
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
Saat bidang penyadapan yang dibayar oleh Arman tak menemukan titik terang dimana posisi Wina.
" Bodoh ! Bagaimana kau tidak bisa mendapatkan info! Kau sudah aku bayar cukup mahal, tapi!! " Sangat murka kala itu Arman.
" Naufal ! Segera suruh perusahaannya untuk. memecatnya ! Biar biayanya mahal, aku tetap menginginkan dia untuk di singkirkan dari pekerjaannya. "
" Tolong jangan pecat saya. " Memohon hingga ia sujud mencium kaki Arman bila perlu ia akan lakukan.
Namun, Arman begitu emosi. Ia melepaskan cengkraman IT itu dengan menendang perutnya. Dan langsung keluar dengan membanting pintu.
Brakkkkk ! ! !
" Pak saya mohon.. Jangan pecat saya. Saya harus bekerja apa jika saya di pecat dari pekerjaan ini. " Malah berganti memeluk kaki Naufal.
" Maafkan saya pak. Saya benar-benar tidak bisa menolong bapak, tapi saya ada ini. Bapak bisa melamar pekerjaan di sana. " Ucap Naufal sambil membantu berdiri dan memberikan secarik kertas yang didalamnya sedang membutuhkan karyawan baru.
" Bapak bisa datang ke alamat ini. Maaf saya harus ke kantor bapak dan meminta bapak di pecat terlebih dahulu. Karena perintah bos, adalah amanat bagi saya. "
" Hiks hiks hiks iya nak. Memang beginilah nasib sebagai karyawan. "
" Saya permisi. "
Berjalan cool dan memakai kacamatanya.
Setelah keluar dari kantor, ia memandang di sekelilingnya. " Lho lho lho.. Ini mobil gue kemana? " Dia bingung sendiri.
Ting sebuah pesan masuk.
Mobil untuk sementara ini saya bawa. Kamu bawa saja mobil kantor. - Bos rese.
" Edahhh mentang-mentang situ bos. Huh! Nasib nasib. "
^^^**^^^
Disisi lain, Mutia sekarang membuka cabang bisnis baru dengan merekrut para ibu-ibu rumah tangga yang bingung ingin memenuhi kebutuhan dapurnya ketika uang gaji suami tidak bisa memenuhi. " Selamat pagi bu ibu? "
Dengan senyum ramah dan menenteng tas kecil. " Eh Bu Mutia, selamat pagi. "
" Selamat pagi. "
" Pagi bu. "
__ADS_1
" Saya masuk dulu ya Bu, jika ada yang kurang paham bisa ketok pintu saya langsung atau bisa menghubungi asisten saya Novita untuk keperluan yang lainnya. "
" Baik, Bu. "
Dengan telaten dan juga mengasah menggambarnya. Sejak kecil memang hobinya menggambar. Namun, setelah kesibukan sekolah menengah pertama membuat gadis itu terhenti selama 3 tahun. Dan selang di umurnya sekarang barulah ia mulai menggambar kembali.
" Sepertinya ada yang kurang dengan gambar ini tapi apa? " Mengamati dengan seksama.
Walaupun bidang menggambarnya ini sudah beda, dulu ia hanya menggambar apa saja model baju. Saat ini ia harus menjahit jika senggang. " Ah iya.. "
Mulai mengambil pensilnya kembali dari menorehkan grafit itu ke buku.
Brakkkkk pandangannya tetao tertuju pada gambaran sketsa yang ia buat, namun mulutnya yang menjawab.
" Novita, hati-hati kalau masuk. Nanti kamu jatuh. "
Brakkkkkk menggebrak meja. Seseorang itu datang dengan emosi yang menggebu sepertinya. " Arman? "
Mutia bingung. " Iyah. Ini aku Arman. "
" Ada perlu apa kamu kemari? Jangan mengacau disini ! Atau kamu mau masuk ke penjara karena menganggu kenyamanan seseorang? "
" Katakan ! Dimana istriku ! ! ! "
" Istri? "
" Host host host ma...maafffff..buu... Saya.. Huh huh huh. Telat. "
" Ini bukan salah kamu, Nov. Jangan meminta maaf, biarkan dia disini. Biar masalah ini cepat berakhir. "
" Ba..baik Bu. "
Setelah Novita pergi.
" Dimana istriku! Kau pasti sudah menyembunyikannya dariku. Kau memang wanita yang menjijikan! Kau itu tak lebih dari pemulung di sana ! "
" Istrimu? Kenapa tanya kepadaku? Istri itu tanggung jawab siapa sih? " Kemudian Mutia menutup bukunya dan bangkit sambil berjalan di belakang Arman.
" Istri ya tanggung jawab suami. Mangkanya aku tanya, dimana istriku! "
" Lalu? Jika istrimu hilang? Aku gitu yang kau salahkan? Hey! Kamu sadar nggak? Kamu itu udah tidak bersikap adil pada dua istrimu. Mungkin saja kali ini teguran dari Allah. Karena kamu, sebagai seorang pria yang mampu dan berkecukupan tidak mampu untuk menyenangkan hati istri-istri mu. "
" Jangan pidato disini Mutia! "
" Aku tak berpidato. Aku hanya menjelaskan kepada kamu. Untuk apa aku menyembunyikannya? Tiada guna aku menyembunyikannya.. Uang dan harta tahta dan keluarga aku sudah memilikinya. Untuk apa aku menculik istrimu yang tidak ada harganya itu? Para hidung belang pun, tidak ingin melihatnya. "
Plakkkkkk satu tamparan membuat Mutia murka. " Puas? Hemmmmmm... "
__ADS_1
Arman malah bingung? Kenapa Mutia tidak merasa kesakitan? Padahal dia memukulnya dengan tenaga yang cukup.
"Kenapa? Kaget? Oh tuan Ali Arman Daulay. Kau tak tahu? Dengan siapa dirimu berhadapan... "
" Katakan sekarang! ! ! Atau aku akan membunuhmu. "
" Membunuh? " Kemudian Mutia mengambil pisau buah yang tertancap pada buat apel.
Sring sring... " Baiklah.. Kita akan melihat, siapa yang akan meninggal terlebih dahulu. Kau, atau aku dan juga bayi mu? Hemmmmmm. "
" Kau sungguh licik wanita rubah !! Hasil tes DNA itupun belum kau berikan kepadaku ! Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa janin yang ada di kandungan mu itu adalah anak ku? Bisa saja kau tidur dengan laki-laki lain, dan lagi pula aku pernah melihat itu. "
Plak ! ! !
Pukulan sangat keras mengenai wajah tampan Arman. " Apakah sebegitu rendah kah aku di mata mu? "
" Iya. Kau hanya wanita rendahan yang datang ke ibu kota dan merebut ibu yang sudah merawat ku. "
" Ya iya ya.. Dia memang ibu yang merawat mu. Tapi, apa kau pernah berpikir? Aku di temukan di tempat sampah, dan masih baik saat itu aku di temukan ibu Regina. Jika tidak, aku tidak akan tahu lagi bagaimana nasibku. Kau tahu? Kau masih beruntung. Hiks hiks hiks.. Kau beruntung. Sudah di rawat oleh ibuku. Tapi, aku sedikit ragu? Apakah didikan ibuku, juga berpengaruh dengan sikap mu saat ini? Ku rasa, itu memang tabiat orang tuamu. "
" Apa kau bilang ! ! ! "
Walaupun Arman tak bertemu lagi dengan ibunya semenjak 22 tahun silam. Ia tak pernah mengijinkan orang lain untuk menghinanya. Ia mengeraskan rahangnya. " Pergilah. Aku ingin beristirahat. "
" Katakan dimana Wina ! "
Mutia hanya tersenyum miris.
Sebegitu cintanya kamu dengannya? Aku sudah lama menanti dan menanti. Kapan aku bisa di cintai oleh suamiku sendiri. Tuhan, apakah aku harus berpisah dengannya? Aku tak tahu lagi, apakah aku akan kuat menghadapi ini. Sementara, kandunganku sudah semakin besar. Orang-orang memang mengetahui ku sudah menikah. Namun, mas Arman sendiri jarang pulang ke rumah. Bahkan hanya sekedar menengok atau menyentuh perutku. - Malangnya nasibnya.
Namun tetap berusaha tersenyum.
" Aku benar-benar tidak tahu. "
Kemudian ia mengambil telpon untuk menghubungi seseorang. " Datang kesini. "
Tut menutup panggilannya.
" Cepat Mutia! ! Katakan dimana Wina! "
" Maaf Bu. Telat. "
" Tidak apa. Dan kamu mas . Kamu bisa bertanya kepada staf butik dan juga asistenku. Apakah Wina si pelakor itu ada disini atau tidak? Kau boleh menanyakannya pada mereka. "
" Dia bukan pelakor. Dia istriku, ingat! Wina istriku. "
" Terserah mu, mas. Novita, tolong kamu bawa dia keluar dari sini. "
__ADS_1
" Baik Bu. "