HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 9


__ADS_3

Ftriani sedang tertunduk dalam, dia merasa berdiri tepi jurang sedikit lagi jatuh.


"Ya Tuhan cobaan apa lagi ini dan selamatkanlah saya dari cobaan ini" batin Fitriani segala doa yang dia ucapan agar bisa selamat dari keadaan yang menurutnya mengerikan ini.


Fitriani sadar atas kesehalahannya "Maaf pak" kata Fitriani dengan membungkukkan badan


"kamu taukan peraturan di perusahan ini atau kamu ingin saya bacakan kembali" kata Aditiya dingin


"Tau pak" jawab Fitrinai dengan cepat kalau bosnya yang membaca peraturan itu, selesai membaca peraturan itu dia juga selesai di perusahan ini


"Maaf pak, tadi suami saya tadi menelpon memberitahu saya kalau, ibu mertua saya lagi jatuh sakit pak dan saya disuruh singgah kerumah ibu mertua saya pak." kata Fitriani


Walaupun Fitriani tidak diminta menjelaskan tapi dia berinisatif memberi tau bosnya, gosip dia dengar kalau bosnya ini memaafkan kariyawannya jika itu bersangkutan dengan keluarga, apakah kali ia ini juga ia bisa diselamat.


"Hmm..baiklah kali ini saya maafkan kamu tapi tidak untuk kedua kalinya, kamu mengerti"


"Negerti pak" jawab Fitriani di dalam hatinya tidak henti-hentinya berucap syukur.


di ruangan rapat semua direktur sedang tegang karna satu persatu menghadap Aditiya untuk melapor bagaimana kinerjanya selama menjabat, sebenarnya Aditiya sudah mengetahui kenerja para direkturnya tapi Aditiya ingin melihat kejujuran para pemimpin cabang perushannya.


"Selanjutnya" kata Aditiya

__ADS_1


seseorang berjalan menuju meja Aditiya dengan keringat dingin walaupun ruangan ini dipenuhi dengan ac


"Ini pak laporan bulanan pak." jawab direktur yang tak lain adalah sepupu Aditiya


Aditiya mengambil dan memeriksa secara rincih tiba-tiba kepala Aditiya terangakat dan melihat siapa didepannya ini, alisnya berkerut memperhatikan wajah didepannya.


"Apakah kamu yakin dengan laporan yang kamu berikan sama saya, pak Wijaya? " tanya Aditiya sengaja memberikan tekanan ketika meyebut nama bapaknya karna nama dibelakang dia juga terdapat nama Wijaya dia adalah anak dari saudara bapaknya.


"Iya pak" jawab terbata dengan keringat dingin sudah membanjiri dahinya


"Kamu yakin? " tanya Aditiya lagi


"Iya pak" jawab dengan menunduk kepala


"kalau begitu saya permisi pak" jawab dengan cepat ingin sekali meninggalkan ruangan ini


"Siapa yang suruh kamu keluar ruangan ini? " tanya Aditiya sedikit menaikkan suaranya.


sepupu Aditiya sudah memegang hendel pintu berbalik lagi dengan kaki gemetar


"Fitiriani kamu suruh pulang direktur yang belum menghadap sama saya, beritahu bahwa lopran yang ingin mereka perlihatkan sama saya kirim lewat email dan setelah menyampaikan pesan saya kamu bisa pulang! " perintah Aditiya

__ADS_1


"Baik pak dan terimah kasih" jawab Fitriani dan berjalan keluar, dia memandang sepupu bosnya itu dengan prihatin "Tamatlah dia" batin Fitriani.


"Kamu tau apa kesehalan mu " tanya Aditiya melonggor dasi dia merasa hari ini mood betul-betul tidak baik.


"Maaf pak" jawabnya


"jadi hukuman apa yang kamu inginkan "tanya Aditiya


"maaf pak " jawabnya lagi


"JAWAB.....! " teriak Aditiya amaranya betul sudah diambang batas dia tau apa dikerjaan sepupunya itu selama menjabat sebagai direktur. Aditiya sengaja mengadakan rapat dadakan untuk melihat kejujuran sepupunya tapi ternyata yang dia harapkan tidak terjadi.


Sepupu aditiya langsung bersujud didepan Aditiya


"maafkan saya Aditiya saya tidak akan mengulanginya lagi saya berjanji " jawabnya dengan muka memelas


"Berkali saya harus memberikan mu kesempatan ka" kata Aditiya mendekat kearah sepupunya, memegang bahu sepupunya agar berdiri dan bersitatap dengannya. aditiya menganggap sepupunya itu sebagai kakanya tapi semakin dikasih hati semakin dia menjadi-jadi.


"Tinggalkan perusahan itu ka, dan jangan lagi datang dihadapan saya dengan alasan apapu, " kata aditiya dingin dengan memandang mata sepupunya yang sudah menganggap kakanya


"Tapi Aditiya, berikan saya kesempatan satu kali, saya mohon Aditiya" katanya memelas

__ADS_1


"KELUAR! " teriak Aditiya dengan menendang meja kerja sampai terbaring dia tidak memikirkannya lagi berkas apa didalam leptop itu yang sudah terbelah dua, amarahnya sudah sampai batas ditambah lagi dengan wajah perempuan yang selalu muncul dikepalanya.


Sepupunya melihat itu kaget dan berlari keluar keruangan Aditiya, dia tidak ingin mendapatkan amukan Aditiya kalau dia mendapatkan bisa-bisa dia masuk rumah sakit.


__ADS_2