
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
****
" Lo nggak apa-apa kan Bin? "
" Pala Lo nggak apa-apa ! ! " Langsung mengambil bolanya dan hendak cabut dari posisi yang sekarang.
" Lo mau kemana? Lo bisa jalan sendiri kan? "
" Gue masih sehat Dem, jangan anggap gue lumpuh. "
Demian yang akan takutnya di marahi lurah karena kejadian anaknya lecet saja sudah berulang kali. Dan Demian jengah akan itu.
" Ya sudah. Gue takut aja nanti pak lurah ngamuk sama gue karena nggak jagain anaknya yang bengil ini. "
" Lebai ! Lo aja yang Cemen. "
Melempar bola itu hingga menghantam perut Demian. " Uhuk uhuk. " Terjatuh.
" Urus itu otot-otot agar tidak menjadi otot distrofi. Dah gue mau balik dulu. "
Demian hanya mengamati Bintang yang sudah menjauh dari posisinya sekarang.
" Lha.. Katanya mau balik. Tapi, malah arahnya ke pinggir lapangan duduk-duduk lagi. "
Mengamati dengan seksama. " Walah cantik banget.. Pantas saja dia meleng tadi. " Demian menggeleng.
*****
" Ehem.. " Membuka perbincangan.
Mutia belum menggubris seseorang yang baru duduk di sampingnya.
Ngapain ini anak ABG? Dekat-dekat. Kaya punya nyali tinggi aja. Nggak lihat apa aku bawa baby. - Gerutunya dalam hati.
Sumpah ini cewek kaya tuli atau memang tuli?
" Maaf mbak? " Mulai memberanikan diri bukan ehem ehem lagi.
" Ah, masnya manggil saya? "
" Nggak. Saya manggil setan. "
" Oooh. " Mutia manggut-manggut dan mengalihkan pandangannya kembali.
" Mmmmmm warga baru ya? "
" Hem iya. "
Busyet dah.. Jawabnya seadanya aja ni cewek. - Batin Bintang.
" Keponakannya lucu ya? "
" Oh ini? Bukan.. Mereka anak-anak saya. "
" Oh, maaf maaf. Saya kira keponakannya? " Menggaruk pangkal kepalanya.
" Hem iya, tidak apa. "
" Lalu, dimana suamimu? "
" Kami sudah berpisah. "
^^^Flash Back.^^^
Mutia pergi dengan menandatangani surat cerai yang hendak Aan berikan padanya. Ia mendapatkan surat itu terjatuh di ruang tamu miliknya melalui Dewa. " Nona, maaf. Sebelum pergi, saya ingin memberi tahu. "
Saat Mutia hendak menaiki mobil yang membawanya pergi. " Iya, katakanlah. "
__ADS_1
" Surat? " Mutia bingung kenapa Dewa memberikan surat segala pada saat seperti ini.
" Iya, nona. Maaf sebelumnya, saya sudah menemukan surat itu tepat dimana nona kecelakaan kemarin. "
" Surat cerai. " Mutia terkejut, melihat tanda tangan Arman sudah berada di atas materai. "
" Benar nona. Sepertinya kedatangan tuan muda Arman hendak meminta tanda tangan anda agar bisa berpisah dengan anda nona. Tapi, setelah kejadian nona terjatuh. Mungkin saja dia lupa. "
" Ada pulpen? " Tanya singkat dan jelas Dewa.
" Ada nona. " Memberikan pada Mutia.
" Ini, aku kembalikan. Kamu langsung ajukan ke pengadilan. Aku ingin jika aku kembali lagi, semua hubunganku dengannya sudah berakhir. Seperti yang mas Arman inginkan, itu juga yang akan terjadi nanti. "
" Baik, nona. "
^^^**Flash Off.^^^
Tok tok tok..
" Ia, sebentar. " Murni membuka pintu.
" Apakah tuan Ali Arman Daulay ada di dalam? "
" Ada pak. Sebentar, biar saya panggilkan dahulu. "
" Ya. "
Arman tidak mengetahui hal apa orang yang memakai baju serba hitam dengan dasi berwarna senada mendatangi apartemennya.
" Ada perlu apa ya pak? "
" Maaf pak, mengganggu. Ini, surat tanggal persidangan pertama. Tanggal sekian, hakim berharap kedua belah pihak datang. "
" Maksudnya? "
" Pengajuan cerai sudah di terima di pihak pengadilan, saksi dan bukti sudah di kantongi. Tinggal bapak dan calon mantan istri bapak di harapkan hadir. Supaya upaya mediasi juga dapat di jalankan. "
Deg !
" Maaf pak.. Saya merasa, saya tidak pernah menandatangani seperti surat bahkan yang lainnya. "
" Maaf pak, soal itu kamu tidak tahu? Karena pencocokan tanda tangan anda dengan yang ada di surat cerai itu memang asli. Kalau ada yang lainnya bapak bisa menghubungi nomer saya. " Menaruh kartu nama itu pada meja.
" Saya permisi. "
^^^**^^^
" Akh! ! " Arman membanting vas bunga.
Pyaar !
" Aduh tuan, kenapa di pecah. Itukan harganya mahal sekali. "
" Bi, apa dosa saya sangat besar? Sampai-sampai Mutia ingin meninggalkan saya? "
" Sabar tuan. Mungkin saja Tuhan ingin mengangkat derajat tuan saat ini menjadi yang lebih baik dari pada sebelumnya. "
" Tapi, aku nggak mau pisah bi. Ada anak-anak saya yang harus saya beri kasih sayang lebih. "
" Iya, bibi paham nak. " Arman meringkuk di sudut ruang tamunya.
^^^**^^^
Melihat seseorang sedang berbincang dengan nona mudanya dia langsung menghampiri.
" Bu, maaf. Imel lama ya? "
" Nggak apa-apa Imel. Tapi, memang kayaknya kamu harus ganti baterai deh? Jalanmu sudah mulai lambat. Hahahaha.. "
" Ih ibu ! ! Emangnya saya robot? " Cemberut.
__ADS_1
" Ih ih sudah sudah. Jangan cemberut, nanti anak-anak saya takut lagi sama mbaknya. "
" Hehehe iya mbak. Ini pentilnya dan es kelapanya nanti ya mbak.. Soalnya saya nggak kuat kalau bawa sendiri. "
" Iya. "
" Hem.. Maaf, kalau boleh tahu? Nama mbak siapa? "
Imel dan Mutia menoleh secara bersamaan.
" Siapa? " Berbarengan.
" Mbaknya yang punya anak. "
" Nama saya M.. "
Tidak tidak ! Kamu tidak boleh memberi tahu siapa nama panjangmu.
" Nama saya Lista. "
Deg !
Kenapa Bu Mutia berbohong? Ya walaupun memang namanya itu juga sih? Tapi, nama panggilannya kan Mutia.
" Oh iya ya.. Nama saya Imeldianti, panggilannya Imel. " Ucap Imel, saat mendapatkan kedipan dari Mutia.
" Oh, bagus-bagus semua ya namanya? Pindahan dari mana? "
" Hem pindahan dari Sabang. "
" Dari Merauke. "
Sepertinya ada yang tidak beres dengan mereka berdua. - Mulai curiga.
" Maksudnya? "
" A E mmmmmm maksudnya.. Saya dari Sabang dan dia memang dari Merauke. Benar begitu Imel? "
" Eh eh iya iya.. Begitu. " Ujarnya saat Mutia sudah menyikut perut Imel.
" Lalu.. Apakah kegiatan kalian selama disini? "
" Aku hanya ingin meredakan luka. Jika luka ini sudah sembuh, aku akan kembali. "
" Dan kamu,- "
" Aku hanya menemani Bu mu, eh Bu Lista aja. Aku bekerja padanya sebagai pengasuh baby Z. "
" Btw? Kenapa kamu bisa memutuskan berpisah? "
" Mungkin memang sudah takdir. " Singkat jelas dan padat.
Seperti luka yang kau derita cukup dalam. Apakah kau bisa mengijinkan aku untuk mengobati lukamu?
" Apakah tidak ada kesempatan bagi pria lain yang ingin menjalani hubungan denganmu? "
" Sepertinya untuk saat ini belum. Kenapa? Kau ingin aku mencintaimu begitu? Hahaha.. " Mutia hanya ingin menghibur dirinya sendiri.
" Boleh? Jika kamu menginginkan itu. "
" Hahaha jangan bermain api jika kamu tidak ingin kebakar. Jangan menebar pesona kalau cinta pasti setia. "
" Aku serius. "
" Aku terlalu tua, dan umurmu masih terlalu muda. Aku tidak ingin menghancurkan masa depan seseorang yang pantas aku sebut dengan adik. "
" Benar begitu bukan Imel? "
" Iya, benar Bu. "
" Aku tahu, aku memang masih muda? Tapi. apakah aku tidak pantas untuk mencoba terlebih dahulu? "
__ADS_1