
Zahirah berjalan menuju keruangan ibunya di mana dirawat. Zahirah merasa bersalah telah meninggalkan ibunya, tapi kalau ia tetap di ruangan ibunya maka ibunya akan melihatnya dengan kondisi menyedihkan. Zahirah tidak ingin memperlihatkan dirinya dihadapan ibunya atau siapapun dalam keadaan yang memperhatikan.
Namun Zahirah mulai khawatir karna ia kedapatan oleh seorang laki-laki yang dia tidak kenal dan parahnya lagi Zahirah menyakiti laki-laki yang baru dia kenal.
Zahirah merasa lelah atas traumanya yang akhir-akhir ini selalu muncul, kala emosinya tidak stabil tapi Zahirah tidak tau cara menyembuhkan traumanya. Zahirah pernah berkonsultasi dengan Psikolog awalnya Zahirah merasa lebih baik tapi semenjak ayahnya meninggal traumanya muncul kembali, jadi setiap kejadian yang bersangkutan dengannya Zahirah akan menyalahkan dirinya dan trauma itu muncul kembali.
Zahirah melihat ruangan ibunya didatangi dokter dan beberapa perawat sedang berlari keruangan ibunya.
Zahirah membuka pintu dengan keras, nafasnya sudah tidak teratur detak jantung berdetak dengan sangat cepat. Zahirah sangat takut baru kali ini Zahirah sangat takut dibandingkan waktu ayahnya meninggalkannya.
"Apa yang terjadi sus? " tanya Zahirah ketika melihat dokter memberikan alat pacu jantung kepada ibunya
"Kami tidak tau mba, tiba-tiba saja ibu Zahrah kehilangan kesadaranya" jawab suster yang tengah membantu dokter.
Tubuh Zahirah sekita terjatuh dilantai di samping ranjang ibunya "Ya...Tuhan.....apa yang harus kulakukan" kata Zahirah lemah
Air matanya sudah mengalir deras.
__ADS_1
Dokter tengah berjuang menyelamatkan nyawa Zahra sementara zahirah hanya tertunduk lemah, dan menangis apa yang terjadi. Zahirah tidak mengerti kenapa hidupnya penuh dengan air mata. Zahirah hanya berharap bahwa ibunya selalu menemaninya dalam keadaan apapun tapi sekarang ini Zahirah sudah tidak tau kemana harapan itu.
"Tiiiiiiiiiiit..............." suara alat Monitor
"Maafkan kami mba Zahirah, kami sudah berusaha maximal mungkin untuk menyelamatkan ibu anda tapi Tuhan berkehendak lain" kata dokter nada menyesal
"Tidak dok, jangan berkata seperti itu dok ibuku cuma pingsan dok seperti yang dikatakan suster tadi." kata Zahirah dengan nada lemah
"Iyakan sus tadi kamu bilang, ibuku pingsan sajakan. " kata Zahirah kepada suster yang berada disebelahnya
"Maafkan kami mbak." kata suster dengan nada sedih
"Ibu.....ibu.....ibu.....apakah kamu merasa sudah baik disana" ucap Zahirah dengan memegang tangan ibunya erat hanya perkataan itu yang bisa Zahirah katakan.
Zahiirah hanya bisa menangisi ibunya yang sudah tak bernyawa lagi.
Aditiya sedang berjalan kekantin ingin bertemu dengan Aldi sekalian dengan makan siang, ia ingin berbelok kearah kantin tapi sayup-sayup Aditiya mendengar suara tangisan yang begitu dia kenal, tangisan seorang wanita yang baru dia kenal.
__ADS_1
Aditiya membalikkan badannya, rasa penasaran lebih penting dibandingkan dengan rasa laparnya,
Aditiya memuju ruangan di mana ibu Zahirah tak bernyawa lagi.
"Apa yang terjadi? " tanya Aditiya ketika membuka pintu mendapati Zahirah sedang duduk dilantai tangannya memegang tangan ibunya
Mendengar seseorang bertanya dokter dan para perawat berbalik kearah sumber suara, dokter dan perawat itu kaget melihat siapa yang sedang berada diruangan rawat inap ini. Tidak biasanya seorang Aditiya menyempatkan dirinya bertanya tentang seorang pasien tapi kali ini berbeda Aditiya datang sendiri, dan bertanya tapi tidak ada hubungan keluarga sama sekali kalaupun ada ada hubungan keluarga Sditiya tidak pernah datang sendiri dia akan menyuruh aldi atau dokter henri.
"Maaf pak ibu mba Zahirah sudah meninggal" jawab dokter
Zahirah melihat kearah Aditiya, ia menghampiri Aditiya dengan lemah
"Tolong pak, tolong ibu saya, saya tidak memiliki siapapun di dunia ini selain ibuku kalau ibuku pergi meninggalkan ku.....aku...aku harus bagaimana " kata Zahirah terbata dengan memegang kerah jas aditiya dengan erat.
Aditiya mendengar ratapan dan tangisan Zahirah hatinya terasa sakit, tapi sebenarnya siapapun yang melihat keadaan Zahirah saat ini pasti akan merasa kasihan dengan kondisi yang sangat berantakan.
Dokter melihat apa yang dilakukan zahirah kaget karna baru kali ini ada seseoarang yang berani memegang baju Aditiya.
__ADS_1
Bagaimana tidak kaget Aditiya yang tidak pernah memberi seseorang kesempatan untuk berbicara dengannya secara pripadi apalagi memegang pakaiannya.