
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
Hiks hiks hiks kenapa nasib ku sangat jelek gini sih... Udah menikah tanpa cinta, di madu pula. Alamat semoga aku bisa kuat. - Batin Mutia menerima pasrah dengan keadaan.
" Sayang, aku ingin buah apel. " Menggelendot manja.
Dasar! Pelakor nggak berakhlak!! - Batin Mutia.
" Kenapa melihatnya seperti itu? " Tatapan yang mengerikan mulai memancar seperti meteorit yang hendak mencium bumi.
" Ah tidak-tidak. Tadi, kamu mau apa nona? Apel, ya? Sebentar ya, saya ambilkan dahulu. " Senyum yang palsu, sebenarnya Mutia berani hanya menghadapi Wina saja.
Tapi, nyalinya sangat ciut, jika berhadapan dengan seseorang yang berstatuskan suami baginya. Sebelum ada kata perpisahan, atau talak yang terlontar. Mutia akan mengalah, mungkin ada saat-saat nya dia sedikit berani.
" Sayang aku ingin apel itu sekarang. "
" Ohohohohoho nona cantik nan manis. Sebentar, Mutia yang imutnya nggak abis abis akan datang membawa pesanan. Oke? Jadi, tunggu sebentar. Beri Mutia waktu untuk mengupas dan mengirisnya. "
^^^*^^^
" Besan, bagaimana kabarnya sekarang? Maafin saya, saya sebenernya ingin sekali sering-sering kesini. Tapi. apa saya saya. Di umur yang cukup lanjut jika berpergian tanpa ijin anak saya itu rasanya,- "
" Iya, Bu besan. Nggak apa kok. Saya juga mengerti, kemarin Mutia juga baru dari sini. "
" Jeng bagaimana kalau jeng pindah di rumah saya? Biar nggak kesepian lagi gitu maksud saya? "
" Iya bibi. Benar yang di katakan ibu. Bagaimana kalau bibi tinggal bersama kami? "
" Saya.. "
" Tidak bisa Bu, nanti saja kalau saya tak sanggup menjaga diri saya sendiri. Saat ini dengan adanya perawat dan juga pembantu yang turut mengajak anak mereka tinggal disini, membuat saya tidak merasa kesepian lagi Bu. "
" Benarkah? Oh syukurlah... Jika kurang apa-apa, nanti tinggal bilang kepada Arman atau Mutia saja ya besan. Jangan sungkan, saya tak merasa keberatan kok. "
^^^*^^^
Perjalanan pulang yang sangat padat merayap biasanya di lalui oleh kendaraan yang ada di perkotaan. " Bu, kapan kita nyampenya? " Rengek Putri.
Putri tak lagi dikirim belajar yang cukup membuat A'yunina merindukannya. " Sabarlah dikit nak, jangan marah.. Kamu mau? Uban akan lebih cepat tumbuh dengan emosi meletup begitu? "
" Ibu nah, bukan masalah sabar Bu. Tapi, perut Putri nggak bisa diajak berteman kali ini. "
" Kenapa dengan perutmu? Bukannya tadi pagi baik-baik saja? "
" Nggak tahu nih bu? " Mencengkram perutnya.
" Makanan tempat Bu besan tadi sepertinya masih dalam wajarlah. Terus kamu sakit kardna apa? Apa kamu udah datang bulan? "
" Benar-benar Bu, Putri akan lihat kalender Putri dulu. "
Menggeser demi sebuah kalender di hp nya. " Nah dapat. Lah Putri dah telat Bu, harusnya hari ini. Tapi, Putri belum juva halangan. "
" Bukannya telat. Tapi, kayaknya memang benar kamu hari ini memang mau dapat haid. "
__ADS_1
" Yah yah gimana dong?? Rumah Kitakan masih jauh bu. Nggak mungkinkan, kalau Putri jalan keluar. " Ujarnya saat memegang jok tempat ia duduk.
" Haduh Bu, tembus. " Ujarnya secara berbisik.
" Gini-gini... Pak supir, saya pinjam jasnya? " Karena macet, supir itu bisa melepaskan jasnya dengan cepat tanpa ada hambatan.
" Ini nyonya. "
" Ini nih, kamu pakai dulu. Rumah kakak kamu kan, tak sejauh rumah kita. Lebih baik kamu jalan ke sana, dan tutup dulu pakai ini. "
" Apa nggak ada yang lain Bu? Akan terlihat aneh jika Putri berjalan memakai ini? "
" Sudah, dengar aja. Ini genting, nggak bisa request. "
" Huh! Baiklah. Putri ke sana dulu Bu. "
" Hemp.. Nanti ibu akan menyusul mu. "
^^^*^^^
" Selamat pagi, sayang. " (Cup) Arman mencium mesra wanita yang tengah mengandung buah hatinya.
" Pagi juga sayang. Hooaammmm. " Dengan lesu.
" Ada apa sayang? Katakanlah, aku akan mewujudkannya. "
" Sayang, aku ingin buah mengkudu. "
" Buah apa sayang? " Ujar Arman, karena ia baru mendengar nama buah itu.
" Buah mengkudu, sayang. "
" Ayolah.. Bukan Duku, tapi mengkudu. "
Arman frustasi dengan permintaan Wina kali ini. " Oke oke aku akan mencarikannya untukmu. " Terpaksa ia mengatakannya lalunia keluar dari kamarnya.
Nampak seperti orang stress memikirkan cicilan rumah. Arman masih terus mengacak-acak rambutnya. " Lho lho tuan muda. Stop! Rambut tuan akan rontok nanti. "
" Peduli apa kamu! Udah, lebih baik kamu buatkan kopi untuk saya. Ingat! Tanpa gula. "
Ting tong bel bunyi sangat nyaring hingga membuat Arman makin tambah kalut. " Siapa sih, pagi-pagi begini udah mau namu aja! " Dengus nya.
" Mutia!! Mutia! " Namun tak ada tanggapan.
" Huh sudahlah, lebih baik aku buka sendiri aja. "
Krekkkkk.
" Siapa sih pagi-pagi,- "
" Kakak.. " Memeluk langsung.
" Eh eh ada apa ini? "
" Kakak.. Ada kakak ipar nggak di dalam? Putri memerlukan bantuannya kali ini. "
Sedikit tidak paham. " Haahh bantuan? Bantuan apa? Kakak ipar mu ada, tapi dia sedang membuatkan kakak kopi. Ayo masuk dulu. "
__ADS_1
" Baiklah, Putri yang akan menyusulnya. "
" Tidak perlu, biar dia ke sini saja. "
" Ayolah kak, kali ini kakak nggak bakalan ngerti. Ini masalah perempuan. " Putri berlalu menuju dapur.
" Masalah perempuan? Berarti cowok, dong? "
*
" Kakak ipar! "
" Eh Putri, kapan ke sininya? "
" Eeeee anu, Putri baru saja datang kesini. Sebenarnya, Putri ada perlu sama kakak. "
Mutia terheran saat ia menumpahkan air hangat yang baru saja mendidih ke cangkir yang sudah berisi kopi. " Haahhh perlu apa? "
" Pelan-pelan kak, itu yang kakak pegang teko air panas. "
Setelah selesai mengaduknya. " Kamu sangat penting perlunya dengan kakak? "
" Sangat kak. "
" Lebih baik, kamu ke kamar kakak saja dulu ya? Kakak mau antar ini sebentar. "
" Baik kak. "
*
" Tuan muda, ini kopi anda? "
" Urusan apa yang membuat adik ku sangat memerlukan mu ketimbang aku, kakaknya? "
" Aku pun tak tahu tuan muda. Saya pamit ke kamar saya dulu, untuk mencari tahunya. "
" Hemp. "
^^^*^^^
" Aaakkkkhhhhhhhh!! " Teriakan menggema di seluruh ruangan.
" Astaga itu kan? Jangan-jangan.. "
" Tepi, Mutia. " Berlari menuju kamar atas.
Sesampainya di sana.
" Ada apa kamu teriak-teriak? "
" Sayang.. Aku sama sekali nggak ngapa-ngapain adik kamu kok. Malah aku yang sangat terkejut, dia langsung teriak saat pintu kamar ini terbuka lebar. " Berlari dan memeluk lengan sang kekasih.
" Kkk....kkaaakkakkkk.. Bagaimana perempuan ini bisa ada disini? " Gugup dan menunduk ke bawah.
" Sayang.. Hey, tenanglah. Aku tidak menuduh mu. "
" Dia akan menjadi kakak ipar keduamu dek. " Singkat padat dan jelas ungkap Arman.
__ADS_1
" Apa!! Bagaimana mungkin? Kakak jangan bercanda, lalu.. Kenapa kak Mutia diam saja!! Jangan mau di poligami dengan wanita j***ng kak!! "
" Sudah tiada guna lagi untuk melarangnya adik ipar. Dia sedang mengandung calon keponakan mu saat ini. " Ujar Mutia dengan sendu.