Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 33.


__ADS_3


LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..


*****


" Sayang.. Kenapa dia tak menunduk kepadaku juga? "


" Ati, kau. " Tunjuk nya.


" Ck ck ck kau masih tidak berubah ya? Tidak! Aku tidak mempan jika kau memaksaku. Aku tidak ingin menghormati pelakorrrrrrrr kelas kakap seperti dia. " Malah justru meninggalkan Wina dan Arman.


Meninggalkan Arman. Memang selama ini yang sudah dikenal layak oleh karyawan adalah Mutia. Sedangkan gadis yang lainnya pegawainya pun tak mengenalnya kecuali di kantor, Wina sangat di kenal karena dia sering datang dan pergi seenaknya saja.


Kelakuan Wina sangat melewati batas kali ini ia sengaja berbelanja sangat banyak. Sementara itu.. " Sayang.. Aku mana mungkin akan membawa ini? Apa kamu akan tega membiarkanku membawa ini dan juga buah hatyi kita secara bersamaan? "


Astaga timbang bajunya sendiri saja ogah-ogahan angkat. Mentang-mentang lagi hamidun gitu. Huh! Yang sabar Mutia Mutia. Kau pasti bisa. - Batin Mutia.


" Tidak. Kau tidak boleh mengangkat yang berat-berat. Biar Naufal saja yang membawanya, tanganmu hanya boleh untuk aku gandeng saja.... Sayang. " Mengangkat tangan kanan Wina dan (muah) kecupan hangat mendarat.


Lagi-lagi mataku menjadi tidak suci gara-gara bos mesum dan jago selingkuh. - Naufal berdecak kesal pada situasi seperti ini.


" Tidak. Aku tidak setuju. " Mengambil tangannya kembali dan menyilang di dada.


" Lalu? Mau kamu bagaimana? Atau jangan-jangan kita suruh pelayan disini untuk antar langsung ke rumah? Hemmpp? "


Kembali menggeleng.


Drama lagi dan lagi. Etssssss.. Bentar bentar .. Kenapa firasat ku menjadi tidak enak? Apalagi yang ingin dia perbuat? - Was-was Mutia.


Perasaanya mulai tidak enak. Entah apa yang ada dalam pikiran Wina saat ini. Bisa saja itu baik atau bahkan lebih buruk dari sebelum-sebelumnya. " Aku ingin si Mutia itu yang membawanya. "


" Sayang. Mana mungkin. Itu barang-barang kamu cukup banyak. Nggak mungkin tangan dia muat segini tumpukan nya. "


" Kok kamu malah lebih perdulikan dia sih? Jangan-jangan kamu sudah mulai ada rasa lagi sama dia? Ngaku kamu! " Tunjuk nya pas pada wajah tampan Arman.


" No no sayang. Mutia segera ambil belanjaan itu dari Naufal. Jangan sampai jatuh bahkan lecet, atau aku akan menghukum mu. Ingat itu!! "


Barang segitu banyaknya kau minta aku untuk membawanya. Kau benar-benar suami yang kejam mas. Apakah tidak ada cara lain untuk ini? - Mutia ingin sekali protes, namun hanya ia berani ungkapkan di dalam hatinya.


Badan Mutia mulai letih, lesu. Ia bahkan tidak sengat sebenarnya untuk menemani Wina dan Arman belanja. Namun, selagi ia bisa membantu orang lain. Ia akan berusaha dengan baik, walau ada rasa miris yang sering hinggap.


Berkeliling membuat keadaan Mutia semakin menjadi-jadi. Kepalanya pusing, ia pun memegang pelipis kanannya.


Ada apa sebenarnya ini? Kenapa aku merasakan sangat aneh hari ini? - Ia pun bingung apa yang terjadi pada dirinya.


Namun, ia berusaha berjalan. Walau ia harus memegangi dinding mall tersebut agar ia bisa tetap berjalan ke depan walau ia sempat tertinggal. Namun, ia berhasil menyusul Naufal. " Naufal. Aku sangat pusing. "


" Nona. Nona kenapa? "

__ADS_1


Brukkkkkkk!


Mutia jatuh pingsan tepat di pelukan Naufal. Untung saja Naufal berada di sana, jika tidak mungkin saja kepala itu akan benjol.


" Nona nona. Anda.. Astaga kerjaan lagi, dan ada apa dengannya? Apa dia belum makan? Tapi, tidak-tidak. Si bos sangat kaya, bagaimana mungkin dia membiarkan istrinya kelaparan. Sebaiknya aku langsung membawa Mutia ke rumah sakit. Jika aku mengabari tuan muda terlebih dahulu, maka itu akan sangat mengganggunya. Apalagi dengan adanya nenek lampir, mana mungkin si bos bisa lolos darinya. "


Setibanya di rumah sakit.


Naufal berteriak seperti rumahnya saja dan ia sebagai orang yang pergi rantau.


" Suster.. Dokter.. Sus,- "


" Pak pak jangan teriak-teriak. Disini adalah rumah sakit, anda tidak boleh teriak. " Satpam itu menegurnya.


" Masa bodoh pak! Dimana dokter dan suter nya? Kenapa mereka semua tidak ada? "


" Sekarang jam makan siang pak. Harap maklum. "


" Maklum maklum!! Kalau yang namanya lagi bawa beban juga bapak pikir maklum juga. "


Satpam itu menyengirrr kuda. " Eh maaf pak maaf. Pasti berat, saya akan ambilkan ranjangnya dulu. " Memakai topi kebanggaannya dan mengantongi tingkat sakti sung gokonggg.


" Hadehhhh kalau mau lucu liat tempatnya pak. " Sebal Naufal.


*


" Bagaimana dokter? Apakah? " Terlihat jelas raut wajah Naufal berubah.


" Ham...hamil? " Terkejut.


Bagaimana mungkin Mutia bisa hamil? Bahkan untuk mendekat saja Arman berpikir ulang. - Pikiran buruk hampir saja menghinggapi dirinya.


" Mas? Mas? "


" Eh iya dok. "


" Wah Sus, sepertinya masnya sangat bahagia. Sampai terbengong. "


" Sekali lagi selamat ya mas. Jaga kandungannya baik-baik. Biasanya usia kandungan trimester pertama mengalami banyak halangan. Dan tergolong berbeda-beda di setiap kehamilan. Kalau begitu saya permisi, jika ingin tahu lebih lengkapnya masnya bisa langsung cek ke dokter kandungan. "


" Baik, dok. Silahkan, iya nanti saya akan ke sana. "


Haaahhhhhh meraup wajahnya dengan kasar lalu merenung.


Bagaimana ini bisa terjadi, wanita yang sangat baik tidak mungkin hamil dengan sembarang orang. Tapi, jika hamil dengan Arman? Tidak. Berdekatan dengannya saja Arman pasti tidak ingin. - Pikirannya melayang.


*


" Mas, aku capek. Aku haus. " Masih manja.

__ADS_1


" Haus? Sebentar, anak Daddy haus ya? Tunggu sebentar ya? Daddy akan menelpon paman mu dulu. "


.


" Halo, dimana kamu? "


" (.....) "


" Apa!! Bagaimana bisa? "


" (.....) "


" Baiklah, saya akan ke sana. "


.


" Sayang.. Ada apa? Kenapa raut wajahmu begitu berubah setelah menjawab telpon itu? "


" Kita harus ke rumah sakit. "


Menggenggam tangan Wina dengan sangat erat hingga membuat barang-barang belanjaannya jatuh. " Apa? Buat apa kita ke sana? Baru satu Minggu yang lalu kita cek up, dan ini? Sayang barang-barang ku. " Ingin sekali Wina meronta.


*


" Bagaimana ini bisa terjadi? "


Plakkkkkk kala ibu A'yunina menampar Arman. " Rasain!! "


" Aduh Bu, kenapa malah nampolll wajah anakmu yang ganteng ini. Ini juga kamu dek, kakak lagi kesakitan malah kamu syukuri, dasar adik nggak ada akhlaq. "


" Diam kamu!!! Suami apa-apaan kamu!! "


" Ya suami benarkan lah Bu. " Sambil mengelus pipinya.


" Sayang.. Wajah kamu merah. " Tanpa malu wanita yang datang bersamanya ikut memanasi suasana.


" Dan ini, katanya Naufal ibu sakitnya kumat. Lha sekarang kenapa malah diluar ruangan? "


" Kamu tahu siapa yang sakit? "


Menggeleng. " Yang sakit istri kamu. "


" Istri? Saya sehat Bu. " Langsung menyambar.


" Iya Bu. Wina sehat, malah sehat banget setelah menghabiskan 3M. "


" Udah? " Dengan muka datar.


" Ibu tanya sekali lagi, kamu apakan anak saya!! " Teriaknya sampai membuat Arman tak kalah terkejutnya.

__ADS_1


" Anak? "


__ADS_2