
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
Pak RT pun datang bersama ketua RW serta perangkat desa setempat. Bidan Tasya hanya tersenyum, pasti keponakannya lah yang mengurus itu semua tanpa harus datang ke dewan desa. " Assalamualaikum.. "
Dengan senyuman hangat Mutia dan Imel menyambut mereka. Deru hangat keluarga yang hanya ada perempuan saja kecuali Zhafran.
" Waalaikumsalam. "
" Pak lurah, pak RT, pak RW. Selamat datang di gubuk bidan Tasya. "
" Iya, Mbak. Kami kesini dengan niat yang baik, mencatat warga yang masuk dan keluar. Kami tidak ingin kecolongan lagi. "
" Iya, pak. Saya paham, maaf. Kami yang seharusnya mendatangi kantor desa. Tapi, kami benar-benar tidak sempat. Warga sangat membutuhkan saya dan Mutia kasian jika harus saya tinggal. "
Panjang kali lebar.
Di rumah sang lurah, ia baru saja pulang dan hendak memasukkan map tentang warga baru yang baru saja tiba. " Yah.. Ada warga baru? "
" Eh Bintang, iya ada. "
" Laki atau perempuan, yah? "
" Kenapa? Biasanya juga kamu tidak sampai tanya-tanya seperti ini. "
" Ya kan pengen tahu saja yah.. Soalnya bintang ada naksir seseorang. "
" Haah? Naksir. Ya Allah terima kasih atas Rahmat yang telah kau turunkan untuk anak hamba. "
" Ayah ! Memangnya Bintang kenapa? Bintang lho biasa aja, Rahmat apa coba? Tanding takraw aja kemarin kalah. "
" Kamu itu yang di pikir olah raga Mulu. Kapan kamu bawa cewek ke rumah? Ayah Ndak sabar pengen ngemong cucu. "
" Ya ya nanti pasti ada waktunya yah.. Sekarang mangkanya Bintang tanya? Soalnya wajahnya itu sangat cantik yah.. Tapi, anehnya... "
" Aneh kenapa? Jangan bilang dia nggak waras lagi? "
Bintang pun menepis itu. " Bukan ! Bukan tidak waras yah... Tapi, dia itu gendong bayi. "
" Astaghfirullah! Jangan coba-coba dekati istri orang Bintang. Kamu tahu kan? Mama mu dulu juga bertingkah seperti itu dan pada akhirnya dia meninggalkan ayah sendiri mengurusmu. "
" Ayah.. Ayolah.. Lupakan Mama. Mama memang seperti itu. Tapi, maaf. Bintang tidak bisa membenci Mama. Walau bagaimana pun sejelek apa Mama Bintang. Dia adalah cinta pertama anak lelakinya di dunia ini. Tak bisa di pungkiri tindakan Mama itu memang salah. Tapi, mungkin jalan terbaik memang seperti ini. "
" Iya, nak. Ayah cuma menakutkan hal itu juga terjadi pada dirimu. "
__ADS_1
" Baiklah yah. Bintang akan berusaha menjauhinya jika memang seperti itu. Tapi, jika Bintang tahu dia tidak lagi memiliki hubungan dengan suaminya. Maka, jangan halangi Bintang untuk mempersuntingnya. "
Ia pun keluar. Jam 4 sore ia biasanya mendatangi lapangan bola. Memakai baju olah raga yang sangat keren yang ia punya. Ia tak patah semangat. Kalau-kalau pun dia berjumpa dengan wanita itu di jalan. " Damian. Mana anak-anak yang lain? "
" Sabarlah Bin, kamu ini terlalu bersemangat. Apa yang membuatmu semangat menggebu seperti ini? Biasanya juga kau mampir dulu untuk minum susu hangat di meja Sarah. "
" Ah lebih baik aku meminum susu dari sumbernya. "
Plak !
" Sumber kau bilang! ! Memangnya kau sudah kepincut sama tante-tante? Sampai sudah bisa membedakan susu ter-nikmat yang ada. "
" Hahaha.. Belum. Tapi, akan. "
Sore hari ia mencoba membawa anak-anaknya berjalan. Mengelilingi kampung yang masih asri belum banyak lalu lalang pemotor. Hanya orang kota saja yang memasok bahan baku kampung ini.
" BI, aku boleh jalan-jalan mengajak duo Z keliling kampung kan? "
" Boleh. Tapi, jika kamu nyasar bibi nggak mau ya.. "
" Lha.. Terus Mutia harus gimana bi? "
" Ya tunggu sampai bibi selesai menangani pasiennya bibi. Hehehe.. "
" Yah.. Lama dong? Bakalan jalan sama setan nanti kalau jalannya bareng bibi. Sedangkan praktek bibi saja buka kembali jam 4:15 sedangkan tutupnya saja jam 8 malam. Jalan-jalan semalam itu? Hi.. Mutia nggak berani Bi. "
" Ah Bibi. Jangan nakutin Mutia gitulah. "
" Hehehe.. Nggak nggak. Warga disini baik-baik. Apalagi cowok-cowoknya. " Kemudian bibi Tasya itu mendekati Mutia dan membisikkan sesuatu.
" Masih bersegel. "
Deg !
Ia mengingat saat-saat dirinya di paksa untuk melayani suaminya saat dia mabuk kalah itu.
" Hey.. Katanya mau jalan? Kok malah melamun? "
" Eh nggak papa Bi. "
" Kamu nggak tersinggung dengan perkataan bibi kan? "
" Nggak bi. Kalau orang mudah berprasangka buruk berarti imannya tak kuat untuk mempercayai kehendak Tuhannya. "
" Ah syukurlah.. Bibi kira kamu tersinggung. Imel, kamu ikut lah. Jangan biarkan nona mu ini nyasar sendiri. Setidaknya jika ia nyasar bersama teman. "
" Eh iya bi. Saya memang di perintahkan untuk itu. "
__ADS_1
Perdebatan panjang mengakhiri dan berjalan di tempat yang banyak jajanannya. " Sayangnya ibu.. Lihat deh, itu namanya burung nak. "
" Dek Zhalina, lihat-lihat.. Ada cowok tampan. "
Pengelihatan Mutia teralihkan dengan ucapan Imel. " Hust ! Jangan bicara sembarangan. Dia itu tidak saya latih untuk jadi wanita pemikat. "
" Hehehe.. Saya bercanda, bu. "
" Huh hausnya.. "
" Eh.. Ibu haus? Biar Imel belikan es kelapa muda aja ya Bu? Ada pentol juga di sana. "
" Wah boleh boleh. Sini stroller nya, kamu ke sana aja. Jangan beli satu, beli juga untuk dirimu. "
Saat menendang bola ke gawang lawan, Bintang teralihkan dengan sosok di sana. Yang tengah duduk memegangi dua stroller di tangannya. " Dia.. "
Tanpa di sadari, bola itu berhasil di rebut oleh lawan, dan tanpa di sadari dia sendiri yang mengumpan lawannya hingga mencetakkan gol. " Gol. "
Bintang baru menoleh saat para kawannya sudah berteriak bahkan memaki dirinya. " Ah kau ini ! ! Bagaimana bisa kita kalah. "
" Aduh.. Sorry sorry. Gue beneran nggak ada niatan begitu. "
" Lho sebenarnya ada masalah apa sih? Lo itu harus fokus Bin ! Sebentar lagi bakalan ada pertandingan antar kampung. "
" Heh sudahlah Dem, mungkin saja kali ini babang Bin Bin lelah. Hahahaha.. Benar nggak kawan? " Ejek tim lawan.
" Wah iya.. Sepertinya jomblo yang membuatnya seperti ini. Sedangkan umur tetap bertambah. "
" Kalian ! ! "
Dengan wajah memerah seperti tomat masak. " Kalian ! ! "
" West!! Selow bro. "
" Zayan jangan mancing deh kamu. "
" Hahaha.. Kapten yang takut kalah. " Beranjak dari lapangan.
" Kau ! " Brag.
Sebuah bongkahan tangan melayang begitu saja ke kepala Zayan. " Awh ! "
" Kau ! " Membalas dan mengenai hidung dari bintang hingga mengeluarkan darah. Pertikaian antar laki-laki memang tidak bisa di pisahkan. Para wanita tidak ada yang berani. Dan Mutia hanya memperhatikan dari jauh.
" Sudah ! ! Kau bawa dia. "
" Kau juga jaga itu kapten tidak becus macam dia harusnya tidak usah di pertahankan lagi. " Ucapnya secara kesal.
__ADS_1
" Lo baik-baik aja gay? " Mengelap darah yang mengalir dari hidungnya.