Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 34.


__ADS_3


LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..


*****


Deg deg deg deg..


Apakah aku tidak salah dengar? Nyonya memanggil nona muda dengan sebutan anak? - Batin Naufal.


Apa maksud nenek tua ini! Dia sudah mulai meracau walau belum menutup matanya! - Umpat Wina.


Anak?? Apa maksud semua ini? Bagaimana mungkin? - Tanya Arman melalui dewa yang selalu ada di samping nyonya besar.


" Kenapa kalian diam!! Dimana putriku! Dan,- KAU!!! Kau apakan lagi putriku, hah!!! "


Kemurkaan ini tak biasanya di tunjukkan. Arman pernah melihat kemurkaan ini pada ayahnya yang kala itu benar-benar tidak menginginkan anak laki-laki, karena jumlah anak laki-lakinya sudah ada 2 terlebih lagi saat Arman lahir. " A...Arman juga baru sam...sampai bu. "


" Dan pasti kau kan pelakunya!! " Menatapnya dengan sinis.


" Aku? " Menunjuk dirinya. " Iya kamu! Kamu adalah sumber dari bunga bangkai di taman. "


" Bu. Jangan berbicara sembarangan. Wina sedang mengandung anakku, aku mohon pada ibu agar tidak berbicara kasar lagi. "


" Ada apa ini ribut-ribut! " Seseorang yang berpakaian serba putih.


" Dokter.. " Dengan segala pertanyaan yang ingin di curahkan kepada putri sulungnya.


" Dokter.. Bagaimana keadaan putri saya? " Dengan mata berkaca-kaca seperti seseorang yang sudah lama mengenalnya.


Ada apa dengan nenek tua ini? Jangan-jangan dia mulai membual lagi. - Wanti-wanti Wina.


" Maaf, ibu siapa ya? saya harap, tidak ada yang berbuat anarkis dan berteriak layaknya hotel atau apapun itu. Ini adalah rumah sakit, pasien yang lainnya juga pasti memiliki privasi sendiri-sendiri. Soal keadaan putri ibu... Saya ingin mengeceknya kembali. "


" Saya ibunya dokter. " Sebelum dokter itu masuk kembali memeriksa Mutia.


" Ibunya... " Dengan serentak semua terperangah.


Kecuali Putri Gyana Daulay. Setelah Arman pergi meninggalkan mansion. Putri lah yabg menjadi tempat sandaran bagi ibundanya.


" Kakak.. Semoga kau baik-baik saja. " Dengan muka yang sedikit menyesal karena ia membiarkan kakak yang sudah ia anggap kakak sendiri.


Krekkkkk pintu itu terbuka.


" Bagaimana keadaan putri saya Dok? "


" Alhamdulillah, pasien sudah sadar. "


" Apakah kami boleh menjenguknya, dok? "


" Emp.. " Dokter itu bingung. Melihat disekelilingnya ada banyak keluarga dari pasien.


" Karena pasien sudah sadar. Kalian boleh menjenguknya. Batas orang hanya 2 saja. Karena mempengaruhi kandungan oksigen di dalam ruangan jika kalian berbondong-bondong masuk kedalam. Saya permisi. "


" Baik dok. Terima kasih. " Saat dokter itupun mulai berlalu. " Ayo, Put. Kita jenguk kakak mu. " Dan mengacuhkan Arman yang sedari tadi bingung. Kenapa ibunya menyebut-nyebut Mutia sebagai anaknya dan putrinya.


" Sayang.. Sayang... Aku ingin cireng. "


Namun, Arman tak memperdulikan Wina. Wina kesal lalu, mencubit lengannya. " Akwhhh.. "

__ADS_1


" Rasakan!! "


" Kamu kenapa sih! Bisa tidak jangan ganggu aku dulu. "


" Kamu membentak ku! "


Arman tak memperdulikan. Ia malah beralih pada pandangan dalam ruangan itu. Yang terlihat sangat jelas Mutia tengah lemas dan tangannya masih tertempel selang infus.


" Baiklah. Aku mau pulang saja. " Teriaknya.


Namun, tidak ada tanggapan sama sekali.


" Arman!! Aku mau pulang! " Teriaknya kali ini tak cukup kalah membuat suster itu menoleh.


" Pulanglah. Dan kau Naufal, tolong antar Wina sampai dengan selamat. "


" Baik tuan. Mari nona. "


" Hiiissssss aku bisa jalan sendiri. Singkirkan tangan kotormu utu! "


Cih nona nona. Yang kau bilang kotor juga akan kalah juga dengan kotornya dirimu. Aku heran... Kenapa tuhan sangat baik padamu? Padahal kau, hahaha.. Aku akan menjadi gila kalau memikirkannya. - Batin Naufal.


" Baik nona. "


^^^*^^^


Sekarang tinggallah dewa dan juga Arman yang berada di kursi tunggu. " Ada apa tuan muda? " Bertanya, karena dewa sangat risih di tatap dengan tatapan mata lapar.


" Jelaskan padaku! " Dengan nada beratnya.


" Hmmmmppp saya masih tak mengerti tuan? "


Arman bangkit dan mendekati dimana Dewa duduk. " Tu...tuan.. Ada apa... " Badannya mulai panas.


" Kenapa dengan wajah mu? Jawab Dewa!! Aku memintamu untuk menjawab semua ini!! " Memegang kerah baju Dewa kala saat Dewa berdiri.


" Tidak tuan. Saya tidak menyembunyikan apa-apa. "


" Masih tak mau jujur!!! "


Menarik kerah itu hingga memepet di tembok. Dengan seringai lain, Arman mempercepat gerakkan dan beralih ke leher seseorang yang telah mengabdi lama di kediaman Daulay.


" Katakan padaku!! Kau pasti tahu semuanya! Tak mungkin kau tidak tahu. " Dengan wajah yang sangat mengerikan.


Krekkkkkkk seseorang keluar dari pintu itu.


" Arman!!! Kau apakan dia!! Lepas!! "


Datang dengan tergesa-gesa.


" Bu... Jangan membelanya lagi Bu. Dia ini hanya pembantu kita Bu. Dan ada suatu rahasia yang dia sembunyikan dari Arman Bu. Arman harus mengetahuinya!! "


" Lepas Arman!! "


Bukan melepas. Arman malah menghempaskan tangannya hingga membuat ibunya terhuyung ke belakang.


Duggggggg A'yunina terjatuh kebelakang dengan membentur sebuah kursi besi.


" Nyonya!! " Teriak Dewa.

__ADS_1


Mata Arman terperangah. Kini ia melihat ibunya terkapar dengan darah yang sudah ada di lantai.


" Ibu!!! " Arman buru-buru melepas cengkeramannya dan menjatuhkan dirinya di dekat kepada ibunya.


" Bu.. Bangun Bu.. Bu.. Bangun.. " Setelah memangku ibunya.


" Tuan muda. Permisi... Ijinkan saya untuk membawa nyonya ke ruang perawatan. "


" Tidak!! Biar aku saja. "


Arman kemudian membopong ibunya kedalam satu ruangan lalu ia memanggil dokter.


Dasar keras kepala!! Andai saja nyonya besar tidak memungut mu, kau tak akan menjadi orang saat ini. - Batin Dewa.


^^^*^^^


Flash back.


" Mutia.. Mutia.. Anakku.. "


" Eh.. Ibu mertua. "


" Kakak.. Kakak bagaimana keadaan kakak? "


" Keadaanku baik. Kalian tenang saja, aku tidak apa-apa. Terutama untukmu ibu mertua. Jangan terlalu memikirkan aku, aku anak yang kuat. "


" Benar. Kau memang anak yang kuat, dan kekuatanmu sepertinya menurun kedalam darah anakmu. "


" Apa maksud ibu? Anak? " Mutia bingung.


Kenapa ibu mertuanya berbicara tentang anak.


Pasalnya dia sendiri tak tahu apa-apa tentang anak.


Ada apa dengan ibu? Kenapa malah membahas anak? Apakah ibu sangat mengharapkan seorang cucu? - Ekspresi Mutia sangatlah beda saat ini.


" Kakak.. Kenapa kak? Jangan kaget kak. Kakak dan anak kakak sangat kuat. "


" Ibu.. Maafkan Mutia. Mutia belum bisa memberi ibu anak. Tadi pagi, Mutia halangan. " Dengan tertunduk lesu saat ia menjawab.


" Hey kak kak.. Jangan manyun gitu. Justru saat ini kakak sedang hamil. Selamat ya kak.. Putri pikir kak Arman tidak akan menyentuh kakak, tapi ternyata salah hihihi.. "


A'yunina tersenyum.


" Selamat ya nak. "


" Hiks hiks hiks apakah ini mimpi.. " Seketika emosional nya mencuat.


" Aduh sini sini biar Putri cubit. Kakak akan tahu ini beneran atau mimpi. " Putri maju dan mencubit pelan lengan Mutia.


" Akwh.. "


" Gimana? Sakit kan? "


" Ibu.. Ini beneran? "


" Iya nak. Ini benar. Selamat ya.. Sekarang jaga kandungan kamu baik-baik. Jika Arman,- "


Eeeeegggggghhhhhhh.

__ADS_1


Suara Dewa menahan sakit.


Flash Off.


__ADS_2