
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
******
Di tengah panggilan itu tertutup. " Siapa yang nelpon? " Interogasi dari sang ibunda.
" Astagah.. Ibu.. Mirna sampai kaget Bu. "
" Ibu tanya, telpon dari siapa? "
Tanpa basa-basi, Mirna langsung memeluk sang ibunda. " Ibu.. Akhirnya.. Akhirnya.. "
" Akhirnya kenapa? " Masih tidak mengerti.
" Itu Bu.. Yang di tanyain mas Arman, akhirnya nelpon juga. "
" Yang benar kamu, Mir? "
" Iya Bu. "
" Alhamdulillah.. Beban ibu sudah terlepas akhirnya.. " Mirna memeluk sang ibunda secara hangat.
" Iya Bu. Akhirnya beban Mirna akhirnya juga lepas. Semoga mas Arman juga mengijinkannya untuk merawat nyonya ya Bu. "
" Aamiin. "
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi menjelang, ia bangun sebelum subuh menjelang. Ia menyiapkan baju dan juga tak lupa meminta kepada yang maha kuasa untuk melancarkan keinginannya untuk bekerja.
Sreng sreng sreng..
Adukan nasi dengan bertabur kecap dan telor tertumpah dalam wajan. " Awal yang bagus, semoga ke depannya aku bisa mencari kerja yang lebih baik lagi. "
" Lho.. Mutia, kamu sudah bangun nak? "
" Iya Bu. Ini dimakan Bu. Mutia harus berangkat lebih awal lagi Bu. Mutia takut, jika Mutia terlambat lagi.. Maka, Mutia akan terlepas lagi pekerjaan ini. Dan Mutia tidak ingin menyesal yang kedua kalinya karena telat berangkat. "
" Iya nak, iya. "
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan peluh yang melanda pakaian yang sedang ia kenakan. " Kira-kira.. Ini kah ya? Tapi.. Kalau di lihat dari sini.. Ah semoga saja. " Ucap seorang gadis dari seberang jalan.
Tok tok tok...
Beberapa ketukan tidak lantas membuat pintu terbuka. " Na na na na. " Seseorang sedang bersenandung.
" Astagah.. Apa dirumah ini tidak ada orang ya? Sampai di ketok pun... Tidak terdengar? "
Mutia tak putus asa. Ia mengulanginya, lagi dan lagi. Sampai beberapa menit kemudian.
" Mirna!!! " Panggil seseorang dari belakang.
Namun, tiada jawaban sama sekali. Kemudian ia melihat sekeliling Mirna. " Ya ampun.. Anak ini!! " Membuatnya geram.
Marni menarik paksa earphone yang tengah ia pakai, lalu membuangnya pada sofa. Lalu menarik telinganya. " Aduh.. Duh ibu.. Sakit tahu, Bu. " Mengusap telinganya, setelah cengkraman sang ibu terlepas.
" Berulang kali! Ibu udah peringatkan kamu! Jika sedang dalam mode bekerja, kamu harus bekerja yang serius. Jangan sambil mengerjakan hal yang tidak penting. "
__ADS_1
" Emang ada apa sih Bu?? Lagian nggak ada tamu juga?? "
" Kamu dengar tu?? "
Tok tok tok...
Mirna langsung tersadar.
" Ya ampun, ada orang ternyata. "
" Mirna Mirna. " Menggeleng lalu kembali ke tempat penggilingan baju.
...****************...
" Eh ada tamu, rupanya. "
" Eh.. Iya mbak, assalamualaikum. "
" Wa'alaikumsalam, kamu yang mau kerja disini ya? "
" Iya, mbak. Apa tawarannya masih? "
" Masih, mbak. Ayo masuk dulu. "
Mutia memang katrok atau bagaimana, ia bahkan tak lepas dari pandangan lampu yang menggantung tepat di atas di ruang pertama ia pijak. " Mbak.. Ayo duduk di sini. Jangan sungkan ya, oh iya.. Saya pamit sebentar ya, mau panggil yang punya rumah dulu. "
" I..iya mbak. "
Datang dengan menggunankan baju yang biasa ditemani syal yang menjulang.
Terlihat tomboi. Mutia memang suka pakaian yang simpel namun, masih terlihat sopan.
" Iya, masuk saja nak. "
...----------------...
" Bu, di depan ada tamu. Kemungkinan besar akan menjadi penjaga ibu selama tuan dan mas Arman ke kantor. " Dengan lembut.
" Ibu masih kuat sendiri nak. Di rumah ini, kan masih ada kalian. "
" Anu.. Bu. Sebenarnya, mas Arman sendiri yang memutuskan untuk mencari asisten ibu. Takutnya, ketika ibu Mirna dan juga Mirna tidak mendengar panggilan ibu. Dan sedangkan ibu, tengah memerlukan sesuatu dan memerlukan kami untuk mengambilnya. Begitu Bu. " Penjelasan yang sedkit belibet.
" Hais.. Kamu ini. Kenapa mau maunya saja di suruh tuan mu itu. Ya udah ayo.. "
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Telah tiba, dari jarak yang sangat dekat.
Gadis itu lagi, kenapa gadis itu lagi. Beberapa hari ini aku selalu saja memimpikan dia, tapi ada hubungan apa ini sebenarnya? - Batin
" Bu.. Ayo kita temui. Kalau tidak, maka tuan Arman akan marah kepada saya. "
Huh! Mirna Mirna.. Kamu ini, nggak berubah berubah dari dulu. - Batinnya berseloroh.
" Iya iya. "
*
" Ayo, Bu duduk. Pelan-pelan. " Ujar Mirna setelah menaruh bantal pada sofa yang akan di duduki majikannya.
" Hemp.. Bu. Seperti yang sudah Mirna jelaskan tadi. Ini adalah calon asisten ibu, jika ibu memerlukan sesuatu? Atau ingin makan apa? Ibu tinggal bilang sama dia. "
__ADS_1
" Si....siapa nama kamu? " Sedikit gemetar.
Ibu ini.. Lho, jika ini adalah rumah Daulay. Lalu, jika ini ibunya. Berarti? Astagah.. Berarti pria congkak itu, berada disini juga. - Batin Mutia.
" Nama saya Lista Mutia Sari, Bu. "
Nama itu.. Ah tidak.. Nama itu bukanlah nama bayi yang aku berikan dahulu. - batin A'yunina.
" Umur kamu? "
" 22 tahun, bu. "
Tapi, jika di umur.. Kenapa inj? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa jangan-jangan, hanya dugaan saja? Lalu, jika benar terjadi.. - Batinnya terus membuat A'yunina kembali merasa teriris. Semenjak kejadian itu, A'yunina menjadi seseorang yang pendiam.
" Bu ... Ibu kenapa? Apa ada yang salah? " Mirna panik.
Tangis itu makin menjadi.
Mirna panik, " Haduh.. Bagaimana ini, Mut? "
" Say...saya juga nggak tahu mbak? "
" Bu.. Ibu! " Memanggil Marni.
" Apa sih! Kamu ini teriak-teriak. Walau ibu sudah tua, tapi pendengaran ibu masih bagus. "
" Bu.. Coba lihat, kenapa dengan Bu Yuni. Tangannya menggenggam erat baju itu. Lalu, pipinya keluar air mata. Sebenarnya apa yang terjadi, Bu. "
Astagah.. Nyonya. Apa jangan-jangan, nyonya masih memikirkan anaknya yang di tukar dirumah sakit waktu itu? Jangan bilang. - Batin Marni.
" Tenang, Mir. Sekarang, coba kamu hubungi den Arman. "
" Udah, Bu. Tapi, tadi ponselnya nggak aktif. " Memukul-mukul ponselnya di telapak tangan sebelahnya.
" Coba lagi. " Sedikit menggertak.
Apa? Jadi, benar. Jadi, alamat kena semprot lagi. Kemarin, ibu ibu ini juga merespon seperti ini. Lalu, sekarang. Ya Tuhan, masalah apa lagi yang harus hamba hadapi. - batin Mutia.
Ia hanya orang luar, ia ingin menolong. Namun, ia bingung harus bagaimana. " Gimana? "
" Ponselnya aktif sudah Bu. Tapi, lagi-lagi.. Panggilannya tidak di jawab. "
" Ais! Sudahlah, sebaiknya ibu menghubungi dari telepon rumah saja. "
Mirna mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arman setelah mendapat kabar, bahwa.. Orang yang sangat ia sayangi sedang menghadapi masalah. " Assalamualaikum! "
" Bagaimana ini bisa terjadi! Bi!!! "
Habislah aku. - Batin Mirna.
Datang sih sudah benar, mengucapkan salam. Tapi, nggak juga harus pakai nada kenalpot juga. Langsung naik pitam. - Batin Mutia.
*
" Den.. Maafin, kami den. Kami benar-benar tidak mengetahui. Apa yang terjadi, namun.. Jika dari pengamatan saya.. Ibu Aden, teringat akan putri tunggalnya. "
Ya.. Ali Arman Daulay memang bukanlah anak kandungnya. Ia adalah anak yang sengaja di tinggalkan oleh orang tuanya di sebuah keramaian kota 10 tahu yang lalu
__ADS_1