Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 48.


__ADS_3

" Bantu apa? Mencari ibumu? Ibu sudah menemukannya. "


Deg !


Arman tersentak oleh jawaban ibu mertuanya.


Ibu kandungku? Ibu sudah menemukannya? Sejak kapan?


" Maksud ibu? "


" Iya, ibu tahu kamu sangat ingin bertemu dengan ibumu. Tapi, kamu yang sabar ya.. Ibumu sudah meninggal. "


" Arman tahu kalau ibu Intan memang sudah meninggal. Tapi, yang Arman tanyakan.. Bagaimana keadaan ayah? "


" Ayahmu baik, bahkan sangat baik. Dia sangat bahagia saat ibu tirimu melahirkan anak perempuan. "


" Apa! Adik. "


" Iyaps.. Kau benar. "


Dengan santainya A'yunina menceritakan semuanya kepada Arman. " Bahkan ibu tiri mu itu sangat hidup bergelimang harta Arman. Huh ! ! Ibu sampai tidak habis pikir. Ibu mana yang tak memikirkan keadaan anaknya, walau memang bukan anak darah dagingnya sendiri. Tapi, setidaknya dia menerima dirimu. "


" Aku memang tidak heran dengan ibu tiriku Bu. Dia memang sangat tamak mengenai harta. Bahkan nyawa ibuku hilang di tangannya juga. "


Deg deg deg deg !


Jantung A'yunina bergemuruh cepat. Ia tak habis pikir bagaimana jalan ibu tiri Arman. Apakah dia memang wanita yang tak memiliki hati bahkan jiwa kemanusiaan? " Apa kau yakin Arman? "


" Iya Bu. Arman melihatnya dengan mata Arman sendiri. Namun, kala itu Arman masih kecil sekali. Arman tidak berani mengatakan pada ayah. Karena Arman sendiripun di ancam akan di bunuh kalau Arman membuka mulut. Dan benar saja saat Arman berusia 10 tahun Arman di tinggalkan begitu saja dan bertepatan saat-saat Arman ingin memberi tahu ayah. "


" Ya Allah nak.. Malang nian nasib mu. " Peluk erat hangat kecup untuk Arman.


" Balasan dendam mu itu. Beliau sedang ada di kota kita. "


" Apakah ibu yakin? Aku tidak ingin salah melukai orang Bu. "


" Ibu tidak akan salah nak. Dewa sudah menyelidikinya dengan secara akurat. "


" Benarkah? "


" Benar tuan muda. "


^^^**^^^


Arman yang sudah pusing sekali ia memutuskan masuk kedalam kamarnya. Capek lelah letih lesu karena penyemangat nyabtidak ada disini. " Kalian baik-baik saja ya nak? Ayah akan memberes tuntas masalah ini. "


^^^***^^^


Keesokan harinya. Badannya terasa sangat pegal sekali. Panas dalam tubuhnya Kukar karena ia menangis dan di tambah stres yang menderu dalam kemarin malam.


" Lista? Nak? " Tok tok tok.


Tidak ada sautan disana. Mutia tak bisa bangun dari tidurnya. Badannya lemas sekali seakan tak punya tenaga. Untung saja dia membawa Imel. Jika saja dia tidak membawa Imel mungkin saja anak-anaknya bakalan rewel karena ikatan batin seorang ibu dan anak sangat dekat. " Kenapa Bi? " Tegur Imel.


" Ini Mutia. Kenapa dia tidak membuka pintunya? Padahal Mbak sudah mengetuknya dari tadi. "


" Masih tidur kali bi? "

__ADS_1


" Jika tidur, paling nggak dia bilang. ' Bi aku masih ingin tidur. ' "


" Ah terserah bibi sajalah. "


Tanpa ada arahan dari siapapun. Imel. Menghubungi seseorang yang sekiranya dapat membantunya memecahkan masalah ini.


" Halo mas? "


" Iya halo? "


" Mas... Tolong cepetan ke sini. Mbak Lista nggak buka pintu padahal bu Tasya mengetoknya dengan keras. "


" Apa ! Iya iya bentar, saya akan ke situ. "


Hanya mengambil koas dan membasuh mukanya lalu mengambil sepedanya dan meng-goesnya ke tempat praktek Tasya.


" Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. Masuk mas. "


" Dimana Lista? "


Arman memang tak berada di sana tapi, anak buahnya sudah memantau gerak-gerik Mutia di sana. Dengan memasang cctv dan menugaskan anak buahnya untuk berjaga dan mengirimkan setiap hari apa saja yang di lakukan Mutia pasti Arman mengetahuinya.


" Brengsek ! Berani beraninya bocah tengik itu datang ke rumah istriku ! ! "


" Menurut info yang saya dengar. Nyonya muda tidak membuka pintu setelah bibi dari Pak Dewa mengetuk pintu kamarnya. "


" Apa ! Kamu cek ke sana ! Pastikan kalau Mutia baik-baik saja. Saya sedang ada masalah disini. Tolong kamu gantikan saya sebentar untuk mengurus masalah yang ada di sana. "


^^^**^^^


" Tuhan ! ! Masalah apalagi ini. Semoga aku bisa kuat. "


" Ayo nak, katanya ingin menengok ayah mu? "


" Tapi, "


" Kenapa? Katanya mau lihat keadaan ayah kamu? Kenapa kamu malah ragu sekarang? "


" Baiklah Bu. Tapi, jika ayah? "


" Kamu pria bukan? "


Arman pun langsung bangkit dan tidak ingin berdebat panjang kepada ibunya. Ia pun berangkat dengan sopir sekaligus asisten pribadi ibunya dan tentunya di dampingi Nauval.


Rumah yang tidak asing yang pernah ia lihat. Bukan karena berkunjung atau apa itu. Tapi. rumah ini memang pernah masuk kedalam majalah dengan background keluarga PT.Wardhana Group.


" Bu, ini nggak salah? "


Tanyanya untuk memastikan kembali.


" Kenapa? Ini memang alamat yang ibu dapat. Kamu kenapa kaget begitu? "


" Nggak Bu. Mungkin Arman salah melihat saja. " Menutup segala kenangan yang mungkin belum pasti kebenarannya.


" Oh oke. Kalau begitu, ayo turun. Tunggu apa lagi? "

__ADS_1


Para pembantu rumah tangga sedang sibuk, pagi yang cerah ini memang awal mereka mengerjakan sesuatu. " Udin, itu siapa ya? "


" Wah kalau dari mobilnya itu mobil mahal, Jo. "


" Tapikan tuan sedang tidak ada di rumah? "


" Iya sih... Tapi, tidak menuntut kemungkinan tuan akan pulang hari ini. "


" Lho.. Emangnya tidak jadi pergi selama beberapa hari nanti? "


" Jadi. "


Tin tin. Klakson itu membuyarkan keduanya.


" Tarjo ! Udin ! ! Kalian mau saya kenakan sp kah ! Kalian itu harusnya buka gerbang ngapain kalian pakai debat disini ! "


" Haduh iya, iya neng Tari. Haduh jangan galak-galak dong. Abang Tarjo kan calon suamimu. " Candaan itu mendapatkan tatapan tajam. Seperti elang yang mengunci mangsanya.


" Ayo Jo, kita buka pintunya. Kamu ini lho nggak kapok kapok nya godain Mbak Tari. "


" Namanya usaha, Din. Kalau nyerah mah nggak nb B 5laki dong. "


" Yey! Emangnya apa hubungannya nyerah Ama banci. "


Membukakan pagar.


" Selamat siang. Bapak, dan ibu. Maaf mencari siapa ya? "


" Hemp.. Begini, apakah tuan kalian ada di rumah? "


" Haduh nyonya, eh ibu. Tuan besar lagi nggak ada di rumah. Kemungkinan beliau pulang jam-jam 10 malam nanti tapi kamu juga kurang tahu pasti. Tapi, nyonya Merriam ada di rumah. Dan kebetulan juga nona muda Jihana Almira Wardhana ada di rumah. Namun, sedang berenang di kolam belakang. "


" Apakah kami bisa masuk? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan? "


" Boleh. Nyonya tidak akan melarang seseorang yang menggunakan mobil mewah dan juga jas rapi datang berkunjung ke rumahnya. "


" Hais.. Kamu ini terlalu panjang. Ayo bantu aku membuka pagarnya. "


**


" Nyonya, mohon hadir dengan Tari disini. "


" Ya. Ada apa? "


" Ada tamu. "


" Tamu? Kau layani saja dahulu. Aku tidak ingin sedang di ganggu. Atau, kau bisa panggilkan Ana. "


" Baik. Nyonya. "


Tari yang pembantu senior berjalan menuju kolam renang. Namun, di sana tidak mendapati Ana. " Apakah nona sudah selesai berenang? " Berbicara melalui HT yang terhubung oleh 4 pembantu lainnya.


" Tidak. " Tarjo.


" Tidak. " Udin.


" Nampak Mbak. Nona,- "

__ADS_1


__ADS_2