Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 19.


__ADS_3


LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..


******


Berdandan ala chef, mengenakan apron. Dan juga topi yang menjulang.


" Astaga gue sudah berasa seperti mengikuti ajang pencarian chef profesional aja. Hihihi. "


" Tusuk satenya?? Oh iya? Tadi kayanya ada sapu deh diluar? Tapi, ah jorok. Mending aku potong-potong baru deh, baru balik-balik hehehe. "


Dengan wajah penuh merekah dan juga ia harus mandi lagi karena bau asal pembakaran. " Tuan. "


" Ada apa? Jika makan malam belum siap, jangan datang kesini. "


" Makan malam sudah siap tuan. "


*


" Dimana steak ku? "


" Eh sebentar tuan, Mutia akan mengambilkannya. "


Steak model apa ini? - Tanya Arman dalam hati.


" Tuan, ini saosnya. "


Steak, sambal kacang? - Arman baru mengetahui kalau ada varian terbaru.


" Apa yang kau buat? "


" Steak tuan. "


" Lalu, kenapa daging ini berbentuk dadu? Dan ini, saos steak.. Kenapa pakai sambal kacang? Ada saos barbeque di kulkas. Kenapa pakai sambal kacang ini? "


" Maaf tuan, steak kan panggang tua . Jadi, saya pikir. "


" Sudah-sudah! Aku ingin mencoba terlebih dahulu, jika tidak enak aku akan mencari istri baru. "


" Eh jangan tuan. "


Satu aja belum di apa-apa kan? Enak banget ngomong cari istri baru. - Batin Mutia.


Percuma pisau yang biasa di gunakan untuk memakan steak justru tak terpakai saat ini.


" Lumayan. Belajar dimana kamu masak ini? "


" Eh itu, saya dulu penjual gorengan. Mangkanya saya bisa membuat sambalnya. "


Patutlah kau bisa membuat sambal ini enak. Ternyata penjualnya. - Batin Arman.


Tok tok tok.


" Siapa sih pagi-pagi sudah ada yang ketok? "

__ADS_1


" Kenapa? Kamu keberatan? Itu asisten aku, dia aku minta datang. Karena aku malas datang ke kantor kalau pagi-pagi begini. " Ujar Arman saat ia ingin bangkit.


" Oh oh tidak tidak. Biar saya buka pintunya, tuan muda habiskan saja makanannya. "


" Hemmmmm. "


Setelah pintu itu terbuka.


" Eh ada Bu bos. "


" Bu bos? Oh iya iya, silahkan masuk. " Sejenak ia berfikir, namun ia baru sadar kini ia telah menikah dengan seorang bos besar.


" Mutia, siapa yang datang? " Ujar Arman saat mendengar langkah kaki mulai mendekatinya.


" Emmmp... "


" Saya bos, yang datang. "


" Oh kamu. Ada apa kemari? "


" Lha tuan sudah amnesia kah? Kan tuan yang meminta saya untuk menyiapkan ini. "


Wah itu sate atau daging steak model baru? Di cocol sambal kacang pasti lekat tuh. - Batin Naufal sudah menahan supaya air liurnya tak meluber.


" Ya tapi siapa? Ah sudahlah, kau tunggu di ruang tamu saja. " Tanpa menawari Naufal makan atau bahkan mencicipi terlebih dahulu.


Ah apa! Tuan muda, ya ampun itu enak sepertinya. Tuan muda pelitnya nggak kebangetan. - Batin Naufal.


" Tuan, apa gak sebaiknya pak Naufal? "


∆Ya ampun Naufal, kasihan banget sih kamu. Jangan sampai kesandung batu di jalan. 😭


^^^**^^^


Tiga bulan ia telah menempati rumah itu. Namun, sikap itu tak berubah. Bahkan hubungan mereka bahkan seakan renggang. Saat kunjungan ke rumah ibu mertua, rumah besar Daulay.


" Kakak ipar, ya Allah kak. Kakak kok makin cantik aja sih? " Ujar Putri.


Masa iya sih? Tapi, menurutnya biasa saja. Namun, ia tetap mencoba tersenyum.


" Ehmppp... Kamu bisa saja. "


" Hayuk kak, kita masuk. "


" Oh iya? Di depan kenapa banyak sekali mobil? "


" Oh itu,, itu mobilnya bude Rini. "


" Bude Rini? " Bingung, pasalnya ia baru mendengar nama itu.


" Bude Rini adalah kakak jauh ya bisa dibilang sepupu jauhnya ibu. Tapi, setahu Putri... Bude Rini itu, datang kalau ada maunya saja. Setelah terlaksana, ia akan pergi tanpa pamit. "


" Haaahh ada ya? Orang seperti itu di jaman sekarang? "


" Ada kak. Yang perlu kakak ingat saja nih ya, putri kasih tahu. Jangan terlalu akrab atau jangan mudah tersinggung. Pasalnya bude Rini sering banget mulutnya kayak kabel, belum juga di colok dah nyetrum aja. "

__ADS_1


Mutia sedikit paham apa yang di katakan Putri. Ia pun masuk, tanpa babiBu lagi.


" Assalamualaikum, Bu? "


" Wa'alaikumsalam. Eh nak, kamu kesini? Sama siapa? "


" Iya, Bu. Mutia kangen sama ibu, mangkanya Mutia kesini. "


Dengan mata yang tajam dan seringai akan ketidaksukaan terhadap Mutia telah nampak di sudut bibir dan juga gestur ingin beranjak saja dari situ.


" Dia siapa? Bu. " Tanya Mutia.


" Dia ini, emmmppp mbak? "


" Saya tidak Sudi berkenalan dengan seseorang yang standar kehidupannya masih dibawah saya. "


Huh! Mbak Rini, kamu sungguh tak pernah berubah. Dulu, aku yang kau sinis kan. Karena menurutmu, aku tak pantas bersanding dengan mas Aklesh. Dan sekarang, benar-benar, usia tidak akan membawa pengaruh yang besar kalau dalam diri sendiri tak ingin mengubahnya. - Batin A'yunina.


" Oh, maaf. Jika ibu tidak memberitahukan kepada saya, saya pun tak apa-apa kok. " Senyum terlukis indah di raut wajah Mutia.


A'yunina tersenyum.


Aku bangga memiliki menantu atau Putriku. Yang jelas, aku sangat bangga akan sikap yang kamu tunjukkan. - Batin A'yunina.


" Perkenalkan, dia ini kakak sepupu ibu Mutia. Namanya Rini Andriani. "


" Oh, bude Rini. Salam kenal bude, saya Lista Mutia Sari. "


" Cih!! " Melengos saat Mutia mengulurkan tangannya.


Mutia menyadari ketidaksukaan itu sangat besar. jadi ia langsung mengurungkan niatnya dan kembali ke posisi semula.


Tidak apa Mutia. Kamu kan gadis yang sangat ceria. Jangan marah. anggap saja dia seperti ibu kandungmu sendiri. - Mutia menyemangati dirinya sendiri.


" Mutia sudah makan? Badan kamu tambah berisi banget, apa di rahim kamu sudah ada cucu untuk ibu nak? "


Tanpa sadar, ucapan ibu mertuanya menusuknya secara perlahan. Namun, ia tak bisa menyalahkan itu semua kepada mertuanya sendiri.


Bagaimana aku bisa hamil Bu, apakah aku bisa merasakan manjadi seorang ibu? Jika pasangan saja, selalu berangkat pagi dan pulang larut malam. Tak pernah menyentuh atau mengecup ku sekalipun. Aku sendiri ragu, apakah aku bisa menjalin pernikahan ini selama setahun? - Batin Mutia mulai goyah, tangannya gemetar menggenggam rok panjang yang ia gunakan.


Melihat ekspresi Mutia yang mulai memucat. A'yunina mulai berbicara kembali. " Tidak apa nak, jika sudah takdir pasti malaikat kecil itu juga akan hadir di rahim kamu. "


Mutia tersenyum. " Terima kasih Bu. "


" Hahahaha aku kasihan dengan mu, Yuni. " Menggelegar.


" Kasihan? Apa maksud mu, mbak? "


" Ya, kasihan. Sangat menyedihkan sekali keadaan kamu. Umur mu sudah tua, tak tahu kapan ajal akan datang. Namun, sampai sekarang menantu mu tak kunjung hamil. "


" Aku tidak masalah dengan itu, mbak. Aku cukup tahu, Mutia sudah berusaha sebaik yang ia bisa. " Sambil mengelus rambut Mutia.


" Dan aku jamin kau pasti menyesal, putri ku yang kau tolak dahulu. Setelah di tolak oleh anak mu itu. Dia di lamar oleh pengusaha besar, dia pun menikah dan kau pun tahu jika saat ini anakku tengah mengandung. "


" Lalu? Arman memang tak menyukai anak mu kak. Andai saja Arman menyukai Nirmala, maka aku pun yang akan menolaknya dengan keras. "

__ADS_1


__ADS_2