
Detik-detik dimana Arman dan ibu A'yunina menunggu hingga pukul 13:30. Siang yang amat terik, mata yang terasa panas menahan kantuk. Bolak-balik Arman melihat kearah jam di pergelangan tangannya.
" Bu, lebih baik kita pulang saja. Tuan Ali itu terkenal tidak ngaret Bu, lha ini waktu yang kita berikan malah ngaret hampir mepet. Hadeh.. Arman haus Bu, Arman mau beli minum. Ibu mau minum, apa? "
" Sabarlah, nak. Boleh, jika anak ibu yang paling ganteng ini tidak keberatan. Dengan nasi pecel khas jawa satu dan teh manis. Itu saja cukup. "
" Haah. " Arman terbelalak.
Nasi pecel? Nyari dimana makanan itu?
Menggaruk kepalanya yang tak gatal.
A'yunina tersenyum. " Kenapa? Kamu belum keramas ya? Atau jangan-jangan,- " Sengaja menggoda anaknya.
" Ih ih.. Nggak bu, nggak. Arman cuma bingung, di mana beli nasi pecelnya? Arman terbiasa makan gado-gado saja, itu sama bukan? "
" Sejenis tapi, sudahlah ibu beli sendiri saja. " Mengambil tasnya yang berada di samping ia duduk.
" Eh eh gitu aja marah, begini saja.. Ibu ada alamat yang jual nggak? Biar Arman nggak nyasar nanti. "
"Jalan Pulau Sambit, gang delima. "
" Owah.. Disitu toh, dekat mah. Pesanan ibuku yang cantik ini, akan sampai beberapa menit lagi. Sabar ya Bu, Arman jalan. Assalamualaikum. "
" Waalaikumsalam. "
***
Esok hari.
Seseorang gadis yang sangat terlihat super super kacau saat ini. Hatinya patah berkeping-keping. Mendapati pujaan hati yang selama ini ia harapkan, idamkan. Malah tidak meliriknya sama sekali. " Apa kurangnya aku ! ! Selama ini aku sudah ada untuk kamu Bi, tapi apa ! Kamu selalu... " Tunduk nya sambil menarik selembar tisu.
" Apa perasaanku selama ini tidak terlihat di matamu? "
" Apa sebegitu jelek kah wajah ku? Aku tahu, aku memang terlahir di desa. Beda dengan mbak-mbak yang itu, dia memang terawat sekali kulitnya. Bahkan ia seperti artis, aku .. Dan apalah aku ini, Akulah gadis miskin yang tak pantas, menyimpan akan lebih baik. "
Genangan air mata, membuat mata itu seperti panda. Segerombol mobil melalui jalanan bendungan, dengan pemandangan yang sangat indah. " Dewa, apakah masih jauh? " Tanya seseorang yang tengah mengemudikan mobil.
" Sebentar lagi. "
__ADS_1
Ia memukul setir mobil itu debgan kencang, ia jengkel. Sedari tadi jawabannya itu saja.
" Woy ! Nyantai ! Ini mobil belum lunas aku bayar. "
" Apa ! " Dengan santai.
" Lo kenapa! Capek? Astaga ! Jangan bilang Lo lapar lagi? Harusnya gue nggak ajak Lo ke sini, nyusahin aja. "
" Enak saja ! Gue,-- "
Krukukkk Krukkkkkkk
Memang benar apa yang dikatakan orang dulu. Kenyang kan lah perut mereka, maka mereka tidak mungkin akan menduakan mu. " Gue gue apa ! ! Hahaha .. Udah, mending tepi kan dulu mobil ini di pinggul dekat perumahan itu. Di sana banyak pedagang pentol goreng, makanlah sepuas mu. Dan lanjutkan misi kita. "
" Huh ! Pentol, lanjut.. "
**
Angin semilir menghembus. Para pedangan di sana tak pernah sepi dengan pengunjung. Karena, bukanlah bendungan saja. Di sana merupakan destinasi ala ninja warrior bagi warganya. " Pak, bagi pentol. "
Pukkkkk memukul bahu Nauval dengan sangat kencang. " Dasar bod*h! Di sini beli, bukan membagi. Enak saja membagi dengan mu, emangnya kamu siapa ku? "
" Benar pak, beli. Bukan seperti tadi. " Di anggukin.
" Maaf pak, saya bukan penjualnya. "
Apa ! Dia bilang apa tadi ! ! Dia bukan penjualnya, lalu kenapa dia ada di dekat gerobak ini? Aku sudah berbicara panjang lebar, tapi baru ia katakan setelah beberapa kalimat kata yang ku ucap.
" Oh maaf maaf pak, teman saya itu kadang suka ngelantur bicaranya. Mohon di maklumi ya pak. "
Dengan menarik kerah belakang Nauval untuk menjauh dari si bapak yang melanjutkan lagi acara menyantap pentol saus kacang.
" Hey hey ! Kau pikir aku kucing ! ! " Marah dan melempar tangan yang mencekam kerahnya dengan susah payah.
Dengan postur tubuh yang tinggi, dewa dengan mudah menarik bahkan membanting lawannya dengan mudah. " Haduh .. Seharusnya kau bertanya dahulu. Jangan langsung nyablak. "
" Ye .. Namanya juga lapar. "
" Kira kira siapa yang menjual gerobak tadi? "
__ADS_1
" Sebentar. " Dari gerobak yang bertuliskan ( Naysilla putri Nanang) , ya gerobak itu tak asing.
Mungkin karena turun temurun, yang biasanya Pria tua yang bernama Nanang berjualan. Ntah kenapa saat dewa mencari di sekeliling tidak ada pria itu. " Astaga.. "
" Ada apa? Aku sedang berpikir, kenapa kau mengomel sendiri? Membuat konsentrasi ku hilang saja? "
" Haduh .. Kau pikirkan dahulu, rasa lapar ku teralihkan dengan gadis itu. " Tunjuk nya pada seorang gadis memakai baju kotak-kotak dan memakai rambut serta mengikat kuda rambutnya.
Dewa pun terpanah, ia merasakan bahwa dia sangat mengenal dengan dia. Ya, wanita yang tengah duduk dengan melempar batu ketengah genangan air.
Muka itu, terasa tidak asing?
Walaupun dewa pulang, ia terlalu menatap wanita-wanita. Baginya, wanita bukanlah hal yang penting. Karena ia masih ingin sendiri, wanita yang terpenting baginya saat ini Bibinya. Yang harus ia jaga, karena satu-satunya orang yang ada. Dikala orang tuanya sudah tiada.
Dengan gaya sok nya. Ia menghampiri gadis itu yang merubah posisinya menjadi berdiri dengan masih menggenggam beberapa batu di kedua telapak nya. " Huh ! Rasakan ini ! ! ! "
Pyakkkk pyakkkkk beberapa batu tenggelam dengan sangat cepat. Pukkkkk ia di kaget kan dengan tepukan di pundaknya, bahkan tangan itu tak beralih dari pundak kecilnya.
" Kyyaaaaa ! "
Reflek, ia langsung memegang tangan Nauval dengan erat dan membantingnya.
Bbbbuuugggh !
" Awhhh ! "
Untung saja lantai itu bukan terbuat dari bebatuan. " Mau apa kau ! Hiks hiks hiks walau hatiku sudah hancur, aku tidak akan selemah itu untuk membanting seseorang. "
Dewa yang melihat itu langsung mendatangi TKP. " Aduh.. Maaf nona, teman saya salah mengenali orang. "
Tanpa menolah gadis itu terus saja berujar.
" Ya tapi, nggak bisa main sentuh orang sembarangan dong ! ! Emangnya saya cewek apaan ! ! "
" Sekali lagi maaf nona, kami sedang mencari pedagang pentol itu. Soalnya teman saya kelaparan, sebab itulah dia,- "
Nauval berusaha berdiri dengan tegak dan mengajukan protes tidak terimanya. Dia menarik pergelangan tangan dewa dan membawanya mundur sejenak. " Hey, bang ! Ngapain lu pakai bongkar gue yang kelaparan ke cewek ini sih ! "
" Suttthhh.. Diam kau! Kau mau di hajar sampai masuk rumah sakit atau kuburan, hah ! "
__ADS_1
" Aku? Hahaha.. Bang, aku juga punya ilmu perguruan. Ngapain aku pakai takut sama tu cewek. "
" Lalu? Kau itu baru sabuk Oren bukan? Dan kau mau tahu? Wanita yang baru saja berhasil menumbangkan mu, untung saja bukan aspal. Kalau aspal bakalan habis itu bibir seperti di filler di kalangan artis. Mau ? "