Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 80.


__ADS_3

Bintang keluar dengan rambut yang klimis habis mencuci muka. " Wih.. Mau kemana kamu? Lihat nak, kakak bintang mau cari cewek. "


Saat menggendong Al sambil menggoda bintang. " Iya dong. Mana ceweknya ada di depan mata, kenapa nggak ya kan El? "


Mutia dan bintang saling membalas godaan. Menggendong El dengan penuh kasih sayang.


Mutia melihat itu.


: Mas... Seandainya dulu kau mengakui anak ini anak mu, darah daging mu. Mungkin saja anak kita tak berada di gendongan orang lain. Mas, hanya satu hal yang membuat Mutia bingung. Bagaimana jika Al dan El sudah beranjak dewasa... Dan mereka menanyakan keberadaan mu, apakah kamu mau menerima mereka. Sebab, seburuk-buruknya kamu di mata aku. Tapi aku tidak bisa menolak kenyataan yang ada. Kau lah tetap ayah mereka.


" Tu tuh.. Ibunya sedang mikirin apa itu, El? Om tahu... Pasti sedang mengagumi ketampanan om yang paripurna ini. "


" Jangan mengajarkan anak saya sembarangan Bintang. Mereka itu anak-anak, gampang merekam dan memahami. "


" Iya-iya, cantik... Duh ibu makin cantik aja kalau sedang marah, iya kan nak? "


" Iya, dong ayah.. " Bintang menirukan suara El.


" Huh... Dari pada kita disini, mending kita jalan-jalan aja. Nggak enak nanti jatuhnya fitnah. " Ujar Bintang.


: Benar. Kalau berduaan terus pasti akan bingung akan membicarakan apalagi.

__ADS_1


Merekapun memutuskan untuk pergi ke mal, untuk sekedar merevisi otak yang belum sempurna rapi. " Mbak... Ngomong-ngomong.. Kita ini seperti layaknya pasangan suami istri yang baru saja menjadi orang tua, ya? "


" Seandainya... "


Pikiran bintang melayang.


" Huh.. Jangan berbicara ngawur kamu. Lebih baik kita ke restoran aja.. Aku lapar, pengen makan. "


" Baiklah baiklah. "


Mendorong stroller itu beriringan.


" Ih anaknya gemas sekali mbak, kaya bapaknya.. Gembul. "


" Eh tapi.. dia.. "


Bintang terpaksa menarik pinggang Mutia agar menempel ke sisinya. " Iya, Bu. Mungkin karena saya terlalu mencintai ibunya anak-anak. Mangkanya anak-anak miripnya ke saya lebih banyak ketimbang ke ibunya. "


Tanpa memperdulikan Mutia yang tengah menatapnya dengan mata elang yang hendak mencekam mangsanya.


" Wah.. Mbaknya beruntung banget. Dapat suami yang muda dan juga sangat bucin. Hihihi.. Sangat jarang untuk tipe pria jaman sekarang yang maunya ungkang angkung maunya dapat gaji aja. "

__ADS_1


" Hehehe.. Iya Bu. Kalau begitu saya permisi dahulu. Istri saya sudah lapar, kasihan dia.. Memberi dua bayi saya asi. "


" Oh iya iya.. Silahkan. "


Sesampainya di restoran.


" Sudah kali rangkulannya. Bukan mau menyebrang pakai nempel segala. " Ujar Mutia.


" Eh iya.. Keasikan sih. "


Bintang melepas rangkulan itu perlahan mencoba memposisikan rasa gugupnya agar hilang.


" Sudah ah... Besok-besok, mbak nggak mau ya jalan sama kamu mending bertiga aja sama balita bukan baby. Huh .. "


" Hah? Emangnya nggak sama ya? Kan mereka belum bisa jalan mangakanya .. " Bintang menggaruk kebingungan.


Entah siapa yang salah di antara keduanya bayi Mutia yang sudah menginjak 13 bulan yang sudah mencoba ingin tahu semua hal yang berbau benda berwarna. Mereka sudah bisa berjalan, namun mereka belum terlalu lancar berbicara.


" Mau duduk dimana ini jadinya? Calon papa muda akan memesankan makan untuk kalian bertiga. "


" Aku dan Al dan El duduk di ujung sana. Pesankan makanan yang bubur aja kalau ada dan aku terserah. Semua makanan aku masuk nggak tebang pilih. "

__ADS_1


" Oke deh cintanya bintang yang cantik. "


__ADS_2