
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
3 bulan berselang. Rasa mual dan yang lainnya yang membuatnya menjadi lebih kurus dari sebelumnya telah berhasil dia lewati. Wina mulai beraktifitas seperti biasanya, kali ini kelakuannya membuat Mutia harus istighfar lebih dalam.
" Hey! Kesini! " Perintahnya.
" Ada apa nona? "
" Saya ingin pergi keluar, jika Arman mencari ku katakanlah kalau sedang ke tempat temanku. "
" Baiklah. Nanti aku akan sampaikan. "
Berdandan menor, jalan bagaikan peragawati.
Selama ini pernikahan Wina dan Arman hanya siri. Mereka akan melangsungkan secara resmi bila bayi yang di kandung Wina telah lahir. Rasa ragu hanya beberapa persen saja. Arman sangat menyukai anak kecil, dan Wina tahu akan kelemahan Arman itu.
Saat telepon rumah berdering.
" Halo. "
" Iya, ada apa tuan. "
Wanita ini.. Kenapa dia yang malah mengangkat telpon ini? - Batin Arman.
" E..eeehemmmpp ke..kemana Wina? "
" Nona Wina sedang keluar, tuan muda. "
" Apa! Keluar kemana dia? Kenapa tidak memberitahuku dahulu. "
" Tadi, nona berpesan kalau dia ke rumah temannya saja. "
" Kau yakin? "
Mutia mengangguk. " Benar tuan. "
Kali ini Arman percaya saja, mungkin Wina merasa jenuh. Sebab itu ia keluar tanpa ijin darinya terlebih dahulu. " Baiklah. Jika dia sudah sampai, suruh ia menelpon ku. "
" Baik. "
Status sebagai istri (sah). Tapi, perlakuan seperti pembantu. " Aku istri, dan aku juga pembantu. " Sedih meratapi dirinya sendiri.
Setelah ibunya Regina tahu akan Arman menikah lagi. Keadaan ibunya semakin memburuk. Dan tepat seminggu ijab itu terdengar, ibunya meninggal. Dan meninggalkan suatu wasiat. " Nak, sebenernya ibu bukanlah ibu kandung kamu. Ibu hanya menemukanmu di tong sampah bersama bapakmu waktu itu hujan sangat lebat. Hingga kami memutuskan untuk membawamu pulang. Nak, carilah identitas mu... Ibu sudah tak sanggup lagi berada disini. " Pesan yang selalu terngiang.
" Ibu hiks hiks hiks. "
^^^*^^^
__ADS_1
Di sebuah Bar.
" Hay girl.. " Sapa seseorang dari sudut yang berbeda.
" Hemmmppp... Saga.. Kau kah ini! " Ungkap rasa yang tak kalah bahagianya.
" Yes baby.. Saga mu telah kembali.. "
" Oh sayang.. Aku merindukanmu.. " Peluk erat yang terbalaskan.
" Aku juga. Muahhhh apa kabarmu sayang.. " Mengelus perut Wina tanpa canggungnya.
Namun, pelukan itu beringsut mengendor. Wina mulai melancarkan aksi marahnya. " Hey sayang.. Kenapa kau malah menjauh. Di telpon kemarin kamu begitu manja kepadaku. "
" Itu kemarin. Sekarang beda. "
" Lho emangnya apa yang membuatmu beda? Aku kan sudah kembali sayang.. "
" Kamu kembali, tapi kamu tidak kembali dengan restu kedua orang tuamu, bukan? "
" Sayang.. Maaf, ibu sampai sekarang tidak menginginkan aku menikah. Umurku masih cukup muda sayang. Ibu akan menginginkanku menikah jika aku sudah berumur 35 tahun. "
" Apakah harus menunggu anakmu besar dulu? Dan apa kamu rela, jika orang pertama yang ia panggil ayah adalah Arman? "
" Tidak! Aku sama sekali tidak rela sayang, aku adalah ayah dari anak yang kau kandung. Jadi,- "
" Itu.. Sayang.. Jangan membuatku menjadi serba salah. Aku sayang pada kalian, aku.. " Terlihat sangat jelas raut kesedihan.
" Utututututu sayang sayangnya Wina.. Jangan mewek dong sayang, masa cowok cool gini mewek. Tenang saja, aku sama sekali tidak sedih sayang. Aku hanya mengerjai mu.. Hihihi. " Berlari pelan agar tak tertangkap Saga.
" Sayang.. Kau! "
Mengejarnya. " Cukup sayang. Kasihan pada baby kita, bahkan dia belum saja merasakan namanya dunia, tapi sudah kau ajak berlari seperti atlit saja. "
" Hihihi.. Aku sangat senang sekali. "
" Hah apa? Kau sangat senang melihat ekspresi sedihku ini. Kau sungguh ratu tega sayang.. " Menggelitik pinggang sang kekasih.
" Hahaha iya memang benar hahaha. "
" Kau benar-benar sudah membuatku seperti darah beku tadi. Kau tahu? Aku sangat takut jika kehilanganmu. Tanpa ada kabarmu sehari pun saja, aku sudah uring-uringan tak jelas. "
" Oh sayang.. Baiklah. Ternyata kau melapor hanya segini saja. Lemah! "
" Tapi, sayang. Itu kenyataan, bukan gombal yang ada di dapur. "
" Aku tahu apa yang sedang kau inginkan sayang. " Ujar Wina tepat sasaran sepertinya.
" Ah kau memang tahu. " Kemudian Saga menarik pinggang wanita itu hingga tak ada celah pun untuk lalat bernapas.
__ADS_1
" Sayang... Aku benar-benar sangat merindukanmu. " Busuknya secara lembut dengan hembusan nafas yang menderu.
Wina mulai terlena. Badannya mulai tidak bisa berdiri dengan tegak. " Sayang.. Apa kau,- "
Wina mengangguk. Lampu hijau sudah ia dapatkan. Tanpa malu, langsung mengangkat wanita berbodi **** itu keluar dari bar. " Oh sayang.. Apa kau bisa menggendongku seperti dia? "
" Apa kau juga sudah melihat bodi yang ada dalam dirimu juga, sayang? " Ujar salah satu pasangan kepada istrinya sendiri.
" Kau mengejekku!! Aku sudah melahirkan 4 buah cinta kita. Tapi, kau selalu saja mengejekku gendut. " Cemberut.
" Sayang.. Kau tahu sendiri. Aku tak mampu berbohong jika itu kebenaran. "
" Ya ya ya lupakanlah rencana mu yang ingin memiliki pemain sepak bola sendiri. " Langsung pergi meninggalkan suaminya sendiri.
^^^*^^^
A'yunina sudah berhasil menemukan, siapakah pembuang anak yang berusia 10 tahun di sebuah kota yang cukup besar. Walaupun bocah seumuran itu sudah mampu mengingat dan memberikan saksi kronologis kejadian yang ia alami. Namun, hasilnya nihil. Saat tiba di sana... Rumah itu sudah kosong dan tak berpenghuni. Bahkan tiada jalur pesawat yang tercatut nama orang tuanya. Namun, tidak menyerah.
A'yunina berpikir untuk jeda waktu pencarian alamat itu. Dan menunggu mereka keluar dari persembunyian mereka.
" Bagaimana Dewa? Apakah mereka sudah keluar dari hutan terpencil itu? "
" Sudah nyonya. Bahkan mereka sudah memiliki sebuah perusahaan yang cukup terbilang kompeten saat ini. "
" Wah kabar yang sangat bagus. Atur rencana agar PT. Daulay bekerja sama dengan mereka. "
" Baik nyonya. "
Dewa pun pamit undur diri.
" Aku akan melihat, bagaimana mereka akan terkejut. Melihat putra yang dia buang menjadi orang sukses sekarang. "
^^^**^^^
*Perhatian*** Agar membaca ini dalam malam hari.
" Sayang.. Malam ini kau sungguh cantik. " Menyentuh pipi Wina dengan lembut.
" Jadi, menurutmu.. Dahulu dahulu aku tidak cantik. Begitu? "
" Bukan sayang.. Kau sungguh pemarah rupanya. Apa ini karena faktor baby kita? "
" Jika iya kenapa? "
Wina mulai marah. Saga tak mau membuatnya marah. Ia memegang dagu sang kekasih lalu me****t nya dengan sangat rakus. Tangannya tak tinggal diam, mulai bermain di gundukan semangka itu.
" Sayang.. Aku sungguh menyukai ini.. " Tak tahan, hanya meremas saja.
Saga lalu merobek baju yang dikenakan Wina hingga menonjolkan sebuah benda yang paling ia sukai. " Apa aku boleh? "
Kenapa harus bertanya? Sedangkan dia tadi menyentuhnya tanpa ijin darinya. Benar-benar konyol. - Batin Wina saat ini.
__ADS_1