Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 21.


__ADS_3


LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..


*****


Ya Allah, berita apalagi ini? Suamiku ada main dengan perempuan. Dan di tambah ia sedang mengandung buah cinta mereka. Apakah Mutia harus menyandang status janda lebih cepat ya Allah? Bantu Mutia melewati ini semua dengan ikhlas. - Mutia sedih, namun juga bahagia. Sesosok malaikat kecil akan hadir di tengah-tengah keluarga Daulay.


Mutia masih menyimak pembi caraan mereka berdua. " Sayang tenang, oke. Kamu nggak boleh nangis. Setelah aku mengisi perutku, aku akan datang ke sana. "


" Hiks hiks hiks iya sayang. Aku akan menunggumu. "


*


Tap tap tap Mutia datang dengan penuh senyuman. Mencoba melupakan sesuatu yang sempat ia dengar tadi. " Tuan, ini ikan kembung gorengnya sudah siap. "


" Nah akhirnya selesai juga. Makasih ya, ambilkan nasi satu bowl. Sama mentimun di kulkas. Saya tunggu. "


" Siap tuan muda. "


" Ini tuan muda. "


" Hemp. "


Begitu selesai makan, ia langsung berpamitan. " Saya nanti tidak pulang, kamu bisa kunci apartemen ini. "


" Baik tuan muda. "


Mobil sudah hilang dari jangkauannya. Saat ia mengantar tuannya sampai ke dalam mobil, ia langsung naik ke atas.


" Sayang, kapan sih kamu akan datang? Aku sangat mual di sini. " Huek huek."


" Sayang, aku datang. Kamu kenapa sayang? "


Arman aneh melihat Wina sangat pucat dan banyak sekali kantong kresek yang berserakan. " Entah kenapa hari ini aku sangat mual sekali sayang. "


" Lho bukannya saat tadi aku pulang kamu baik-baik saja? "


Wina hanya mampu mengangguk lemah.


" Lalu, bagaimana muntahan muntahan ini ada? Apa kamu salah makan? "

__ADS_1


" Nggak. Aku sama sekali nggak salah makan sayang. Tadi aku sempat menelpon dokter keluarga ku, namun.. Ciri-ciri dari gejala yang aku alami itu karena aku sedang mengandung. "


" Tapi, bagaimana mungkin? Sebelum kita melakukannya, aku selalu melihatmu meminum obat itu sayang. Jadi, bagaimana mungkin kamu hamil? Atau jangan-jangan kamu masih ada main ke club'? "


" Nggak sayang, aku nggak pernah ke sana. " Sedikit gugup.


Aku memang sering ke sana. Dan memang iya, kamu sering mengingatkan aku dan kamu juga sering melihatku meminumnya. Maafkan aku yang telah berbohong. Aku hanya ingin, anakku terlahir dengan hadirnya seorang ayah. Sekalipun ia bukanlah ayah biologisnya sendiri. Apakah aku cukup egois? Aku memang harus egois, apapun demi anak yang ku kandung. - Batin Wina.


" Huh lalu bagaimana aku akan menjelaskan kepada orang tuaku, Wina. Kau kan tahu sendiri, kalau ibu ku saja tak pernah menyukaimu. "


" Mas, aku tak perduli jika aku harus berubah dan mendapatkan hati ibumu. Aku hanya ingin anakku memiliki ayah. Atau. jangan-jangan kamu yang tak menginginkan anak ini mas! "


Mencoba membuat Arman ragu dan kembali ke pendirian awalnya dengan mengeluarkan air mata buaya nya. " Sayang, nggak sayang. Aku ingin anakku terlahir dengan nama Daulay. Penerus Daulay tak akan ku biarkan seorang diri sayang. Muahhh, kamu tenang saja ya.. Biar aku yang akan menjelaskan ini semua kepada ibu. "


" Tapi, sayang. Aku sangat mual sekali tinggal disini sendirian. Aku sangat tidak bisa mengurus diriku sendiri. Jika aku pulang ke rumah orang tuaku. Mereka akan marah dan tak akan menerimaku yang sedang berbadan dua ini. "


Arman tanpa berpikir keras. Dia langsung mengatakan kalau... " Tinggal di apartemen ku saja. Di sana ada Mutia, aku yakin dia mau berbagi tempat tinggalnya dan mengurus mu. "


" Kau yakin? Aku tak ingin menyusahkan mu. "


Saat ini pun kau sedang menyusahkan ku. - Batin Arman.


" Tidak apa-apa sayang. Kamu tenang saja. Ayo sekarang kamu ikut aku. "


Arman menyemburkan dahinya.


Seperti sudah direncanakan saja? - Batin Arman.


^^^*^^^


Ting tong.


Mutia terbangun dari bobo cantik sambil menonton tv di sofa. " Loh ada bel? Siapa magrib magrib datang? Perasaan ibu baik-baik saja deh dengan maid. "


Ya. Sejak Mutia di pinang dengan Arman, ia mengerjakan pembantu yang sedia merawat ibunya dan ia hanya memberikan uang yang sebanding sebagai imbalannya. Terlihat jahat, tapi ia hanya ingin berbakti kepada keduanya. Suaminya tak mungkin mau tinggal bersama ibunya dengan satu atap. Mengingat sikap Arman yang begitu nolak kehadiran Mutia yang amat begitu besar.


" Siapa malam-malam begini namu? Masa ibu? "


" Ah buka aja. Mana tahu memang ibu? "


*

__ADS_1


Saat ia membuka pintu itu. Jeng jeng jeng senyum terukir di wajah Mutia. " Mas. " Ujar Mutia.


" Apa? "


" Eh iya maaf tuan.. Bukan maksud.. "


" Sayang, lama banget sih... Aku capek, aku ngantuk. Aku pengen tidur. " Tiba-tiba pandangannya teralihkan dengan adanya sosok wanita yang sedang merangkul lengan suaminya.


Mutia yang menatap pun membuat Arman berbicara. " Ngapain kamu lihat-lihat!! Mundur kamu, aku mau masuk. "


Kemudian Arman menoleh ke arah Wina. " Pelan-pelan ya sayang. Kasian anak kita kalau kamu tidak pelan-pelan. "


" Hemp.. Baiklah calon ayah. "


Tingkah yang sangat tidak sopan. Mencium suami orang, di depan istri sahnya sendiri. Apa otak mas Arman nggak pernah di saring apa ya? Masa dia malah senyum di cium wanita lain. Haduh, kenapa aku jadi sensi gini sih? Ingat Mutia! Mas Arman bukan suami sesungguhnya. Jika sesungguhnya, sudah pasti kamu hamil juga saat ini. - Batin Mutia.


Arman menggandeng tangan wanita itu masuk ke kamar mereka berdua. " Kamu sekarang tidur disini sama aku. "


Mutia yang tidak terima. " Lho tuan. Kalau nona ini tidur disini... Lalu, Mutia harus tidur dimana? "


" Mas, kamu tidur bareng sama dia? " Tanya Wina seakan menyepelekan gadis yang menurutnya biasa saja.


" Tidak sayang. Mas nggak pernah tidur sama dia. Mas kan keseringan tidur di apartemen kamu. "


" Oh iya ya.. Kan setiap malam kita ngadon terus. Nih bukti ngadonnya semoga bisa ngembang yang baik dalam perut mama. "


Deg.


Jadi yang menelpon mas Arman tadi.. Astaga baru saja aku menghilangkan pikiran status janda. Tapi, pelakornya sudah datang. Tamat sudah riwayat posisimu Mutia. - Batin Mutia.


" Kamu kan bisa tinggal di kamar belakang. Kamu tahu nggak, lebih baik kamu tinggal disana. Dan ya, perkenalkan dia calon istriku. "


" Tapi, tuan. Aku tidak ingin di madu. Aku paling benci dengan poligami tuan. "


Arman meliriknya dengan malas. " Emang saya memerlukan persetujuan mu? Dengan uang dan segala kuasa yang aku punya. Pendapat mu bisa aku beli dengan mudah di pengadilan. "


Hiks hiks hiks kenapa nasib ku sangat jelek gini sih... Udah menikah tanpa cinta, di madu pula. Alamat semoga aku bisa kuat. - Batin Mutia menerima pasrah dengan keadaan.


" Sayang, aku ingin buah apel. " Menggelendot manja.


Dasar! Pelakor nggak berakhlak!! - Batin Mutia.

__ADS_1


" Kenapa melihatnya seperti itu? "


__ADS_2