
" Tunggu! Kamu nggak bisa gitu dong! Biar bagaimanapun, bapak ini masih bapak kamu. Jangan semenamenanya memilih pasangan hidup. "
Pak lurah yang tidak Terima akan tingkah anaknya yang menurutnya tidak sejalan dengan cara pikirnya.
" Memang bapak adalah bapak Bintang. Tapi, hati dan perasaan Bintang.. Hanya Bintang yang bisa merasakan pak. Jangan paksa Bintang pak... "
" Bapak hanya ingin kehidupan kamu terjamin dengan limpahan kasih sayang. Keluarga Lisa merupakan orang baik nak, mereka tidak membeda-bedakan seseorang dari kasta. "
" Maaf Pak, Bintang tetap kekeh ingin menikahi wanita yang selama ini bintang jaga. Jangan salahkan bintang, jika harus Bintang menikah tanpa restu bapak. Maka Bintang akan lakukan. "
Berjalan menuju pintu.
Bapak Bintang tak kehabisan akal. Otaknya masih berjalan dengan baik. Hingga ia memikirkan ide-ide konyol yang menurutnya masuk akal agar adil bagi keinginannya dan juga keinginannya Bintang.
" Oke oke... Kamu boleh menikah... "
Mata Bintang lalu bersinar terang. Tak menyangka ia dapat meyakinkan ayahnya.
" Bapak serius? Tidak sedang bermain-main bukan dengan Bintang? "
" Iya. Bapak serius tapi dengan satu syarat. Lalu kapan kita akan melamar Mutia untuk mu. "
" Hari ini pak. Bintang ingin meresmikannya hari ini juga. Menunggu terlalu lama tidak akan mengganggu niat ku yang sudah lama ini. "
" Baiklah. Mari kita kesana. "
Tanpa persiapan yang matang, hanya beberapa kalung berlian dan juga uang yang sudah di hias dalam bingkai sebagai seserahan. Bintang tidak memikirkan syarat apa yang di ajukan oleh ayahnya. Ia hanya memikirkan agar segera secepatnya menikahi Mutia dan dia akan segera menyandang gelar daddy yang selama ini disematkan oleh kedua putra-putri Mutia.
Sementara Arman dia sedang menikmati masa-masa dimana harus segera melepaskan Mutia dengan pria lain yang sebentar lagi akan bersanding dengan mantan istrinya.
Bukan tanpa sebab, Arman mengetahui itu saat ada berita di TV yang saat itu Bintang dan Mutia mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan bahwa dirinya dan juga Bintang akan segera bertunangan.
Arman, ya Arman yang dahulu nampak berbeda jauh dari pada yang dulu. Semenjak dirinya di ceraikan oleh Mutia. Ia selalu menyempatkan dirinya untuk berdoa agar mendapatkan pengganti Mutia yang tidak kalah jauh darinya. Bukan dari segi kecantikan dan kekayaan. Karena dirinya pun masih sanggup jika hanya menafkahi seoarang istri.
" Bi, tolong buatkan saya kopi. "
" Baik den. "
" Ini tuan kopinya. "
" Terima kasih bi. "
Menyeruput kopi yang saat ini ada di genggamannya.
" Ah segar.. Mata langsung jreng kalau habis minum kopi. Hawa hawa ngantuk hilang seketika. "
Tapi tap tap suara hentakan kaki seraya mendekat. " Arman, bagaimana kabarmu? "
A'yunina menyapa anak angkatnya.
__ADS_1
Yang kasih sayang yang dulu di limpahkan kepada arman tak akan pernah memudar sekalipun arman berbuat kesalahan pada putrinya sendiri. Ia berusaha mungkin untuk memaafkan putra angkatnya.
" Ibu, Kapan datang? Baik bu. "
Bangkit dan memeluk sang ibu.
" Baru saja di antar Dewa. Jangan melarang ibu untuk berkunjung kerumah anak ibu sendiri Arman. "
" Nggak bu, Arman nggak ngelarang ibu. Ngomong-ngomong, ibu ada apa kemari? "
" Ah iya kan ibu jadi lupa kalau ibu bawa misi khusus untuk kamu. "
" Misi apa bu? Jangan yang aneh-aneh deh. "
Arman nampak sangat tahu perihal apa yang akan ibu mertuanya itu. " Ibu nggak macam-macam kok. Ibu hanya minta tolong, kamu carikan gadis yang bernama Naysilla ya.. "
" Haah... Untuk apa? "
" Itu anaknya tukang bakso. "
" Iya terus.. Ibu kepingin bakso? Nanti Arman carikan khusus untuk ibu. "
Plak...
" Kalau hanya ingin bakso, gampang saja. Kamu cari saja gadis itu, lalu bawa kerja di rumah mu. "
" Haah.. Untuk apa kerja disini. Bahkan disini pembantu tak kurang dari satu bu. "
" Lagian susah tahu bu, kalau nyari nama Naysilla yang anak tukang bakso kan nggak cuma satu bu. Ibu coba cari yang masuk akal. "
" Arman Arman. .. Sekarang kan ada detektif yang bisa mencari segala sesuatu dengan cepat kenapa kamu pakai bingung segala. Sewa saja detektif dan jika sudah ketemu kamu baru ke tkp. "
" Iya iya iya ibu.. "
Arman tak mau lagi berdebat dengan ibu A'yunina. Sebab, ia tidak akan pernah menang selama ini ia yang sudah merawatnya.
" Ya sudah, ibu kembali dulu ke rumah. Takut cucu-cucu ibu nyariin omanya yang cantik ini. "
" Mau Arman antar? " Tawar Arman.
" Tidak usah. Tadi Dewa, ibu suruh tunggu di depan. Jadi kamu di sini saja. Dan jangan lupa mencari yang ibu pinta tadi. "
" Huft.. Baik. "
Dengan perasaan senang A'yunina keluar dari kediaman Arman.
" Semoga dengan ini dia bisa move on dan dapatkan pengganti yang lebih baik. "
" Ya walaupun saat itu juga putriku yang tersakiti, namun.. Ibu mana yang tega dengan putranya walau bukan ibu kandungnya tetaplah aku adalah ibu yang membesarkannya. "
__ADS_1
Sampai di kediaman Daulay yang baru. Iya rumah itu di tinggali oleh Lista Mutia Sari pada saat Arman dan dirinya bercerai. Mutia angkat kaki dari sana, dan membeli mansion baru untuk dirinya dan juga anak-anaknya.
" Assalamu'alaikum.. Mutia.. Putri.. "
" Waalaikumsalam, nyonya.. Sudah pulang? "
" Iya, sudah. Marni, kamu repot nggak? "
A'yunina bertanya dengan pembantunya.
" Nggak kok nyah. Marni, oke. Semua pekerjaan Marni sudah selesai semua, tinggal leyeh-leyeh saja yang kurang lama. Emang ada apa nyah? "
" Ini.. Kaki saya pegal, kamu bisa nggak pijitin kaki saya. "
" Oh bisa nyah. "
" Baiklah, saya tunggu di kamar ya.. "
" Iya nyah. "
Esok harinya.. Mutia datang ke sekolah anak-anaknya. Dengan pakaian kerjanya membuatnya terlihat modis dan elegan dan juga tidak berlebihan namun cukup membuat sesekali pria melirik ke arahnya. Ia menyempatkan waktunya untuk menjemput anaknya.
" Assalamu'alaikum, bu Muti. " Sapa seorang pegawai yang membersihkan taman.
" Waalaikumsalam, bu Indri. "
Dengan senyum, menyapa Indri.
" Anak-anak belum pada pulang ya, bu? "
" Belum, bu. Ini tadi ada pelajaran tambahan mangkanya biar sekalian saja pulangnya dengan kakak kakak kelas lainnya. Dari pada ketinggalan pelajaran kan repot sendiri nanti. "
" Iya ya.. "
" Ya sudah, saya permisi dulu bu. " Mutia kembali masuk kedalam mobilnya.
" Lebih baik aku menunggu di dalam mobil dari pada seperti ini nanti mengundang syahwat laki-laki. "
Sekarang waktunya pulang.
Bagi sekolah layaknya alarm handphone bunyi bel itu di nyalakan.
" Sudah bell. "
Mutia keluar dari mobil, dan dia melihat putra putrinya berlari ke arahnya.
Mutia tersenyum, anak-anaknya pun tak kalah tersenyum dengan sangat manisnya.
" Abang, itu mommy ya.. "
__ADS_1
" Iya.. Ayo kita samperin mommy. "