
" Apa ! Kamu jangan main-main anak muda ! ! Saya bisa memenjarakan kamu atas berita yang kamu katakan barusan. "
Ternyata dugaan ku benar. Ayah tak seperti ayah yang dulu. Baiklah, jika kamu meragukan putra laki-laki mu ini.
" Hahahaha ! ! " Tawa itu terasa kosong.
Bola mata itu nampak tak dapat menutupi segala genangan air yang akan meluap.
Ketawa? Apa yang dia ketawa kan? Tiada yang lucu disini ! - Batin Ali.
**
Dasar bocah tengik ! ! Kenapa malah tertawa ! Harusnya kamu berkata jujur. Haduh ! - Emosi sendiri dalam batinnya A'yunina.
" Kamu bicara apa Arman ! " Bisik ibunya.
" Udah, ibu tenang saja. "
Dengan senyum sinis nya, Arman malah justru melepas jad kerjanya dan melemparkan jas itu pada kursi saat genggaman ibunya dan dirinya sengaja di lepas. " Anak muda ! ! " Keras seakan menantang.
" Kenapa? Oh ayolah ayah.. Jangan marah, apakah ayah tidak ingat? Ayah mempunyai penyakit darah tinggi. Hemp.. "
Dari mana dia tahu? Masalah rumah tidak pernah aku ekspos dalam media masa?
" Kenapa, ayah? Jangan memasang mimik yang kaget gitu. Wajar dong Arman tahu tentang ayah. Kan Arman anak ayah, lagi pula... Tanda lahir ayah itu ada di ketiak ayah. "
Hub.. A'yunina menutup mulutnya yang ingin tertawa.
Astaga ! Anakku kenapa se-prontal gini? ?
" Engg..nggak. Kamu tahu dari mana? "
" Aku? Tahu... Ya jelas tahu. Orang ayah selalu temani Arman saat Arman baru mau belajar berenang. "
Dia tahu lagi..
^^^***^^^
Mutia memutuskan untuk menghubungi dewa. Kala itu dewa baru saja selesai meeting menggantikan Arman dan ia di temani oleh Nauval. " Huh akhirnya beres juga. "
" Iya, Lo jago juga ya.. Sampai-sampai tu cewek minta nomer hp Lo.. Huwahahahahahaha ! ! "
Tawa lebar menghiasi raut Nauval.
" Puas Lo ! Ketawa aja yang lebar. "
" Uhuk uhuk uhuk ! ****** lu ! ! Lu kata mulut gue tong sampah? ? "
__ADS_1
" Yah baru nyadar Lo? ? Udah, Lo balik ke ruangan Lo sekarang. Gua mau ke ruangan bos besar dulu. "
" Ya ya ya... Untung Lo asistennya Bu Yuni. Kalau bukan dah habis Lo di bawah gue ! "
Dewa tak ingin terpancing dan memilih untuk mengacuhkan apa yang telah Nauval ucapkan.
Saat ia menduduki kursi CEO yang di sana jelas nampak Ali Arman Daulay. " Huh lelahnya. " Mengendorkan dasi yabg ia gunakan.
Ia menata sedemikian rupa agar nyaman untuk ia tiduri. " Hoam ! Ngantuk nya.. "
" Istirahat sebentar boleh kali ya? "
Ia menghubungi Nauval.
" Iya hallo? "
" Lagi apa Lo? "
" Lo kenapa nanya begitu? Lo masih suka jeruk kan? "
" Apa maksudmu ! Jelas aku masih ingin jeruk. "
" Lalu? Kenapa kau meneleponku? Bukannya tadi kita baru saja ketemu? Masa sekarang dah kangen lagi? "
" Cih ! Itu harapmu ! Dengarkan aku baik-baik ! "
Dewa mengeraskan kepalan tangannya dan gigit itu terlalu menempel hingga membuat kecanggungan menghampiri.
" Begini, tolong jangan ijinkan siapa pun masuk ke ruangan CEO. Aku ingin istirahat sebentar. "
" Astaga .. Iya iya.. Baiklah pak Presdir. Asisten yang merangkap asisten lainnya siap melaksanakan tugas dari mu. Apakah ada yang lain? "
" Hemp.. Tidak. Kurasa cukup. Terima kasih. "
" Sama-sama. " Dengan menirukan suara nenek Ying.
Disisi lain.
" Kemana orang ini? Kenapa dia tidak mengangkat telpon ku? Jangan-jangan ini memang benar? Maka sebab itu,, om Dewa nggak berani angkat telpon dari aku? "
Dor !
Memegang bahu Mutia. " Astaghfirullah bibi ! ! Buat Mutia kaget aja tahu nggak jantung Lista tadi mau copot ! " Merenggut, untung saja anak-anaknya tidur dengan lelap. Walau ada kebisingan jika yang melanda kantuk, tidak akan ada yang bisa melawannya.
" Wah mana-mana? Sini sini, biar bibi lihat. "
Awalnya Mutia senang mengerjai Bibi dari dewa itu...
__ADS_1
" Ih ih ! Bibi kenapa? Ih ! ! Jangan-jangan bibi benar-benar suka sama mas Arman? Makanya bibi terlihat senang begitu? "
" Hahaha suka? Astaga Lista Lista.. Sudah sebaiknya kamu istirahat lah dulu. Jangan banyak-banyak berpikir. Lagian, bibi nggak suka dimana seseorang itu masih sah statusnya menikah dengan orang lain. Dan potongan uang belanja untuk memenuhi anak kandungnya Mbak nggak nggak sanggup. Lebih baik cari perjaka. "
Deg !
Entah kenapa saat ini hati Mutia merasa berbunga-bunga setelah mendapatkan jawaban dari Tasya. " Benarkah? "
" Ya benarkah sayang.. Udah, kamu nggak usah lebai ya.. Bibi mu ini nggak mau menjadi duri dari sekian duri yang pernah ada. "
Muka itu bersemu merah, tomat matang yang terjatuh dari pohonnya. " Astaga Lista.. Muka kamu. "
" Kenapa bi? Kenapa? Muka Mutia ada jerawat ya? "
Tasya tersenyum. " Hahaha nggak sayang. Kamu itu sudah nikah. tapi masih saja polos. Baru saja di goda gitu langsung kaya tomat pipimu. Bagaimana suamimu bisa minta pisah denganmu? "
Nyatanya memang dia berencana menceraikan aku Bi. Merebut hati? Suamiku saja melakukan itu karena mabuk. Dan itu mungkin suatu kesalahan yang paling suamiku sesali. Wanita yang tak dianggap ini.. Wanita yang tak pernah meminta haknya, walau dia ingin.. Ia masih memikirkan madunya.
Raut wajahnya berubah seketika.
" Lho.. Kok wajah kamu berubah lagi Lista? "
" Kenapa? Kenapa tuhan tidak adil kepadaku. Aku sangat mencintainya, tapi.. Tidak ada sedikitpun rasa yang tertinggal di hatinya. Aku harus apa Bi, aku sudah membiarkan dia menikah dengan wanita lain. Bahkan dia tinggal dan berbuat seenaknya Lista tidak pernah protes. Tapi, tidakkah satu balasan untuk gadis malang seperti ku? " Butuh sandaran. Dan Tasya mengerti ia langsung meraih kepala itu agar ber-sender pada bahunya.
" Maaf Lista, bibi tidak ada maksud untuk. "
Mutia bangkit dari senderan nya dan mengelap air mata yang tumpah. " Haduh kok aku malah jadi cengeng begini sih.. Maaf ya bi, habisnya kalau di rumah itu hanya bisa curhat sama adik aku aja bi. Dia yang paling ngerti aku, ya walaupun baru beberapa bulan ketemunya setelah 22 tahun. "
" Alhamdulillah.. Sekarang, tidur dulu ya.. Bibi takutnya Zhafran dan Zhalina bakalan bangun tengah malam nanti. Mumpung anak-anak kamu tidur, lebih baik kamu ikut tidur. Bibi juga masih ada jam praktek lagi setelah ini. "
" Hiks hiks hiks makasih Lo bi, jas dokternya buat kain lap. "
" Apapun, demi kamu bahagia. "
^^^**^^^
Dua hari berselang ketika kala itu mereka sedang panas-panasnya. " Bagaimana hasilnya dok? "
" Dari hasil lab menunjukkan, bahwa saudari Arman 100% cocok dengan DNA bapak Ali. "
" Jadi, maksud dokter? "
Yassssalaammmmmmmm ! ! Bokap gue kenapa malah jadi bodoh gini sih? Itu udah jelas lho..
" Jadi, maksud saya adalah... Tuan Arman adalah putra kandung bapak. Karena hasil lab dari rumah sakit kami memang asli tanpa sogok menyogok. "
Ya Allah. Apakah ini benar? Kenapa ini serasa mimpi..
__ADS_1