
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
Dengan sangat teliti gadis yang selalu menggerai rambutnya itu membaca satu demi satu tinta yang terlukis di kertas putih itu.
Deg!
Dan benar saja. Surat rumah itu memang sudah atas nama Ali Arman Daulay.
" Bag..bagaimana?? Bagaimana ini bisa?? " Seperti mendapat shock terapi, gadis itu gemetar.
" Bagaimana bagaimana... Ya jelas itu ibumu yang menandatanganinya. Kenapa kau begitu kaget? Bukannya tadi menyombongkan diri, sampai berani mengusir pemilik asli rumah ini. "
" Tap..tapi tapi bagaimana mungkin? "
" Tanyalah kepada ibumu sendiri. Sekarang tolong ikut aku. "
Mutia hanya pasrah tidak mau melawan karena ia bingung. Saat ini ia belum bekerja dan bagaimana nasibnya dan ibunda kalau ia sampai di usir.
" Tunggu sebentar. "
" Nona, mau ngapain? Jangan macam-macam. "
" Apa sih!! Aku belum mengabari ibuku. Ibuku saat ini sedang tidur, siapa yang akan memberi tahunya kalau aku pergi? "
" Naufal, kau urus ibunya. "
Yah lagi-lagi kena deh aku. Nasib asisten miris banget ya? - Batin Naufal.
"Si..siap bos. "
^^^*^^^
Di sepanjang jalan mereka berdua terdiam seperti orang yang sedang bertengkar. Sampai di rumah megah Daulay. " Ayo turun!! "
" Iya, bawel! "
" Kok rumah Lo, sepi? Katanya ibu Lo ada perlu Ama gue? "
Arman diam saja tak menjawab. " Bu Marni, Mirna! "
" Alamat tuan besar sudah datang. "
" Siap mas, Mirna siap membantu. "
" Lho kamu kesini lagi? Alhamdulillah, nyonya besar nanyain kamu terus. Kamu tahu nggak semenjak kamu balik dari sini, nyonya nggak berhenti melamun. "
Sejak kapan aku memberi tahu kabar ibu? Bahkan sejak kapan ibuku melamun terus? Seperti tidak mempunyai pekerjaan lain saja? - Batin Arman.
" Sudah-sudah! Kamu ambilkan baju-baju bagus. "
" Hah... Untuk apa mas? "
" Cepat ambil saja! " Teriak Arman.
" Mas, tapikan-- " Terhenti.
__ADS_1
Baju itukan milik non Wina. Apa mas Arman yakin? Itu kado yang akan mas Arman berikan kepada dirinya. ) Bisik Mirna.
Aneh,, kenapa mereka malah berdiskusi? Apa jangan-jangan, dia sudah ada istri dan pembantu itu menyuruh Arman meminta ijin kepada istrinya untuk meminjamkan baju untukku? - Batin Mutia.
" Eh tuan! Walau aku dari keluarga yang berkecukupan. Tapi, baju yang sudah aku kenakan ini lumayan juga harganya. "
Kau bilang itu baju! Itu hanyalah keset yang pantas diinjak-injak! Bahkan para pembantu pun lebih baik dari cara berpakaian mu itu, kuno!! - Batin Arman.
^^^*^^^
Tatapan tajam kepada Mirna membuat Mirna bergerak cepat. " Non, non lebih baik ikut saya saja ya? "
" Tidak! Baj.. "
Jangan bertingkah aneh non, mas Arman suka kelainan. Kadang sikapnya seperti Monster kadang baik seperti ice mencair. ) Bisik Mirna.
" Ayo Bii, terlalu lama disini bisa-bisa bola mata itu akan keluar dan menjadi sop makan siang hari ini. "
Astaga wanita ini sungguh berani. Jika saja ia tahu sikap tuan Arman sesungguhnya, dia tidak akan berani berbicara bahkan menatap. - Batin Mirna.
^^^*^^^
" Dasar gadis aneh! "
Trringg
" Telpon dari siapa itu! Aku butuh berendam, dasar telpon nggak tahu tempat!! "
" Halo, bicara dengan cepat. Aku masih banyak waktu. "
" Waktu apa yang kau habiskan, Man? Jangan memforsir pekerjaanmu. Ingat, permintaan ibu!! Jika tidak kamu penuhi, ibu sendiri yang akan tinggal bersamanya!! "
" Eh iya iya Bu, tenang Bu. Arman sudah menemukan apa yang ibu idam-idamkan. Tunggu sebentar, orangnya masih Arman suruh pakai baju yang layak pakai. "
" Bagus. Segeralah jalan kesini. "
" Baik Bu baik. Arman akan memanggilnya. "
Tanpa disadari Arman, Mutia sudah siap dengan gaun gang menurutnya tidak pas di badan.
" Apa lihat-lihat!! Mau aku congkel matamu!! "
" Apa sih! Jangan ke gr.an dulu deh. Buruan jalannya jangan kayak keong. Ibuku sudah menunggumu sedari kemarin tahu!! " Alih-alih Arman.
" Kenapa jadi aku yang di pojokan terus. Hey lelaki angkuh!! Jangan terlalu keras seperti Ulin, nanti kalau sedikit saja berlubang maka akan sakit rasanya. "
Mutia tidak bisa berjalan cepat, karena gerak langkah kakinya saat ini benar-benar terbatas. "
Ini gaun atau apa sih? Seperti borgol yang menjerat tanganku saja. Sempit!! Mana paha di umbar begini. - Batin Mutia.
Didalam mobil, Arman menyesali perbuatannya.
Sial!! Kenapa aku bisa sampai terpesona dengan gadis kampung yang aduh kampung atau kolam bebek itu. - Batin Arman.
^^^*^^^
*Rumah sakit
__ADS_1
" Dewa? "
" Iya Bu? Apa yang bisa saya kerjakan? "
" Tolong dong, kamu kupas kan mangga mangga itu. Soalnya menantu saya mau datang. "
" Hah? Menantu? Setahu saya pak Arman tidak pernah memiliki hubungan kekasih atau pacar Bu. "
" Iya, dia memang tidak pernah memiliki pacar atau kekasih. Tapi, selir selir yang seperti gulali menebar di sekitar anakku. Dan aku tidak menginginkan anak dari gulali gulali yang tidak jelas bentuk bebet bobotnya. "
Glekk!
Dewa terkejut. Bagaimana nenek tua ini bisa tahu, sedangkan dia sendiri saja sudah menyimpannya rapat-rapat. " Iii..ibu tahu dari mana?? "
" Kau kira mataku cuma dua saja, hah!!!Dengan berkata seperti itu, kau sudah meremehkan kekuatan insting seorang ibu. "
" Tapi, nyonya bos. Pak bos Arman tid-- "
" Sudah jangan beralasan demi membela anak kurang diajar itu. Apa perlu, saya kirimkan video panas itu ke nomer mu? "
" Jangan nyonya. "
^^^*^^^
Tibalah mereka berdua dengan tangan yang masuh berpegangan tangan. Ceklekkkk
" Lho Dewa, kamu kenapa malah bengong? "
" Anu bos. "
" Arman, dimana permintaan ibu? Kau bawa kesini atau ibu yang akan turun sendiri ke sana? "
" Eh iya Bu iya. Jangan turun dari ranjang, keadaan ibu masih cukup lemah. "
Cklekkkkk pintu dibuka bagai sebuah tirai keberuntungan.
Wajahnya tak membuah wajah Aklesh. Wajah itu benar sangat mirip, apa benar bayiku yang dulu sedang berada di hadapanku? - Batin A'yunina.
" Bu, jangan bengong dong. Arman kan, sudah membawakan pesanan yang ibu minta. "
Plak!
" Pesanan pesanan! Emang dia itu barang apa? Yang bisa dibeli sesuka hatimu!! "
" Nak, sini. "
Ibu Ayu tiba-tiba menangis lagi, entah sindrom yang di idapnya atau memang ingin menangis.
" Bu, jangan menangis. Arman paling tidak suka jika ibu menangis lagi. Apalagi karena wanita ini! Arman tidak suka Bu. "
" Arman, bisakah kamu bersikap lebih lembut lagi? Dia ini calon istrimu. "
" Bu, Arman tak ingin menikah. Arman hanya ingin mengabdi untuk ibu, selama ibu masih ada. Dan masalah menikah, jangan nikahkan Arman dengan di Bu. Arman mungkin bisa menikah dengannya, tapi hati Arman tetap ke Wina Bu. "
" Nak, ibu hanya ingin yang terbaik. Jangan membuat ibu kecewa untuk kesekian kalinya kamu memberi jawaban. Wina tak pantas untuk keluarga kita nak, jika dia pantas? Dia tidak akan menjajaki dirinya kepada pria hidung belang. "
Deg!
Bagaimana ibu bisa tahu? Apa ia selama ini memantau kegiatanku. - Batin Arman sangat kacau malam sore itu.
__ADS_1