
Saat memasuki rumah besar itu. Arman di gandeng Ali dengan penuh rasa bangga dan di iringi A'yunina.
Merriam bingung. Bocah yang kemarin membuat ulah di rumahnya sampai suaminya harus meminum obat P setamol itu lagi setelah sekian lamanya. " Si papa kenapa pakai gandeng itu bocah? Atau jangan-jangan dia beneran pria yang ingin melamar anakku? - Cemas.
" Mama ! ! Jihana ! ! Mama ! Jihan ! " Teriakan itu menggema di seluruh ruangan.
" Papa ngapain? Kenapa malah teriak-teriak begitu? "
**
" Ma, mama juga di sini? " Berlaga bego.
" Iya, kan kamu dengar sendiri? Papa mu kalau sekali bertindak pasti bukan main-main. "
" Huh ! Lalu? Kaki mama? " Melirik ke kaki sang mama.
" Kaki? " Dia baru ingat kalau kakinya sedang terluka.
" Astaga.. Mama lupa. Untung saja kamu mengingatkan mama? Kalau tidak bisa habis mama jadi dendeng. Sudah ! Kamu tolong bantu mama berjalan. "
" Ih ih ! ! Apa sih ma? Jihana, nggak mau ! Lagian ya, bentar lagi ada pemotretan. Mama jangan Ngada Ngada deh. Lagian ya? Mama itu terlalu cari perhatian sama papa. " Pergi melangkah ke depan.
Merriam mengejar Jihan. Ia meraih tangannya.
" Ayolah Jihan, mama tidak akan meminta tolong jika tidak kepepet. "
" Halah mama juga banyak ngomong begitu tapi, selalu saja Jihan kena imbasnya. "
" Please, Jihana ! Mama mohon. "
Astaga ini mama gue? Kenapa sikapnya malah kayak anak gue? Eh amit-amit ! Jangan coy ! Aku belum mau punya anak. Nikah aja belum, btw itu tamu cowok siapa ya? Kira-kira boleh nggak ya? Kalau aku memohon kepada Tuhan kalau jodohku adalah dia.
**
" Ada apa pa? Maaf lama, mama harus menelpon Jihan, kalau nggak? Mama mana bisa ke sini. "
" Ah iya, papa lupa. Maaf ma, tapi ini masalah yang sangat sangat penting. "
" Uh papa nggak adil ! Maafnya cuma sama mama aja? Apa papa nggak lihat ya? Jihan yang menahan sakit ini gara-gara menopang badan mama yang berat. "
" Maaf. "
Satu kata yang membuat Jihan tersenyum.
" Dengan satu syarat. "
" Apa syaratnya? "
__ADS_1
Aduh kenapa aku malah melihat drama rumah tangga sih ? Kan kan, jadi ke ingat dia.
Merasa terabaikan.
" Permisi? "
--
" Eh iya, maaf maaf. Saya sampai tidak melihat kalau kalian masih disini. "
" Duduk ! " Sorot mata elang yang tadinya hampir saja lupa akan sesuatu.
" Ma, kenalkan. Dia adalah Ali Arman Wardhana. "
Deg !
Lho.. Bukannya mereka tadi berkenalan ya menggunakan nama Ali Arman Daulay. Eh belum kenalan deh akunya aja yang baca-baca sosmed. - Batin Jihan.
" Apa! Papa bercanda ga? Jangan sembarangan pa, ingat ! Nyebut ! ! " Mencoba membuat keraguan di hati Ali.
" Tidak. Aku tidak akan beristighfar, dia benar anak ku. "
" Pa, bagaimana papa bisa mempunyai anak yang usianya jauh lebih tua dari Jihan. Papa itu, papanya Jihan. "
" Ma, jadi selama ini kau belum menjelaskan apa-apa pada putri kita? "
" Baiklah. Sekali lagi papa akan membuka ingatan masa lalu yang tidak pernah papa lupakan. Perkenalkan, nama dia Ali Arman Wardhana. Ia adalah kakak kamu. "
Deg !
Dengan bibir yang bergetar. " Kaaa..kakak... ? "
Kakak ? Aku punya kakak? Astaga ini seperti mimpi? Tapi, bagaimana bisa? Bahkan akulah nama anak yang paling pertama yang berada di angka 3 setelah mereka?
" Iya, benar. Kakak. "
" Papa, nggak bisa begitu dong ! Jangan macam-macam deh, papa apa nggak ingat? Polisi saja tidak dapat menemukan anak kita, dan mereka pun menyerah. Masa dengan datangnya pria ini, papa langsung percaya. "
Apa? Dia menganggap ku berbohong ! Dasar wanita tamak ! ! Ibu ku yang melahirkan aku kau sanggup membunuhnya dengan keji. Dan sementara itu aku kau buang jauh dari sosok pahlawan super Hiro ku. Jahat sekali kau bibi.
Bahkan setelah kejadian itu dan berlalunya waktu hingga bertahun-tahun, kau masih sama dan kau malah menjadi lebih parah.
" Ada benarnya juga apa yang di katakan istriku. "
" Tuan Ali, jangan mudah percaya dengan baj,- "
A'yunina hampir saja kelepasan bicara dan Ali sempat dahulu memblokade omongan Yuni.
__ADS_1
" Jangan berbicara kasar, nyonya. Saya bisa saja langsung mengusirku dan membatalkan kontrak kerjasama kita yang sedang berjalan. "
" Kau ! ! " Muka Arman sudah mulai memerah padam. Ibaratkan obat nyamuk yang terkena kertas sedikit saja akan menjalar kemana-mana.
" Arman ! " Menahan tangan anaknya yang sudah menggenggam erat sedari tadi menahan emosinya.
" Bu. Wanita ular ini sudah berhasil meracuni pikiran ayah ku Bu. Ini tidak benar ! ! " Bicara pelan.
" Lalu? Jika kau bertindak kasar, maka itu di benarkan? Begitu,- "
Arman Dian seribu bahasa. Yang dikatakan A'yunina benar adanya. Seorang anak tidak boleh melakukan kekerasan kepada orang tuanya. " Hemp.. Jika anda tidak percaya, anda boleh datang ke RS **** tepat di jalan ****. Saya dan anak saya akan menunggu anda di sana. Tapi, jika anda tidak datang pula pukul 14 siang. Maka anda, kehilangan kesempatan untuk di panggil ayah oleh anak kandung anda sendiri. Saya permisi. "
Arman masih terbengong di sana. Sedangkan A'yunina sudah terlebih dahulu berjalan 2 langkah menjauh ke arah pintu. " Arman, kau tak ingin pulang bersama ibu? "
" Eh iya Bu. Saya tunggu kedatangan anda, tuan Ali. Permisi. "
****
Di suatu malam yang sangat indah, bintang bertebaran di langit. Angin semilir mengiringi malam yang spesial bagi seseorang yang akan menyatakan cinta. Dengan gaun yang di berikan ya, Mutia sedikit memoles wajah indahnya itu.
" Alamat.. Ini gadis perawan dari mana? Cantik banget.. " Goda Tasya.
" Bibi ! Jangan meledek ku ! " Cemberut menunjukkan wajah masamnya.
" Acie cie .. Yang mau ketemuan. Walah bibi di balap lagi. " Ucap Imelda.
Sejak beberapa bulan belakangan, Mutia meminta mba yang menjaga anak-anaknya memanggilnya apa saja. Terkesan di sengaja, karena ia merindukan adik sulungnya yang harus ia tinggalkan bersama ibundanya.
" Ih ! ! Imel, jangan meledek ku ! "
" Hihihi .. Ayo bi, kita ke depan saja... Ayo Zhafran dan Zhalina, kita ke depan saja. "
" Eh iya.. Kita ke depan saja. Dari pada godain dia terus, nanti tomatnya malah menjadi busuk lagi karena tersiram air hujan. "
" Bibi ! ! "
Di suatu sisi.
" Bagaimana? Apakah cowok tengil yang bernama Bintang itu, masih sering mendatangi istriku? "
" Emmmm.. I-iiyyaa tuan. Bahkan, mereka berdua akan bertemu malam ini. Dan saya mendengar informasi, kalau bintang akan menyatakan perasaannya kepada nyonya. "
" Apa ! ! Benar-benar! Kau urus yang di sana, jangan sampai mereka menjadi satu. "
" Siap, laksanakan. "
Rasa kesal yang menjalar ke ubun-ubun, ingin sekali kepalanya itu ia benturkan dengan sangat keras ke daun pintu. " Sial ! "
__ADS_1