HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 86


__ADS_3

Aditiya bangun, terlebih dahulu melihat istrinya yang membelakanginya, ia mengeser sedikit tubuh agar bisa memeluk tubuh polos istrinya. Aditiya tersenyum melihat leher istrinya yang punuh dengan bekasnya bagaimana tidak ia terlalu bersemangat tadi malam.


Aditiya dengan berat hati bangun dari tidurnya karna ia harus bersiap untuk pergi berlibur, ia membiarkan istrinya tertidur beberapa jam lagi karna ia tahu kalau kalau istrinya pasti kelelahan. Setiap kali Aditiya terpikir apa yang dilakukan tadi malam ia pasti tersenyum cerah.


Aditiya ke kamar mandi dan bersiap setelah bersiap ia turun dari ke dapur untuk membuatkan susu untuk istrinya dan serapan yang sudah di siap oleh kepala pelayan.


Aditiya masuk ke kamar dengan membawa nampang untuk istrinya dan untuknya, ia menyimpan sarapanya di meja dan menghampir istrinya yang masih terlelap damai.


"sayang bangun ini sudah siang, " bisiknya


Aditiya mengusap kepala istrinya .


"Sayang bangun katanya mau kepantai" tidak lagi mengusap kepala istrinya, tangannya perpindah kepunggung polos istrinya.


"Aku hitung sampai tiga jika sampai hitungan ketiga kau tidak bangun maka liburan kepantainya aku batalkan."


Aditiya tersenyum jahil, "Satu... dua... dan... ti... "


Zahirah langsung bangun terduduk tidak mempudulikan tubuhnya yang tidak memakai selehai benangpun.


"Iya... iya... iya... aku bangun mas" wajahnya cemberut.


"Hahahah... " Aditiya tertawa terbahak-bahak sehingga punggungnya tergoncang, ia sudah memperkirakan akan begini reaksi istrinya.


Aditiya mencium kening istrinya. "bagus hampir saja liburannya di batalkan"


mengusap kepala istrinya. "Sekarang pergilah bersiap... aku menunggumu disofa." Berdiri meninggalkan istrinya tapi sebelum menjauh dari tempat tidur ia berkata.


"Tutup tubuhmu atau kau mau mengoda mas lagi yah" Zahirah langsung mengangkat selimut menutup tubuhnya sampai kepundaknya.


Lagi-lagi aditya tertawa "Pagi yang menyengkan" batinya


"Mas nyembelin" teriaknya berlari kearah kamar mandi. Aditya hanya menanggapinya dengan senyuman.


Sambil menunggu istrinya bersiap aditiya menelpon aldi.


" Bagaimana apa semua sudah siap?,"


"Sudah tuan" jawab Aldi yang sudah berada di tempat liburan sepasang yang di mabuk cinta.. tidak.. tidak... tidak, Aldi melaratnya hanya tuannya yang sedang di mabuk kasmaraan contohnya nonanya santai-santai tidak berlebihan seperti tuannya.


"Bagus... apa pesanku sudah kau lakukan" Aditiya memastikan apa keamanan istrinya selama berlibur kepantai semuanya aman sampai ia pulang.


"Sudah tuan" Aldi ingat betul pesan Aditiya

__ADS_1


"Aldi aku ingin mengingginkan tempat cuma ada aku dan istriku kecuali, penjaga semuanya harus berjaga selama 24 jam dan jangan lupa semua peralatan rumah sakit harus ada di tempat itu dan lagi semua dokter berbagai bidang harus ada di tempat itu... hanya itu aku inginkan, mudahkan tidak berat" Aditiya memberi perintah seenaknya.


"Apa mudah katanya.... yang berat itu bagaimana menurutnya... apakah memindahkan gunung itu dia bilang berat... yang benar saja" batin Aldi menahan kesal sambil mengelengkan kepalanya.


Sebelum aldi berkomentar, aditiya terlebih mendahuluinya "Dan satu lagi keberi kau waktu satu hari untuk mempersiapkan semuanya" setelah berkata ia kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.


"Baik tuan" Aldi pasrah dengan perintah tuannya .


"Bagus....aku menyaya...." sebelum Aditiya melengkapi katanya yang menyayangi, Aldi terlebih dahulu mematikan telponnya.


Aldi yang berada di tempat tuannya akan berlibur ingin melempar hpnya kepantai, jika saja tidak ada yang penting di dalamnya ia sudah melemparnya kepantai.


"Kenapa dia semakin hari semakin selalu membuatku kesal.


" Aldi berjalan masuk keVila memeriksa kembali yang dibutuhkan tuannya.


Aditiya tertawa "Mas apa yang diketawain... apa mas sudah gila yah, sejak tadi kerjaan mas cuman tertawa"


Zahirah menghampiri suaminya. Aditiya menoleh melihat istrinya berjalan kearahnya, ia tidak menjawab pertanyaan istrinya tapi ia mengulurkan tangannya


"kemarilah aku duduk disini" aditiya menepuk pahanya "dan minum susu mumpung masih hangat. "


Zahirah menurut duduk di pangkuan suaminya dan memerima susu yang di berikan suaminya, ia menghabiskan susunya.


"Heheh...maaf...soalnya aku tidak sabar pergi ke pantai" Zahirah mendaratkan ciumnya dibibir suminya sebagia permintaan maaf.


" baiklah karna kau manis hari ini aku maafkan tapi sarapan dulu karna perjalan kita akan panjang."


Zahirah patuh memakan sarapannya dengan lahap, sementara suaminya hanya melihat istrinya makan, Sesakali ia membersihkan sisa makanan dibibir istrinya. Aditiya selalu bertanya kenapa istrinya selalu memakan makanan dengan belepotan tapi ia senang hati membersihkannya.


"Mas tidak makan? " tanya sambil mengunyah makanannya


"Telan dulu makanannya, baru berbicara nanti kau tersedak sayang" Zahirah menganggukkan kepalanya setelah makanannya habis di mulutnya.


"Jadi mas kenapa tidak makan." Ingin berdiri dari pangkuan suaminya untuk mengambil air namun Aditiya terlebih dahulu mengambil air dan memberikan pada istrinya.


"Terima kasih mas" Zahirah tersenyum.


Aditiya menganggukan kepalanya "Mas jawab pertanyaanku" bersandar di dada suaminya


"Mas sudah makan sayang, waktu kau di kamar mandi" mengusap lengan istrinya "jadi kau hanya ingin duduk pangkuan mas sepanjang waktu tidak ingin liburan ke pantai" mengoda istrinya.


Aditiya tidak bisa kalau tidak mengodah istrinya setiap ia berdua.

__ADS_1


Zahirah berdiri dengan cepat dan berlari mengambil tas dan mengambil jaket suami


"Ayo mas cepat nanti ke tinggalan pesawat" menarik tangan suaminya.


Aditiya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum, "dari mana kau tahu kalau kita akan naik pesawat."


"Aku hanya menebaknya saja... ayo cepat mas" menarik tangan suaminya dengan sekuat tenaga.


"Pelan-pelan sayang... kita tidak akan ketinggalan pesawat... oke" Aditiya berdiri mengambil barang yang ada ditangan istrinya.


Setelah mamasang jaketnya ia meraih tangan istriya dengan lembut "Kau sudah siap bersenang-senang."


"Siap kapten" wajah Zahirah memancarkan kebahagiaan terlihat sekali ia sedang sekali bahagia.


Aditiya terpana lagi, melihat bola mata istrinya yang berbinar. Aditiya mendekat wajahnya keistrinya dan mencium keningnya "Kau bahagia sayang? " tanyanya tepat di depan muka istrinya.


Zahirah menganggukan kepalanya dengan mantap, "Iya aku bahagia sangat...terima kasih mas." Menghamburkan pelukannya kesuaminya.


"Aku yang berterima kasih karna kau mau bertahan sampai sekarang demi mas dan anak kita" Aditiya mengusap perut istrinya dengan lembut.


Zahirah tidak ingin momen manis menjadi sedih jadi ia mencium bibir suaminya, Aditiya tidak ingin menyelesaikan ciuman dengan cepat jadi Aditiya mengangkat tangannya menahan tengkuk istrinya dan berciuaman dengan lembut.


Aditiya melepaskan ciuamannya denga berat karna istrinya sudah hampir kehabisan napas. Aditiya mempertemukan dengan keningnya ia ingin merasakan hembusan napas istrinya yang terengah-engah.


Melihat istrinya sudah mengatur napas dengan normal Aditiya mencium kening istrinya "aku mencintai sayang" memeluk istrinya.


Zahirah hanya menganggukkan kepalanya tanpa membalas ucapannya di dalam pelukan suaminya.


"Kenapa kau tidak membalas ucapanku" Aditiya kesal karna menunggu mengungkapan cinta istrinya tapi ia mendapatkan hanya anggukan kepala.


Zahirah tertawa melihat raut wajah suaminya "Kan mas sudah tau kalau aku mencintaimu."


Zahirah memeluk suaminya dan mengusap punggu suaminya. "Tapi aku ingin kau membalasnya sayang" kata Aditiya manja.


"Panjangkan" batin Zahirah


"Baiklah aku mencintaimu Aditiya Kusuma Wijaya" mencium bibir suami.


"Sepertinya kau terpaksa mengucapkannya" Aditiya masih merasa kesal mendengar jawaban dari istrinya yang terdengar tidak ikhlas.


"Ya Tuhan...... apa lagi.... " batin Zahirah yang menahan kesal juga.


"Aku mencintai mu masku sayang..... " Zahirah tersenyum dengan manis "Puaskan!" batin zahirah.

__ADS_1


Aditiya mencium kening istrinya "Ayo kita berangkat" Zahirah hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum.


__ADS_2