
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
Arman setelah mendapat kabar, bahwa.. Orang yang sangat ia sayangi sedang menghadapi masalah. " Assalamualaikum! "
" Bagaimana ini bisa terjadi! Bi!!! "
Habislah aku. - Batin Mirna.
Datang sih sudah benar, mengucapkan salam. Tapi, nggak juga harus pakai nada kenalpot juga. Langsung naik pitam. - Batin Mutia.
*
" Den.. Maafin, kami den. Kami benar-benar tidak mengetahui. Apa yang terjadi, namun.. Jika dari pengamatan saya.. Ibu Aden, teringat akan putri tunggalnya. "
Ya.. Ali Arman Daulay memang bukanlah anak kandungnya. Ia adalah korban dari anak yang dibuang. Entah siapa yang tega membuang diantara balita yang berusia 5 tahun. Sungguh kejam, namun pelaku itu belum juga terungkap. Karena proses melahap melahirkannya pada suatu desa yang belum terjamah oleh Cctv, yang saat ini dengan mudahnya mengawasi orang sekitar.
...-->>Balik ke cerita.<--...
" Astagah! Bu, ibu. Jangan menangis lagi, Arman akan selalu ada buat ibu. Heh! Kamu!! "
Barulah Mutia mengangkat dagu runcingnya. " Iya, tuan. "
" Kamu apakan, ibu ku!! " Bentak Arman.
Walau dia bukanlah anak kandung dari A'yunina, dan darah memang lebih kental dari pada air. Arman memang bukan anak kandung melainkan anak yang di temukan pada 10 tahun yang lalu , namun.. Ia sangat lebih menyayangi ibu Ayuni. Seseorang ibu, yang ikhlas merawatnya hingga besar.
" Aku, tuan? "
" Iya, kamu! Kamu kan yang beberapa waktu lalu ketemu ibuku, dan seketika itu pula ibu ku langsung menangis. "
" Tuan, jangan asal nuduh aja dong! Saya nggak ada sama sekali pegang. Bahkan berbicara dengan ibu ini saja saya baru sepatah dua patah saja. "
" Halah!! Mana ada maling yang teriak maling. Mirna, Marni! Sekarang hubungi polisi! Aku nggak mau, wanita jelek kaya dia.. Harus berhadapan lagi di rumah ini. "
" Tapi, tuan. Mutia tidak melakukan apa-apa. Yang Mutia katakan, benar apa adanya tuan. "
" Disini yang majikan itu, saya. Atau KAMU. Hah!! "
" Maaf tuan. Saya salah. "
Tak lagi-lagi Mirna berbicara. " Tuan.. Bagaimana jika tuan melihat rekaman Cctv saja. Tuan, bibi saranin sih.. Jika laporan tuan, terbukti benar. Saya sih, tidak keberatan. Tapi, jika dalam posisi ini. Tuan, yang bersalah. Maka, nama dan rekan bisnis tuan. Pasti akan sangat enggan bekerjasama lagi dengan perusahaan. "
" Tau apa kamu!! Baiklah, buatkan aku kopi, sambil aku mecari data yang akurat tentang cewek ini. "
Cekrek..
" Tu..tuan. Anda..anda tidak sopan. Mengambil gambar seseorang tanpa ijin, akan ada pasalnya. "
__ADS_1
" Aku tidak, PEDULI!!! "
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mutia akhirnya terbukti tidak bersalah. Walau. ia sempat mendapatkan beberapa hinaan atau bahkan ejekan yang mungkin saja bisa menyakiti hatinya.
" Ya Allah.. Mimpi apa aku semalam. Kenapa aku sampai berpikir, melamar kerja di rumah keluarga Daulay. "
Kekesalannya ia tumpahkan pada kaleng bekas yang sudah tak berisi lagi. " Huh!! Dasar, orang kaya!! Lihat saja, jika aku menjadi kaya... Aku akan, memerintahnya!! " Kesal Mutia.
Kepastian akan, di terima atau tidak? Mutia tidak berharap banyak. Pasalnya ia tahu benar, jika anak keturunan Daulay. Sangat-sangat membencinya. Otomatis dia pasti tidak akan menerimanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kelamaan menangis, membuat kondisi ibu A'yunina menjadi drop. Bahkan ia sampai tak sadarkan diri. Bahkan 2 hari lamanya, Arman sampai tidak fokus pada meeting nya kali ini
" Naufal! Fal!! Sini!! " Teriaknya.
Naufal sedang berada di kantin dan sedang menggoda para mahasiswi yang sedang magang. " Hey cantik.. " Ujar Naufal sambil membawa sebuah cup berisi jus mangga.
" Eh, ha..hay juga. Pak...pak Naufal, bukan?? " Gugup. Orang setampan Naufal, siapa sih seorang hawa yang mana tidak terpincut pada dia.
" Iya, saya Naufal. Saya boleh gabung nggak?-dengan kalian. "
" Bo..boleh kok pak. Kalau kami sih tidak keberatan, malah serasa beruntung soalnya... "
" Jarang-jarang ada cowok ganteng. "
Astagah cewek-cewek baru gede ini sungguh teramat lebai. - Batin Naufal.
" Pak, Naufal. Permisi. " Dengan sedikit sopan. Ia tahu akan keadaan jam kantor. Jika pada jam normal. Dia akan bersikap seperti macam yang kelaparan.
" Ya, ada apa? "
" Bapak, di panggil bos. "
Baru saja Naufal hendak mendudukkan bokongnya pada kursi panjang itu. " Ais! Ada, apa lagi!!! Bukannya kata bos, dia yang akan memimpin meeting kali ini. "
" Saya juga tidak tahu pak. Pak arman langsung keluar begitu saja lalu berteriak. Dan ini inisiatif saya sendiri, dari pada bapak kena batunya. "
" Heh! Kamu sumpah-in saya, hah!!! "
Sabar sabar, Tia. Ingat, ini adalah kantor. Jika ini adalah area ring tinju, kamu bisa menghajarnya dengan habis-habisan. - Batin Sintia Maheswari.
" Ng...nggak pak. Saya, nggak bermaksud seperti itu. "
Naufal langsung pergi dan menemui Arman.
" Ada apa bos? "
__ADS_1
" Ada apa? Ada apa? Kamu lihat ni!!! Tulisan kayak ceker ayam begini kamu suruh baca saya? "
" Aduh.. Bos. Itu bukan tulisan saya. Itu si Tia, yang nulis. "
" Ya sudah, panggil sekertaris kamu kesini. "
" Baik bos. "
Ia membuka pintu ruangan, lalu menggenggam tangan Tia. Ia paksakan supaya Tua masuk.
" Aduh Auh.. Sakit! Pak, jangan kasar-kasar. Kita main slow mention saja. "
" Nggak! Nggak ada hadiahnya buat apa main begitu? "
" Tapi, pak? "
" Hei!! Kalian berdua! Lebih baik, kalian masuk. Dan ya.. Jangan lupa ya.. Kalau kamu dan Naufal, akan menggantikan saya di dalam. "
" Apa, pak?? "
" Ssssttttsss!! Jangan membantahnya. Kalau kita sampai membantahnya, walaupun sekali yang pernah aku lihat. Pak Arman sangat-sangat mengerikan. "
Gluk.
" Saya mau keluar dulu. Pokoknya, saya tidak ingin tahu! Kerjasama ini harus lancar dan berhasil di atas kontrak. Saya pamit. "
Arman melajukan mobilnya.
Sementara dua orang yang saling bertatapan, seakan beranggapan sama. " Tulisanku, bagus. Lalu, apa salahnya? "
" Tulisan kamu, memang bagus. Tapi, mungkin saja pak Arman lagu ada masalah. Mangkanya itu, dia langsung buru-buru pergi ninggalin kantor. "
Tia mengangguk. Tebakan Naufal sangat benar. Ia sangat mengenal Arman. Naufal, adalah pria yang selalu berada di sampingnya. Dan terkadang dia juga lah yang harus menghadapi bahaya. Namun, dengan gaji yang di berikan Arman. Mungkin, akan sangat pantas baginya.
...Flashback...
" Dokter... Pasien sudah sadar. " Ujar salah satu perawat yang menangani Bu A'yunina.
" Oh, ya? Saya akan cek tekanan darah dan juga denyut nadinya. "
*
" Denyut nadinya sudah mulai teratur, dan tekanan darahnya sudah mulai berkurang. "
" Dok, dimana anak saya? " Dengan lemas, dan juga tidak terlalu fasih saat oksigen masih menempel.
" Anak ibu.. Nanti, kami akan mengabari beliau. "
" Saya, ingin berbicara dengan anak saya dok. "
" Ibu lebih baik, istirahat dulu. Saya akan keluar dulu, untuk menghubungi anak ibu. "
__ADS_1
A'yunina harus pasrah dengan keadaan. Harus Bagaimana lagi. Ini adlah kali kedua saatnya dan dia bertemu. Entah, ikatan batin apa? Sampai dia, merasakan kecemasan yang berlebih dan membuatnya menangis.