
Aditiya keluar dari ruangan rapat tergesa-gesa, ia baru saja memdapatkan kabar kalau adiknya masuk rumah sakit walau keadaanya tidak parah. Aditya mendapatkan penjelasan dari aldi bagaimana bisa adiknya itu masuk rumah sakit.
waktu perjalan pulang Widya terus meminta Aldi untuk menurukannya. Widya tidak ingin kembali kerumah besar dengan penuh kenangan buruk.
"Berhenti Aldi " kata Widya berteriak
Aldi tidak menghiraukan teriakan nonanya itu
"Aku bilang berhenti kalau tidak saya akan loncat dari mobil ini " ancam Widya
lagi-lagi Aldi tidak menghiraukan perkatan Widya karna ia yakin tidak mungkin dia senekat itu, namun perkiraannya salah tiba-tiba Widya membuka pintu dan langsung melompat tidak ada kesempatan bagi Aldi untuk menolong dan Aldi patut bersyukur karna kendaran kurang sehingga widya hanya terguling-guling sampai menabrak dinding pembatas jalan.
Sampailah Aditiya dan sambut dengan direktur rumah sakit
"Bagaimana keadaan adik saya " tanya Aditiya dengan berjalan cepat menuju ruangan dimana adiknya dirawat.
"Adik anda hanya syok pak dan ada beberapa luka ditangan dan dimukanya "jawab dokter yang menangngani adiknya
"apakah kamu yakin " tanya Aditiya dingin sedingin ruangan dimana adiknya dirawat
"iya pak, nona Widya akan bangun tiga puluh menit kemudian pak "kata dokter
"baiklah dan terima kasih untuk kerja kerasnya " kata Aditiya
"Bukan apa-apa ini memang sudah tanggung jawab saya sebagai dokter pak"
__ADS_1
"Hmmm..."jawab aditiya
"kalau begitu saya permisi dulu pak" kata dokter dengan sopan
"Astaga aditiya apa sebenarnya terjadi dengan adikmu kenapa bisa terjadi seperti ini? " tanya Henri yang tak lain adalah teman Aditiya sekaligus direktur rumah sakit ini
"Saya tidak tau Henri, saya hanya menyuruhnya pulang kerumah besar" jawab Aditiya dengan memandang adiknya sedih
"Astga apa kamu bilang rumah besar, apa kamu waras, uupss... maaf..." kata Henri dengan menutup mulutnya. "Maksudku kamu taukan adikmu tidak suka pulang ke rumah besar dan kamu taulah alasannya Aditiya" kata Henri memberikan penjelasaan
Aditiya mengangguk dan menghela nafasnya panjang, ia berpikir dengan menyebut rumah besar Aditya berharap bahwa adiknya itu sadar atas perbuatanya dan tak mengira akan terjadi seperti ini.
"Kalau begitu saya keluar dulu, saya harap masalah sama adik mu cepat selesai" kata Henri dengan berdiri dan menupuk bahu Aditiya pelan.
Aldi masuk dengan perasaan bersalah, Aldi tau bagaimana sayangnya Aditiya sama adik satu-satunya itu.
"Maaf saya tuan" Aldi dengan menundukkan kepalanya untuk pertama kali Aldi tidak berani melihat wajah bosnya itu dan sudah pasrah kalau dia akan dikirim keluar negri lagi.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan aldi, disini saya yang salah karna terlalu memanjakannya tapi tidak memberikan perhatiaan" jawab Aditiya sedih
"Jamu pergi menyelesaikan masalah yang dibuat sepupuku dan cari pengantinya secepatnya! " perintah Aditiya
"Baik pak dan semoga nona cepat sembuh, kalau begitu saya permisi dulu pak " jawab Aldi
"Hmmm..." kata Aditiya dan menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Tinggallah mereka berdua Aditiya melihat adiknya yang penuh goresan ditangannya dan beberapa ada dimukanya dengan sangat menyesal, Aditiya megambil tangan adik dan menggemgamnya denga lemubut.
"Maafkan kaka widya, kaka bersalah atas apa yang semua terjadi terhadapmu" kata Aditiya penuh penyesalan.
Aditiya merasa tangan adik bergerak, Aditiya mengangakat kepalanya dan melihat apakah adik sudah sadar dan benar adiknya sudah sadar.
"Bagaimana keadaanmu dek" tanya Aditiya lembut dan mengusap kepala adiknya dengan pelan
widya yang merasakan lagi kelembutankan yang tidak pernah lagi dia rasakan. Widya tidak tahan untul tidak menangis.
"Hei...kenapa, apa kamu merasakan sakit" tanya Aditiya khawatir
Widya hanya mengelengkan kepalanya dan terus menangis, melihat adiknya menangis terus, Aditiya membawa kedalam dekekapannya bukannya berhenti menangis Widya tambah menangis sampai-sampai suaranya terdengar diluar.
"Maaf..maaf...maaf....kaka Widya"kata Aditiya lembut dan mengusap penggung adiknya itu
setelah sekian lama menangis, akhirnya tangisan Widya mereda.
"Apakah sudah merasa baik?" tanya Aditiya dan diangguki Widya
"Kan tidak cantikan lagi adikku gara-gara matanya bengkak" canda Aditiya,
Widya memukul lengan kakanya dengan pelan tertawa.
"Maafkan kaka widya" kata Aditiya lagi dengan tertunduk.
__ADS_1