
LIKE
Mutia mencoba tersenyum ramah di hadapan Tasya. " Eh, nggak ada maksud kok. "
" Iya saya tahu. Mari turun, kamu sudah sampai di desa kami. Selamat datang. "
Riuh gemuruh saat Mutia turun dengan baju dan sepatu hak tinggi yabg ia gunakan. " Pelan-pelan, disini nggak cocok dengan sepatu yang kamu pakai saat ini. "
" Hehehe iya. Tapi, aku nggak punya sepatu yang lainnya. "
" Tenang saja. Nanti biar aku yang urus. "
" Tapi, aku nggak ngerepotin bibi, kan? "
" Insyaallah nggak. "
Mutia membawa satu orang pengasuh yang memang di pilihkan Dewa. Warga memandang ke arah Mutia, mereka tak habis-habisnya berpikir. ' gadis cantik begitu? Kenapa dia mau tinggal di desa? Bukannya di kota sangat berlimpah ya? Dari segi kesehatan, gaya hidup? Pasti di kota jauh lebih mumpuni. '
" Permisi ibu ibu, bapak bapak. "
" Eh iya, bidan Tasya? "
Tasya berhenti ketika sudah sampai di depan rumahnya. " Ibu-ibu, bapak-bapak, Ade Ade sekalian disini. Perkenalkan, namanya Muti. Dia adalah istri dari majikan saya. "
Semua orang berbisik kembali. ' Kenapa dengan statusnya istri malah nggak tinggal bersama suaminya? Apa jangan-jangan dia janda lagi? '
" Iya, ibu ibu. Perkenalkan, nama saya Muti. "
" Dan perkenalkan juga, bayi yang ada di gendongan Muti adalah anaknya. "
" Lalu, yang di sebelah itu siapa? Kok dia megang bayi juga, Bu bidan? "
" Aduh maaf maaf, saya lupa. Kenalkan, namanya Imel. Dia adalah pengasuh anak saya. "
" Lho mbaknya lahir anak kembar? "
" Alhamdulillah, Bu. "
" Lalu, dimana suaminya? "
Tetangga ada yang menyambut baik dan juga yang menyambut mereka dengan sinis. " Suami saya? "
" Aduh ibu ibu, maaf. Ibu Muti, baru saja melahirkan seminggu yang lalu. Jadi, biarkan beliau memerlukan istirahat yang cukup. Karena beliau melahirkan dengan cara sesar, jadi bekas dari persalinan itu masih memerlukan beberapa hari lagi untuk sembuh. "
Ucapan dari gadis yang baru saja menyandang gelar bidan berhasil membuat para tetangga mengerti dan mereka pun pulang. " Nah sudah pergi, Ayuk anak-anak aku yang comel.. Imel, biar aku yang gendong. "
" Eh ini mbak. "
Di dalam ruangan itu nampak jelas foto-foto keluarga Dewa. Dewa yang masih kecil dan tidak mempunyai gigi pun terpajang di sana.
" Kenapa Mut? "
" Eh nggak bi. Ini fotonya mas Dewa ya? "
" Iya, dia Dewa. Jangan dilihatin terus, nanti kamu naksir. "
" Hahaha bibi bisa aja. Nggak mungkinlah, tapi ngomong-ngomong? Kenapa mas Dewa nggak nikah nikah? "
" Wah kalau soal itu jangan tanya ke aku. Dianya memang rada pilih-pilih. "
" Hem begitu... "
__ADS_1
" Kamu kalau mau tidur di kamar tengah aja y? Soalnya kamar depan punya aku. Dan kamu Mel, kamu tidur di kamar belakang. Untung saja kamarnya ada 3. "
" Lha.. Emangnya kenapa bi? "
" Soalnya Dewa cuma bilang kalau anak majikannya mau tinggal di sini. Dan saya kira cuma kamu sendirian aja. Dan maaf ya Mel, soalnya kamar belakang belum aku bereskan. "
" Eh iya Bu. Nanti biar saya bereskan sendiri. "
" Hem.. Sekali lagi maaf Mel. "
Imel tersenyum..
^^^**^^^
Dalam ruangan ber-AC, namun tak mampu membendung keringat yang membasahi wajahnya. " Kemana? Kemana Mutia pergi. "
" Mutia, aku salah, baru juga kamu tinggalin aku beberapa jam. Kenapa hati ini terasa sakit, uneg-uneg yang biasa aku sampaikan selama 7 hari ini kepada mu. Terasa seperti tertahan. Siapa yang berani menculikmu ! "
^^^**^^^
A'yunina bersantai dengan menyeruput teh hangat di gelasnya. " Sedapnya.. "
" Nyonya, permisi. "
" Ada apa bi? "
" Hari ini kita akan memasak apa? "
" Bibi saja ya? Yang masak. Saya lagi malas masak. Dan kan non Mutia mu kan nggak lagi ada di rumah. "
" Baik nyah. "
Saat tiba di dapur.
" Bu. "
" Iyah apa ! " Dengan nada sewotnya.
" Ish ish ibu kenapa mani sewot pisan atuh. Mirna cuma mau tanya, kita hari ini masak apa? "
" Apa aja deh, ibu juga nggak tahu? "
Saat memotong wortel, tiba-tiba mereka di panggil. Dari arah ruangan itu yang menggema. " Marni, Marni. "
" Nyonya. " Pelan.
" Nyonya kenapa Bu? "
" Ibu juga nggak tahu, ayo kita ke sana. "
Mereka bingung kenapa dengan mata sang nyonya. " Ada apa nyonya? " Memecah tatapan Yuni.
" Itu tu.. Kamu buka pintu sana, grab udah nyampe barusan. "
" Grab? nyonya ngerti tentang grab? "
Yuni tersenyum.
" Jelas nggak ngerti. "
" Lalu, siapa yang pesan? Atau jangan-jangan kamu ya Mirna? " Tatapan Marni seperti sang pemangsa.
" Eh eh kok ibu jadi nuduh Mirna, sih ! ! " Kesal Mirna.
__ADS_1
" Eh ehh Marni. Bukan Mirna yang pesan, tapi Putri. "
" Tapi, non Putri kan nggak lagi ada di rumah Nya? "
" Iya, dia ada eskul karate hari ini. "
" Yah kok nggak ngajak Mirna? "
" Kamu kan sudah bisa nduk. "
" Bisa apa? Mirna hanya bisa kayang aja Nya. "
" Hahahaha kamu ini ada-ada saja. Nantilah saya bilang ke Putri, kalau kamu mau ikut. "
" Jangan Nya, jangan selalu turuti kemauan Mirna Nya. Nanti dia kelewat batas. "
" Nggak, insyaallah. Iya, kan? Mirna. "
Tersenyum, ia tahu jalan pikir sang nyonya kali ini. Senyum itu menandakan agar ia juga berkata sama dengannya. " Iya, Bu. Tenang saja, kan hitung-hitung Mirna bisa jagain non Putri. "
" Nah itu yang saya mau. Cepat gih, buka pintunya. Takut mas-mas nya sudah menunggu lama, dia nanti bete lagi. "
^^^**^^^
Sampailah Mirna pada depan pagar.
Dengan wajah yang menawan, memakai baju seragam hijau hitam.
" Maaf, grab yang antar makanan ya? " Takut salah Mirna mulai berbasa-basi.
" Eh iya, mbak. Saya ingin mengantarkan ini, totalan pesanannya 235k mbak. "
Deg serrrr...
Jantung Mirna berdetak kencang.
Ya Allah Gusti.. Ini ada apa dengan jantungku. Nggak! nggak mungkin aku terkena serangan jantung, mendadak kan? - Batin Mirna.
" Mbak.. "
" Eh iya apa mas? Nomer ponsel ya? Duh Mirna nggak hapal mas. "
" Eggghhhh ? ? " Grab itu nampak bingung.
Orang Rafa kurang kah? Kok ngomongnya apa? Di jawab apa sih?
" Mirna ! ! "
" Alamak ! Ibu. "
" Cepat ! Perut ibu dah lapar ! "
Aduh si ibu. Kalau teriak memang nggak perlu pakai toa. Keras dan jelas, aduh maafin calon mertuamu ya mas.- Batin Mirna, berkhayal dikit bolehlah.
" Ini mas, uangnya. Soal nomer ponsel, nanti kita ketemuan di taman depan sana ya.. "
" Eh iya iya mbak. "
^^^**^^^
Di tengah malam, bayi perempuan itu terus saja menangis. Mutia sampai bingung harus berbuat apa? Apakah ini pertanda kalau bayinya merindukan ayah nya? " Bu, ada apa Bu? "
" Eh ini. Zhalina nggak mau diam dari tadi. "
__ADS_1
" Sini sini.. Biar sama mbak. Siapa tahu mau diam, benarkan cah ayu.. " Kesigapan Tasya.