
Sesampainya di depan rumah Wina.
" Mas.. Ayo turun... "
" Mas masih takut Mutia.. Gimana kalau... "
" Mas.. Apapun yang terjadi kita harus menjadi orang jujur. Apapun itu, walau kita menyakitinya setidaknya tidak dengan kebohongan. "
Setelah perkataan Mutia tadi, Arman akan menanggung walaupun dia harus di pukuli atau pun di Jambak oleh mereka.
Memberanikan untuk mengetuk pintu.
Dengan tangan yang sangat dingin karena kegugupannya. " Ma... Ada orang yang ketuk pintu tuh.. "
" Hah? Siapa ya kira-kira? Masa Wina pulang sih, kan nggak mungkin.. "
" Sudah ma, mending di buka aja dulu. Mana tahu ada yang mau mengundang slametan begitu. "
" Baik, mas. Ani buka kan dulu. "
..
" Kalian.. "
Dengan wajah yang sangat terkejut.
" Assalamualaikum, ibu. "
Mengulurkan tangan dan Ani pun menyalaminya dengan rasa bingung.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam... "
Sang suami pun datang menghampiri karena terlalu lama di luar. Kenapa tamunya tidak di ijinkan masuk saja.
" Ma, kenapa tamunya tidak di suruh masuk saja? "
" Eh itu mas... " Menoleh kebelakang dan membuka pintu secara lebar.
" Lho.. Arman... "
" I...iya pak.. "
Menolah ke kanan dan ke kiri.. Dan sepertinya yang di cari cari tidak dia temukan.
" Lho... Kamu ke sini sendirian saja Arman? "
" Nggak sendiri om, saya disini untuk menemani mas Arman. "
Tanya Ani dengan bingung...
" Eh siapa ya saya? Huh saya, kenalin Tante... Saya, istri pertama mas Arman Tante. "
" Istri pertama? Bagaimana bisa? Arman kan menikahi Wina putri kami, dan di KUA juga KTP Arman masih lajang. "
" Hehehehe .. Ada daya saya Tante, saya cuma istri simpanan.. Istri yang tak di rindukan... "
Deg perkataan Mutia membuat Arman teriris.
" Hah... Istri siri... Kok kamu mau mau aja sih di jadikan istri siri.. " Ibu Ani pun merasa tidak terima apa yang sedang di katakan Mutia baru saja.
__ADS_1
" Why not Tante.. Saya tidak apa.. asal dia bahagia. Kami menikah tanpa cinta, jadi tidak masalah baginya... Benar begitu tuan Ali Arman Daulay... Tapi, maaf dengan sangat Tante dan om. Kedatangan kami kesini bukan maksud tanpa tujuan. Kami hanya ingin menyampaikan bahwa... " Mutia melihat kearah Arman dengan mata meng-kode supaya ia saja yang berkata.
" Maafkan saya Bu.. Sayat tidak sengaja menyenggol anak ibu dan dia terjatuh ke kandang harimau. "
" Oh ke kandang harimau.. Lalu.. .."
Nampaknya Ani belum menyadari.
" Iya Tante. Tapi, suami saya tidak sengaja. Lantai mansion kami dari marmer dan ntah mengapa kesenggol sedikit mbak Wina masuk ke dalam kandang harimau. "
" Hah.. Anak ku.. Anakku baik baik saja kan? Kamu pasti menolongnya bukan, Arman? "
Namun, harapan seorang ibu nampaknya harus percuma saja. Di lihat dari sorot mata Arman yang tak berani menatap keduanya.
" Maafkan suami saya Tante, dia tidak berani menolong harimau itu karena jam-jam mbak Wina jatuh kemarin adalah jam makan siang di putih. "
" Apa! Kau... "
Hendak meninju Arman. Namun, pandangannya teralihkan dengan melihat istrinya pingsan terlebih dahulu.
" Tante.. " Teriak Mutia saat mendapati ibu Wina pingsan di tempat.
" Istriku .. Ma.. Bangun ma... "
Mengangkat sang istri ke dalam rumah.
" Tante.. Pasti akan baik-baik saja om. "
Dengan tatapan mata sinisnya menatap Mutia.
__ADS_1
" Apa pedulimu hah ! ! Kau adalah duri dari hubungan putriku dan juga suaminya. "
" Slow om. Putrimu lah yang mengemis cinta kepada suamiku. Dan untuk kata yang om sebutkan tadi,-