
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
Wanita yang kuat, jika pada dasarnya sudah rapuh. Maka jika terkena masalah sedikit akan goyah. " Maafin Mutia yang gagal Bu. " Dalam hatinya
Ibundanya sedang tertidur di ruang rawat inap.
Mutia menggenggam tangan yang sudah mulai menampakkan guratan efek usia yang mungkin sudah tak muda lagi. " Mutia gagal Bu. Mutia anak yang nggan bisa di andalkan. Mutia gagal tidak bisa membawa mas Arman pada jalan yang benar. " Batin Mutia.
Sebenarnya ia ingin berkata seperti itu. Namun, bibirnya tak berani untuk mengungkapkan. Hanya air mata yang terus saja mengalir seperti keran yang sudah lose.
Karena terkena basah. " Mutia, nak.. Kok ada hujan sih? " Ucap a'yunina sebelum mata itu membuka dan membulatkan matanya ketika mendapati anaknya membenamkan wajahnya di dekat jarum infus yang tertancap di tangan kanannya.
Mutia sepertinya sangat sedih? Ada apa yang terjadi? Apa anak itu berbuat yang tidak-tidak lagi kepada anak ku? Tuhan, lemas sehatkan aku. Aku akan membantu sekuat tenagaku untuk mempertahankan keluarga mereka. Aku tidak ingin kehidupan calon cucuku yang belum lahir nanti akan suram muram tiada secercah cahaya harapan untuk kasih sayang ayahnya. - Batin A'yunina.
Katika tangan itu mulai bergerak. Mutia menolah ke sebelah kanan untuk mengelap air matanya agar tidak di dapati oleh ibunya saat ia tengah menangis. " Eh ibu.. Ibu lapar ya? Mau makan sekarang? Biar Mutia siapin sekarang ya? " Hendak bangkit, namun di tahan.
" Ada apa Mutia? Apakah kau tidak ingin berbagi dengan ibumu ini? Apakah memang ibu yang baru merawat dan menemukanmu beberapa hari ini tidak pantas untuk berbagi suka dan duka mu nak? "
Mutia berbalik dan menggenggam tangan ibunya dengan kedua tangannya. " Ibu. Jangan berbicara seperti itu. Ibu adalah segalanya bagi Mutia. Dan masalah? Sepertinya tidak ada Bu? Hanya masalah buruk aja. "
" Kenapa dengan butik kamu? Apakah ada yang mengkomplen tentang rancangan mu? "
" Oh nggak nggak. Nggak ada yang komplen. "
" Jadi? Apakah hal yang membuatmu terharu begitu sampai-sampai tangan ibu kebanjiran rasanya bahkan seperti sedang ke lelep di sungai. "
Haduh ibu.. Jangan bertanya.. Aku harus jawab apa kalau begini sudah. - Mutia bingung sendiri.
" Ah iya.. Mutia terlalu bahagia Bu. Pelanggan baru berdatangan setelah Mutia melakukan endors kepada Ayu Rosmalina. Jadi deh mutaia terharu. Dan maaf sudah membuat ibu kebanjiran. Ibu percaya kan?"
" Hahahaha iya iya. Ibu percaya. "
Sebenarnya ibu masih ragu. Biar ibu akan menghubungi dewa saja. Ibu akan bertanya kepadanya setelah kamu pulang nanti. - batin nya.
" Hay Hay Hay.. Putri Gyana Daulay pulang.. "
" Wah wah wah ada kabar apa ini? Kok ibu sampai tertawa? " Sambil menaruh tasnya di sofa.
" Kamu sudah pulang dek? "
" Sudah kak. Kebetulan guru-guru pada rapat, jadi.. Semua siswa kan nganggur. Jadi ketua OSIS menyuruh kami untuk pulang. "
__ADS_1
" Bagi dong? " Mengadahkan tangan.
" Apa bagi-bagi ?! " Melotot.
" Ya apalagi kalau bukan apel kupas nya? "
" Nggak ! Kamu itu baru saja pulang dari luar. Cuci tangan mu sana. Udah bau keringatnya nyampe di hidung kakak. Sekarang mau nyerobot cemilan kakak. "
" Siapa juga yang ingin nyerobot? Putri kan sudah ijin sama kakak. Lagian ya? Putri ini harus, ratu parfume. Satu haru setengah botol. Dasar Bumil sensiyan ! "
" Apa! Cuci tangan sana ! ! "
" Iya iya bawel. "
Putri langsung masuk kedalam kamar mandi.
Perlengkapan mandi sudah di siapkan oleh dewa yang di mintai tolong A'yunina.
Setelah mencuci tangannya. Ia langsung merebut piring kecil yang berisikan buah-buahan yang sudah teriris rapi.
" Eh eh dek.. Itu buat ibu. Kenapa kamu ambil. Bawa sini nggak ! " Menunjuknya dengan pisau.
" Ih ih kakak ini ngeri sekali. Putri juga tahu kali kak, ini Bu.. Buka mulutnya.. Aaaaaa.. "
" Ngeri? " Baru sadar pisau itu yang membuat Putri bergedik ngeri.
" Ututututu.. Bayi gajah besar ku. Sini sini, pawang gajah akan bersedia nyuapimu. "
" Huh ! Tak perlu. Biar kakak mengupas lagi aja. "
Sengaja ia lakukan agar tidak ada perdebatan diantara keduanya. Sorot mata itu menggambarkan ia sedang sedih. Kacau dan tidak karuan. Sudut pandang seorang adik kepada kakaknya biasanya tak salah.
" Kakak.. "
" Hemmmm? "
" Kakak baik-baik aja kan? "
" Iya, nak. Kamu kenapa? Tadi pagi, ibu lihat kamu baik-baik saja. Kenapa di sore harinya kamu masam? "
" Nggak ada apa-apa kok Bu. Tenang aja deh, nggak usah dengerin omongannya Putri. "
" Idih kakak mengalihkan topik aja deh. "
^^^**^^^
__ADS_1
Kacau balau ruangan tersebut. Pecahan kaca berserakan dimana-mana. " Kamu dimana Wina? " Menarik rambutnya karena ia frustasi cukup berat.
" Bos. Jangan seperti ini. Nanti jika nyonya Wina kembali, dan mendapati tuan begini.. Dia akan mengajukan cerai langsung. "
" Wina.. " Kelelahan akibat menangis, ia pun terjatuh dan ia langsung tertidur.
Pagi menjelang.
Rapat harus segera di hadiri. Kala itu, sang fajar juga menyambutnya dengan tangan terbuka seolah menginginkan Arman untuk bangkit kembali. Setelah 15 hari kepergian Wina yang entah kemana. Sedangkan Naufal, ia harus mengerjakan semua dokumen dan file. Bagaimana lagi, sang pemilik perusahaan masih saja memikirkan itu.
" Tuan Naufal, apakah tuan jadi mendatangi rapat? "
" Jadi. Kalau tidak jadi, perusahaan temanku ini bisa rugi besar. "
" Bagaimana kalau rapat ini tidak menghasilkan laba di perusahaan kita? Karena yang saya dengar, banyak perusahaan yang rugi karena sudah mempresentasikan karya mereka, namun tidak di lirik sama sekali. "
" Semua atas restu Allah. Jika tuhan berkehendak, manusia bisa apa? Bisa pasrah. "
^^^*^^^
Restoran xxx.
" Selamat datang, pak Arman. "
" Iya. Hem sebenarnya saya asistennya pak Arman. "
Deg rekan bisnis itu terkejut.
" Bagaimana mekanisme perusahaan kalian ! ! Kenapa kalian seperti bermain-main dengan kerja sama ini! Jika kalian tidak serius, setidaknya jangan membuat waktu orang terbuang. " Mengepalkan tangannya.
" Maaf pak Ali. Sebenarnya tuan muda saya ingin sekali kesini. Namun, beberapa hari sebelum pertemuan ini. Beliau tertimpa masalah, dan saya yang harus menghandle semuanya. "
Tatapan tajam seakan mengiris iris itu datang dari Ali. " Saya rasa kerjasama ini tidak bisa di jalankan tanpa ada saling kejujuran diantara dua perusahaan. "
" Tidak pak. Saya.. "
Ali Wardhana bangkit dan ya dia sedang menahan emosinya. Ia paling jengkel jika ada yang mengkhianati perjanjian sejak awal.
" Maaf, saya tidak bisa. " Merapikan jasnya dan mengancing nya.
" Maaf maaf saya terlambat. " Suara bariton itu membuat Ali menoleh.
Wajahnya.. Kenapa mirip sekali dengan intan? Dan hidung itu.. Kenapa sangat mirip dengan ku? - Batinnya terus bertanya.
Naufal akhirnya bernafas lega. Saat melihat kearah belakang.
__ADS_1
Huh bos! Kau membuat aku spot jantung. Untung saja kau datang bos. Dan mementingkan perusahaan ketimbang Wina Wina itu! ! - Ingin sekali Naufal berkata seperti itu.