akan pernah mungkin terjadi. Mengerti!! " Ujar Arman setelah ia membiarkan Mutia mencium tangan kanannya.
" Baik tuan, saya tidak akan mengharapkan yang lebih dari pada ini. "
Arman keluar setelah mengecek penampilannya di spion mobilnya.
" Tuan, seandainya kita menikah karena cinta. Mungkin semuanya tak akan berjalan seperti ini. "
Hari sudah semakin larut, jalan sudah mulai terisi oleh gerobak-gerobak yang mencari nafkah untuk anak dan istri mereka.
Krukukkkk krukukkkk.
" Uwhhh perut ini. Kenapa selalu berbunyi sih? Ais lapar. "
Padahal ia tadi sudah keluar untuk buang air kecil, dan ia masuk lagi karena ia tak lapar. " Makan apa ini enaknya? "
Mengintip dari balik jendela mobil.
" Cilok, batagor, nasi goreng, haduh kenapa makanannya itu sih.. " Dari sebelah kiri ia melihat, bergantian melihat ke kanan.
" Wah ada sate.. "
Mutia turun, tak lupa ia menekan tombol itu. Tiuttt tiuttttt.
Dengan wajah sangat merona, seperti sedang mendapatkan harta karun yang tersembunyi.
__ADS_1