
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
Ruangan yang sangat megah. Tempat seorang CEO ternama yang berhasil membawa nama Daulay menjulang.
Saat ini ia sedang melakukan. Apa reaksi Mutia setelah mendapatkan surat gugatan itu. Pasti dia akan bersedih, karena ia akan menjadi seorang singel mom. Dan itu pasti menyusahkan bagi wanita kantor.
Tok tok tok.
" Masuk. "
" Selamat siang bos. "
" Ya, ada apa? Berita apa yang berhasil kau bawa hari ini. "
" Gagal bos. " Satu kata dan berhasil membuat gebrakan pada meja itu dan membuat papan nama CEO jatuh.
" Bagaimana bisa ! " Ia mengacak rambutnya. " Kalian ini benar-benar tidak bisa di handal kan ! ! Tahu begitu aku akan menyewa pengacara yabg lebih hebat untuk menangani masalah ini. "
" Maaf bos. Tergugat tidak menerima surat itu secara langsung di rebut paksa oleh adiknya. Dan kertas yang di bawa sengaja di bakar dengan lilin aroma terapi di rumah itu. "
" Lilin? Setahuku, dia tidak pernah memakai itu. "
" Tidak tahu bos. Mungkin mereka tahu jika bos akan menceraikan Bu Mutia. "
" Baiklah. Siapkan surat itu nanti, tepat pukul 6 nanti. Saya sendiri yang akan mengantarnya. "
" Baik tuan. "
Mau menolak? Tidak. Dia sudah di bayar 10× lipat dari masalah-masalah yang pernah ia hadapi.
Pengacara itu keluar dengan menggenggam tangannya sangat kuat. Sedangkan Arman ia masih sibuk dengan layar gadgetnya. Memperhatikan foto-foto istrinya yang tengah memegangi perutnya.
^^^**^^^
Senja pun tiba. Dan berganti malam.
Begitu pula dengan perasaan Arman, ia tetap kekeh dengan keinginannya. Berpisah dan lepas dari wanita yang menumpang hidup dengan dirinya. Dia juga yang telah membuatnya kehilangan ibu angkatnya, karena beliau adalah ibu kandung Mutia. Hasil tes yang di lakukan memang tidak bisa di bohongi. Namun, tetap saja. Rasa ketidak percayaan bahwa Mutia putri kandung bahkan sulung dari Daulay yang telah hilang setelah di lahir kan.
Mengamati di setiap inci rumah yang selama ini sudah ia lewati setiap hari keluar masuk dan senang dan duka ia lalui. " Masih tidak berubah, setelah beberapa bulan aku tak berkunjung ke sini. "
Ting tong.
" Mirna, nak.. Tolong kamu buka pintu dulu sana. Ibu masih mau ngepel ruang keluarga. "
" Baik, nyonya. " Sengaja Mirna menggoda ibunya.
" Mirna ! "
Namun, saat di panggil Mirna sudah tidak berada disitu. Melainkan sudah tepat berada di depan pintu bersiap untuk membuka dan mempersilahkan tamu itu masuk.
Ting tong.
__ADS_1
" Haduh siapa sih ! ! Bunyiin bel nggak ada jedanya sedikit pun. Nggak tahu apa Mirna habis kenyang makan ayam Sempol. "
Crekkk ! !
" Ada apa Mirna? Kenapa kamu mengomel terus sedari tadi? "
" Tu..tuan muda. Tuan muda, saya nggak lagi mimpi kan? "
" Ya nggaklah, Mirna. Kamu kenapa bengong terus? Kamu nggak mengijinkan saya masuk ya? "
" Eh iya ya ya.. Mirna lupa. Silahkan masuk, tuan muda. "
Setelah sampai di ruang tamu.
^^^**^^^
Tatapan kosong mendarat ketika ibunya muncul dari ruang keluarga. " Ada apa kamu kemari? " Menaruh kedua tangannya di dada.
" Bu. "
" Cepat bicara ! Jangan membuat aku semakin membencimu Arman ! ! "
Deg ! !
Mutia yang tengah memperbaiki riasannya mendengar suara ibunya menggelegar berhasil mengurungkan niatnya untuk memakai pewarna bibir lagi. " Ibu? Ada apa dengan ibu. "
Mutia tak ingin menerka-nerka. Ia langsung saja turun dari tangga. Melewati ruang keluarga yang baru saja di pel dengan Marni. Dan membuatnya terjatuh. Lumayan keras.
" Akhhhh ! ! ! Ibu ! ! "
" Mutia? " Mengalihkan pandangannya ke arah ruang keluarga.
" Mutia. " Arman pun juga bingung.
Kenapa Mutia berteriak? Apakah dia mencoba menghalangi dirinya yang ingin bertemu dengan ibu angkatnya dengan cara berteriak seperti orang kesakitan. - Batin Arman yang mungkin saja makin membenci Mutia.
Dia mengikuti arah ibunya pergi. Dan didapati Mutia yang sudah tergeletak penuh dengan darah. " Mutia ! ! ! " Matanya membulat.
" Ya Allah Gusti, neng Mutia ! ! " Giliran bik Marni yang berteriak dan menutup mulutnya serta tangan yang bergetar.
" Mutia. " Dengan nada yang lemas setelah mendapati Mutia yang terbaring tak berdaya.
" Mutia nak nak kamu baik-baik aja, oke. Ibu tidak akan membiarkanmu menderita lagi. Cukup dengan selama ini kau jauh dari ibu, dan biarkan ibu mu ini merawat anaknya dan memanjakannya hingga akhir hayatnya nak. Kau mau berjanji kan dengan ibu nak? " Hilang kesadaran dan sangat kacau hingga menyebabkan ibunya berbicara seperti itu.
" Bu, sudah tenang Bu. Bi, tolong jaga ibu. Biar saya yang membawa Mutia ke rumah sakit. "
" Tidak ! "
" Ku mohon Bu, jangan berdebat sekarang. Mutia harus segera di tangani. Kalau tidak nyawa mereka dalam bahaya. "
" Itu pasti yang sedang kamu harapkan. " Lemas.
" Nyonya tenang nyonya. Percayakan pada den Arman nyonya. " Kemudian Marni membopong A'yunina ke kamar atas, untuk beristirahat.
Arman mencoba mengangkat Mutia. Dengan sekuat tenaganya. Tak perduli dengan baju yang kotor terkena darah. " Naufal ! ! Cepat buka pintunya ! ! " Menendang pelek mobil yang tak berdosa.
__ADS_1
" Astaga ! " Naufal kaget.
Keluar dan membuka pintu untuk bosnya. " Tuan muda, apa yang terjadi? "
" Cepat antar aku ke rumah sakit. Jika dia kehilangan nyawanya, maka aku juga akan kehilangan ibu. "
Cih motif kehilangan ibu. Kenapa nggak ngaku saja kalau sudah jatuh hati dengan nona Mutia. Pakai acara bawa-bawa ibu. - Batin Naufal.
" Naufal ! ! " Teriaknya membuat lamunan Naufal berakhir.
^^^**^^^
...Medical.⚜️...
" Dokter, dokter. "
" Pak Arman. "
Seseorang yang berjas putih serta alat tempurnya datang menghampiri Arman.
" Dokter, dokter tolong selamatkan anak dan istri saya dok. "
Cih anak ! Bahkan kau tidak mengakuinya hingga hasil DNA itu keluar. - Umpatnya terus menerus tanpa ada rasa bosan bagi Naufal.
" Suster suster. "
" Ada apa dokter? "
" Tolong siapkan ruang operasi sekarang. "
" Tapi, ruang operasi saat ini sedang penuh dokter? "
" Periksa sekali lagi ! " Arman terus saja menangis jika membayangkan ibunya yang berada dalam posisi Mutia kali ini.
Suster itu akhirnya menemukan satu ruangan yang sudah kosong. Namun, anehnya dia sama sekali tidak mendapatkan laporan. Ada kemungkinan orang yang sedang dirawat di bawa kabur oleh keluarganya karena tidak mampu membayar biaya pengobatan.
Setelah 5 jam menunggu.
Arman tak bisa tenang sedikitpun. Ia baru merasakan rasa ke khawatiran yang sangat tinggi di bandingkan saat Wina yang hilang.
Telephon berdering. Arman langsung mengangkatnya.
" Halo. "
" ... "
" Arman pun belum tahu Bu. Ibu tenang di rumah. Urusan disini, biar Arman yang akan menanganinya. "
" ... "
" Baik, Bu. Arman tidak akan mengecewakan ibu kali ini. "
^^^**^^^
Dokter pun keluar. Arman pun senang, setelah sebelumnya lampu ruang operasi menjadi hijau. Yang pertanda, operasi yang sedang dilakukan di dalam sudah selesai. " Dokter.. " Bangkit dari tempat duduknya. Rasa keingintahuan tentang keadaan tak bisa dibendung kan lagi.
__ADS_1