
Ke kantor karena kewajiban yang harus ia pegang. Tak memandang dengan membawa dua anak sekalipun, apa salahnya..
Mutia memasuki kantor miliknya dan menyapa seluruh pegawainya dengan senyuman.
: Ibu Presdir masih bisa tersenyum. Aku salut padamu Bu... Andai aja aku punya kakak cowok, pasti sudah aku jodohkan kepadamu Bu. Biar tidak perlu repot-repot meredakan kesedihan.
: Ye... Itu mah kemauan kamu. Kalau aku punya kakak juga pasti aku jodohkan... Sayangnya aku anak tunggal. Sudahlah, kita kerjakan saja tugas yang ini dari pada Lena semprot dengan Bu Mayang. "
Tok tok tok...
Ketukan pintu mengejutkan Mutia yang tengah memeriksa berkas yang ada.
" Masuk. " Mencoba tegas.
Chika masuk dengan membawa teh di tangannya. " Permisi Bu.. "
Sudah menjadi kebiasaan Mutia selama dia menjabat sebagai kepala Presdir di kantor miliknya sendiri, meminum teh hangat di pagi hari. " Silahkan. "
Dengan melihat sekilas dan mengecek berkas miliknya kembali. " Terima kasih, Chik.. "
" Sama-sama Bu. " Berdiam di tempat.
Sempat ragu apakah dia harus menyampaikan ini atau tidak. Mutia yang merasa risih saat dirinya di tatap oleh Chika. " Ada apa, Chika? "
" Eh anu Bu... Ehmmp.. Begini Bu.. Di depan ada seseorang yang ingin melamar kerja Bu. "
" Kau tahu sendiri bukan?? Perusahaan kita sedang tidak membutuhkan tenaga lagi. Semua sudah penuh terisi. "
__ADS_1
" Saya tahu, Bu.. " Gemetar memegang ujung lengan bajunya.
" Kau kenapa gugup seperti itu.. " Tanya Mutia.
Pasti ada yang tidak beres.
" Anu Bu... Katanya dia temannya ibu yang berada di kampung. "
" Hah... Teman? Lelaki atau... "
" Permisi, " Wajah yang pernah ia kenal. Dan menemani dia disaat masih di kampung orang.
Chika menoleh. Mutia pun mendongak sedikit, dengan menyamping kan leptop dan berkasnya. " Lho... Bintang. . . "
Chika mendengar nama orang asing di sebut.
" Bu.. Bintang adanya di malam hari, kenapa ibu memanggilnya di siang bolong begini.. " Ingin sekali Chika bersorak seperti itu.
Satpam itu melaporkan.
" Sudah, tidak apa-apa pak. Kalian boleh berjaga kembali. "
" Baik, Bu. "
" Chika, suruh dia masuk. "
" Ibu mengenalnya? " Tatapan bingung.
__ADS_1
Mutia yang sangat tidak suka di bantah dan perkataannya di ulang tak merespons pertanyaan Chika.
( Huh... Untung bos.. )
Chika membuka pintu itu dengan lebar.
" Silahkan masuk. "
Wajah yang nampak biasa saja saat Chika memandang nya.
: Dasar pria angkuh.
" Silahkan duduk. Dan kamu Chika.. Silahkan kembali ke ruang kerja mu lagi. "
" Apa ibu yakin? Apakah ibu mengenalnya? Ibu.. Lebih baik saya disini berjaga-jaga kalau pria songong ini berbuat macam-macam kepada ibu. " Entah mengapa seakan tensi darah Chika meningkat.
" Tidak perlu, Chika. Lebih baik kamu pikirkan bagaimana caranya agar investor investor lama itu kembali. "
" Bagaimana bisa Bu.. Sedangkan saja mereka tidak ingin bekerjasama kepada kita karena pimpinan kita perempuan... Ups.. . "
Mutia memicing kan matanya.
" Itu tugasmu. Dan aku tidak mau tahu, mereka harus kembali. "
" Ba..baik Bu... Kalau begitu saya permisi dulu. "
Investor yang menarik saham dari perusahaan memang tidak begitu banyak dan berpengaruh bagi Mutia. Tapi, jika berlama-lama maka akan bernasib kepada karyawan nya. Dan dia tidak ingin mengambil resiko.
__ADS_1
Chika keluar dengan wajah yang sangat sulit di ungkapkan.
: Bagaimana caraku untuk membuat mereka kembali.. Chika kau memang bodoh.. ! !