Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 25.


__ADS_3


LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..


*****


Wina mulai marah. Saga tak mau membuatnya marah. Ia memegang dagu sang kekasih lalu me****t nya dengan sangat rakus. Tangannya tak tinggal diam, mulai bermain di gundukan semangka itu.


" Sayang.. Aku sungguh menyukai ini.. " Tak tahan, hanya meremas saja.


Saga lalu merobek baju yang dikenakan Wina hingga menonjolkan sebuah benda yang paling ia sukai. " Apa aku boleh? "


Kenapa harus bertanya? Sedangkan dia tadi menyentuhnya tanpa ijin darinya. Benar-benar konyol. - Batin Wina saat ini.


Waktu telah mampu membuatnya lupa akan pulang. Kehangatan sangat di rasa, yang jarang ia temukan jika bersama Arman. Bukannya Arman tak ganas seperti Saga saat ini. Namun, jika bercinta tanpa adanya rasa akan rasa hambar.


^^^*^^^


Malam itu benar-benar membuat Arman bingung, melampiaskan kepada Mutia yang tak salah apa-apa. " Tuan.. Tuan sudah pulang? "


" Hemp.. "


Menunggu adalah hal yang paling amat menyebalkan. Ya, 2 jam sudah Arman menunggu dan yang tak kalah terkejut. Satu toples kacang di babatnya hingga menyisakan kulitnya saja. " Ada apa? "


Mutia tercengang. Kulit kacang berhamburan dan tak tetap masuk kedalam Yong sampah.


Tuan sebenarnya ngerti nggak sih! Aku yang menyapu, mengepel lantai hingga peluh ini menetes. Tapi, dia bahkan cuek sama sekali. - Ingin rasanya Mutia meluapkannya kepada Arman.


" Tuan.. Kenapa? "


" Kenapa apa!! Dan kenapa kau melotot ke arahku! "


Mutia mendengus kesal. " Tuan, sebaiknya anda mandi deh. "


" Kenapa sekarang kau berani memerintah ku! Yang bisa disini siap,- " Kemudian Arman baru menyadari, setelah ia mencium aroma tidak mengenakan di himpitan otot itu.


" Gimana tuan? Sedap banget bukan? Masih nggak mau mandi? Hemmmppp.. "


Goda Mutia, dan bagaikan menyelam sambil minum air. Menggoda plus bisa menghinanya..


Dasar tuan muda aneh! Suka marah-marah gak jelas, kalau ditegur nggak mau ngaku salah. Huh! Sabar sabar, ingat dia suamiku huh! - Mutia berlalu meninggalkan Arman namun tak lepas dengan senyum di pipi karena tak mungkin baginya tetap disitu dalam keadaan tertawa. Ia takut kena semprot perlawanan.



^^^*^^^

__ADS_1


" Kalau begini terus, aku bisa menjadi orang gila. "


Setelah tubuhnya kembali segar, bukannya semangat baru yang ia peroleh malah ke masaman yang di perlihatkan.



" Ngapain lagi ini enaknya ya? Masa duduk aja, sayang dan tampan berseri malah anggur. "


Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Tak kalah terkejutnya dia, melihat asistennya tengah menyeruput teh hangat dari istrinya.


Deg deg deg.


Kenapa dengan jantungku? Apa aku sekarang memiliki riwayat jantung? Ah masa sih, tapi kenapa juga si Mutia itu tak tahu diri. Dia kan istriku, kenapa dia dekat banget apalagi dia sahabatku sendiri. - Batin Arman sedang menggebu.


Mendengar langkah kaki keluar, buru-buru Naufal meletakkan cangkirnya. Lalu menatap bosnya sebentar dan kemudian ia menunduk.



( Maaf, disini visual Naufal kita ganti hehehehe.. Lebih suka yang ini. Hihihi.. )


" Eh tuan... Sudah selesai mandi tuan? " Sapa Mutia.


Bukannya menjawab malah mendekat ke arah Naufal.


Alamat.. Kenapa lagi dengan si tuan muda ini? Kenapa matanya itu pengen keluar aja? Padahal aku kesini ingin mengajaknya keluar karena aku sangat suntuk di rumah sendirian. - Batin Naufal sedang berlawanan dengan pikiran sang bos sepertinya.


" Eh anu bos. Saya ingin mengajak anda keluar, kebetulan hari ini kan malam Minggu. "


Astaga dia benar-benar lupa kalau ini malam Minggu. Yang biasanya ia gunakan untuk makan malam bersama dengan Wina. " Kenapa kau ada inisiatif mengajakku keluar? Apa kau pikir aku tidak waras? Aku masih suka sama lubang. Bukan Otong ketemu Otong. "


Naufal menyengit kan dahinya. " Tuan.. Saya hanya ingin mengajak anda keluar. Lagi pun, nona Wina sedang tidak berada disini. Jadi, saya berinisiatif untuk mengajak anda. "


" Siapa yang memberimu ide ini? " Tanya Arman.


Mutia menunduk lalu ia pamit." T...tuan saya ijin kebelakang dahulu. Telur yang saya rebus sepertinya sudah matang. "


" Kau kan bisa merendamnya nanti Mutia! "


" Tapi, tuan.. "


" Tak akan ada yang memakan telur yang masih terbungkus cangkangnya. "


" Ah itu saya yang berinisiatif mengajak anda tuan muda... Lagi pula, saya tadi tidak salah mendengar pembicaraan kalian di telpon. "


" Oh jadi kau sudah pandai menguping ya? Baiklah, tunggu sebentar. "

__ADS_1


Arman masuk ke kamarnya lagi. Dua orang itu sempat berpikiran yang tidak-tidak. Sebab, ekspresi Arman sangat berbeda jauh seperti biasanya.


" Nona, bagaimana ini? Jika tuan muda marah sama saya bagaimana? Nona kan yang meminta saya kesini. Lalu, bagaimana nasib saya setelah kemurkaan tuan muda nanti... " Ungkap frustasi mendalam.


" Aku juga tidak akan berpikir terjadi seperti ini. Aku pikir, tuan muda akan langsung berangkat bersama mu asisten Naufal. "


^^^*^^^


Matanya teralihkan dengan suara benda-benda dari besi bergoyang. " Asisten Naufal, itu benar-benar tuan muda? " Ujar Mutia.


" Kenapa memangnya? Dia benar-benar,, tuan mu..muda. " Tercengang.


Kalung rantai berliontin silet, anting magnet dan juga tindik. " Kenapa kalian melihatku seperti itu! Ayo, katanya mau ngajak gue jalan. "


" Eh saya tidak bisa ikut tuan muda. "


" Siapa juga yang ingin mengajakmu pergi. Lebih baik kau beres-beres. Ruangan ini seperti kandang kerbau tahu, kulit kacang dimana-mana.. Kau itu sudah ku gaji, jadi kurang-kurang.i sifat malas mu itu. "


Astaga dia tadi bilang apa? Aku malas, mana di katakan kerbau. Hey tuan muda, Mutia itu punya pikiran kalau kerbau tidak. Kau yang behambur, aku yang kena damprat nya. - Ingin sekali Mutia berkata seperti itu.


" Heh gadis kampung! Cepat bereskan. Saya tidak mau tahu ya, jika ruangan ini belum bersih ketika aku pulang.. Lebih baik kau pulang saja ke rumah orang tuamu itu. "


" Tii..tidak tuan. Saya akan bereskan. "


^^^*^^^


Dubbbb jhaaadubbbbb irama musik dari DJ membuat semua orang bergoyang. " Tuan muda, anda yakin ingin berada disini? "


" Lepas bahasa formal mu itu, Fal. Kita sedang tidak berada dilingkungan kantor. Panggil nama ku saja. "


" Baiklah, apa kau yakin ingin berada disini? Bukannya 5 tahun yang lalu kau telah berjanji kepada ibumu, bahwa kau tidak akan pernah mendatangi tempat l***Nat ini? "


" Jika kau berani melaporkan kejadian ini kepada ibuku, aku tak akan segan untuk memulangkan mu ke negara mu sana. "


" Ya ya yah kau memang tahu kelemahan ku, tuan muda Ali Arman Daulay. "


" Sudah, pesankan aku minuman. "


" Baiklah, mau minuman yang tinggi atau rendah? "


" Terserah. "


" Oke. "


^^^**^^^

__ADS_1


Waktu sudah berjalan mengikuti jarum yang terus berdetak. Jarum telah menunjukkan pukul 1 dini hari. " Astaga katanya terserah.. Giliran aku kasih dosis rendah saja sudah mabuk. Terus, bagaimana ini.. Aku mana kuat jika membopong bos sendirian. "


__ADS_2