Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 90.


__ADS_3

Bintang menunggu sang ayah pulang dari rumah dinasnya. Alias di balai desa setempat ia tinggali.


" Kok belum ada pesan dari mbak Mutia ya? Apa... "


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang.


" Den bintang... Permisi.. Tok tok tok "


" Iya Bi. Ada apa? "


" Itu den, makan siangnya sudah siap. "


" Aduh bi, saya masih puasa bi. Maaf Bi, kalau sudah selesai semuanya bibi tutupin semuanya saja nanti biar saya panaskan sendiri. "


" Baik den. Kalau begitu bibi pulang dulu ya den.. "


Bibi seperti orang yang pikun. Ia lupa yang tidak puasa hanya dirinya. Entah kenapa di umur yang 38 tahunan ini ia masih berhalangan. Dari segi umur, bibi yang bekerja belum nampak sekali kerutan di wajahnya.


" Iya Bi. "


Bintang kembali menyalakan hpnya. Tak lama hp itu berbunyi.


" Mutia.. " Dengan senang hati dia mengangkatnya.


" Ya hallo, mbak.. "


" Hallo, juga Dad. Sorry dad, ini El yang menelpon. Bukan mommy. "


Hati yang tadinya gembira tiba-tiba murung kembali. Namun, ia mencoba menutupinya dengan cara tetap tersenyum.


" Oh iya.. Princess Daddy. Kamu lagi apa sayang? "

__ADS_1


" Lagi bermain dengan Chen Chen, dad. Daddy sendiri lagi apa? Daddy kangen nggak sama El? "


Gadis mungil itu terlalu cerewet. Ya memang cerewet namun tandanya gadis itu sedang merindukan bintang.


" Lagi bicara sama El, bukan? Kangen lah, masa nggak kangen sama anak Daddy sendiri. "


" Oh iya iya.. Hehhee.. "


Tok tok tok..


" Bin.. Bintang.. " Suara yang cukup berat menggelegar.


" Iya, yah. "


" Itu suara siapa dad?


" Oh, itu suara kakek. Kakek kamu. "


" Kakek ..."


" Mau dong El di kenalkan dengan kakek. El kan nggak punya kakek... Boleh nggak El panggil.. "


" Boleh sayang.. Boleh. Hmmm.. Sayangnya Daddy, Daddy masih ada perlu nih.. Daddy matikan dulu boleh telponnya? "


" Oke dad. Salam untuk Kakek ya? "


" Oke princess. "


Sambungan telpon itu berakhir.


" Sudah selesai telponnya sayang? "

__ADS_1


" Sudah mom. Rasa rindu El sudah sedikit berkurang. Kira-kira... Kapan Daddy akan balik ke sini lagi mom? "


" Ibu juga tidak tahu nak.. "


" Hemp.. Kalau rumah kakek, mommy tahu? " Tanya El.


" Eh.. Ngapain dek kamu pakai tanya-tanya alamat rumah kakek? Mau ngapain.. "


" Iya.. Kan mau mampir kak.. El kan nggak punya kakek, yang ada om dewa Mulu... Bosen, plus muka dinginnya itu lho yang membuat El enggan dekat-dekat om. "


" Lha.. Kok jadi saya nona kecil? "


Dewa tidak tahu menahu dan lagi pula ia baru saja datang dari pulang meeting menggantikan bintang.


" Kabur... " El berlari ke kamar.


" El.. Jangan lari-lari kalau naik tangga, El.. " Percuma saja teriakan Mutia sepertinya tidak berpengaruh bagi El.


" Sudah mom, biarkan saja El. Nanti juga dia bakalan balik lagi. "


" Untuk apa? "


Tap tap tap dan benar saja.. El kembali turun, setelah ia memeriksa permen coklat miliknya yang merasakan sudah di taruh di saku, tiba-tiba hilang.


" Kakak.. Mom.. Kalian lihat permen El nggak? Permen El hilang.. "


" Nggak. " Wajah datar plus dingin.


" Ih.. El nggak tanya kakak.. "


: Ini telinga Al yang salah atau El yang pelupa?

__ADS_1


" Oh ya sudah.. Berarti permen coklat ini buat kakak.. "


Sambil berlari dan di ikuti oleh El yang terus mengejarnya tanpa henti. Al mengoper permen itu kepada dewa. " Om dewa.. Tangkap.. " Ujar Al.


__ADS_2