
Malam haru pun tiba.
Mutia menghampiri kamar anak-anaknya.
" Sayang sayangnya ibu.. Muah muah. " Mengecup pipi gembul mereka berdua lalu menggendongnya kanan dan kiri.
" Kalian pasti lapar ya? Mari kita kebawah. Kita lihat, bibi memasak apa untuk kita. "
Dengan senyum yang merekah. Menggunakan daster kancing yang diantara dari kancing atas itu tidak terkunci dengan benar. Hingga menonjol lah belahan dadanya.
Mutia tak ingin memberikan susu formula terlalu banyak. memberikan susu formula boleh saja baginya, namun... Asi lebih kaya manfaatnya. Jika di kombinasikan dengan susu formula pasti akan sangat bagus. Begitulah menurut Mutia.
" Selamat malam semuanya.. " Dengan penuh ceria menuruni tangga.
Arman yang melihat itu sedikit khawatir.
" Tak bisakah kamu memberi tahu ku? Aku bisa membantumu. "
" Tidak apa. Aku bisa melakukannya sendiri kau tidak usah secemas itu kepada kami. "
" Baiklah. "
Malas berdebat dan menimbulkan masalah yang akan semakin membuatnya dan Mutia menjadi tambah renggang. Arman memutuskan untuk membukakan kursi lipat untuk ke dua baby Z.
__ADS_1
" Ayo anak-anak Daddy.. Duduk disini dulu ya . Biar bundanya mamam dulu. Kalian biar Daddy yang menyuapinya. "
" Bi... Bubur ce**** sudah siap kan? " Tanya Arman.
" Sudah siap tuan. " Memberikan bubur itu pada Arman.
" Eh itu apa? Jangan-jangan! Anak-anakku tidak boleh memakan itu. Kalau kamu mau makan ya Ndak apa. Tapi, jangan untuk anakku. "
" Kenapa Mut? Bukannya ini juga makanan bayi ya? "
" Huh! Pokoknya jangan. Tunggu! "
Tuan nggak tahu saja kalau nona muda itu nggak pernah mengasih bahan-bahan pengawet bagi anaknya. Dia selalu membuatnya penuh kasih sayang. Bukan yang instan.
Itu apa? Muntahan sayur kah? Atau hi.. Kenapa mirip sekali dengan rumput sapi.. huek..
Batin Arman.
Arman terlihat gugup. Aromanya memang sedap, tapi perpaduan warna itu yang membuat Arman merasa ingin memuntahkan isi perutnya. " Kamu kenapa? " Tanya ibunya.
" Iya, ih. Mas Arman kenapa? Mukanya sampai merah begitu 🤣🤣 .. " Tanya Putri.
" Mas.. Nggak kenapa-kenapa kok. "
__ADS_1
Mutia cuek, dia pun duduk. Di kursi yang sudah di siapkan. " Ayo anak-anak ibu.. Kalian mam dulu ya.. "
" Diga diga.. Gugugu. .. " Al.
" Aghhuu ghuu.. " El.
" Sabar sayang.. Masih hangat, ibu tiup dulu ya . Fuh... "
Dengan telaten, ya begitulah Mutia mengurus buah hatinya. Namun, kalau dia benar-benar lelah barulah ia menitipkannya kepada Imeldianti.
Begitu sabar kau mengurus zuriat ku. Aku sampai merasa bodoh paling bodog. Manusia yang tak cukup dengan kata puas. Selalu mencari yang sempurna di mata namun belum tentu di hati.
Matanya berkaca-kaca. Namun, siapa sangka Mutia melihat itu semua. " Mas ... Kamu kenapa? Segeralah makan? Mau di ambilkan mbak dulu kah? " Tanya Mutia.
" Eh nggak nggak. " Menggeleng tak mau.
" Ya sudah. Jangan nangis mas, masa cowok nangis. Nggak lucu nanti kalau Zhafran dan Zhalina melihat momen Daddy nya menangis. "
" Uhuk ... Kakak menangis? Astaga cengeng sekali. Lihat baby, Daddy kalian itu ratu melow kalau sudah begini ceritanya. "
...----------------...
Fitting baju.
__ADS_1
Ya mereka sekarang sedang melakukan fitting baju. Walaupun bukanlah pernikahan pertama bagi Mutia. Hari dimana tepatnya 7 hari dari tanggal yang di tentukan. Mutia dan keluarga memesan baju yang senada. Tak lupa, gaun itu terancang amat indah.