HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 82


__ADS_3

Zahirah tidak tahu harus berkata apa tapi ia juga tidak bisa melihat suaminya terus melihatnya tak berdaya.


"Mas...." mengusap pipi Aditiya dengan lembut


"Iya sayang, kau ingin sesuatu. " Aditiya mengambil tangan istrinya membawanya kebibirnya.


Zahirah menggelengkan kepalanya, "Apa mas tidak ingin bertanya sesuatu dariku" memeluk erat hanya sekedar memberikan kekuatan untuk dirinya.


Aditiya mengusap punggu istrinya lembut


"Apakah boleh? " tanyanya hati-hati


"Tapi aku takut " semakin erat memeluk Aditiya.


Aditiya merasakan betapa eratnya pelukan istrinya sampai ia sesak,


"Tidak papa jika kau belum siap cerita mas akan selalu menunggu sampai kau betul-betul siap. " mencium kening istrinya.


Zahirah melepaskan pelukannya dan menatap suaminya yang juga mematapnya dengan senyum.


Aditiya mengusap kepala istrinya "Sayang maukah kau mendengarkanku " mengusap punggung istrinya memberikan ketenangan.


Zahirah menganggukan kepalanya, sebelum berkata Aditiya memberikan ciuman singkat di bibir istrinya.

__ADS_1


"Sayang aku tahu kau tidak dalam keadaan baik-baik saja, aku tahu bahwa kau sedang dalam keadaan berduka karna sahabat terbaikmu pergi meninggalkan mu dan akupun tahu bahwa kau menyalahkan dirimu atas semua yang telah terjadi. Di sebabkan olehmu tapi tahukah kau semenjak kau ada di dalam hidup aku merasa hidupku penuh dengan rasa hangat, di dalam hatiku setiap aku melihatmu aku merasa bebanku hilang sekejap, aku begitu menyayangimu dan mencintaimu tapi ketika aku melihatmu menyakiti dirimu sendiri aku bagaikan orang tak berguna berada sampingmu. Aku hancur jika kau selalu melukai dirimu... maukah kau mendengar permintaanku. "


Zahirah mendengar kata-kata lembut dari suaminya, hati menghangat dan merasa sudah melupakan suaminya, ia larut dalam kesedihannya dan Zahirah tak mengirah bahwa itu menyakiti hati suaminya.


"Iya aku mau " jawabnya dengan setengah terbata akibat menangis.


Aditiya lagi-lagi mencium kening istrinya.


"aku mau, kau berhenti menyakiti dirimu" Aditiya menatap istrinya dengan tatapan memohon.


"Maukah kau mengabulkan permintaanku ini sayang. "


Zahirah menatap mata suaminya, ia tahu dengan tatapan itu tatapan memohon. Zahirah tidak bisa berjanji karna Zahirah yang lakukan ia pun tidak sadar kalau ia sudah menyakiti dirinya, jadi apa yang Zahirah harus lakukan jika berada di stuasi seperti tadi. Zahirah tidak ingin memberi harapan palsu terhadap suaminya.


Aditiya tahu kondisi istirinya jadi, ia mengerti setidak istrinya sudah mau berusaha


Zahirah begitu menyukai berada di pelukan suaminya. Zahirah menginginkan sesuatu tapi ia tidak enak karna sudah berapa hari suaminya tidak pergi kantor.


"Mas" cicitnya


"Hmmm" mulut aditiya berada di atas kepala istrinya ia sangat menyukai apapum dari istrinya.


"Boleh aku meminta sesuatu" suara Zahirah nyaris tak terdengar kalau saja Aditiya tidak fokus mendengar istrinya

__ADS_1


"Benarkah kau menginginkan sesuatu, " aditiya berbinar mendengar permintaan istrinya. bagaimana tidak ini pertama kalinya istrinya meminta susatu darinya.


Zahirah terkekeh melihat antusias suaminya "Hmmm tapi....." suara Zahirah tergantung


Aditiya yang sedang menunggu permintaan istrinya sekita kening berkerut kenapa.


Apa istrinya takut kalau ia tidak mampu mengabulkan apa yang inginkan istrinya, yang benar saja ia mampu membeli sebuah pulau.


"Aku akan mengabulkan permintaanmu apapun itu tapi dalam hal masuk diakalku yah sayang. "


Zahirah memukul suaminya pelan, ada saja perkataan suaminya yang membuatnya kesal.


Aditiya tertawa, " Baiklah-baiklah sebutkan yang kau inginkan maka aku mengabulkan semuanya. "


"Hahah... termakasih tapi kau hanya minta satu... boleh aku pergi berlibur denganmu... aku pergi ketempat yang ada pantai pasti sangat menyenangkan bisa main air bersamamu. " Zahirah berbinar membayangkannya.


Aditiya tersenyum lembut, "Baiklah apapun itu " memdaratkan ciuamannya di kening istrinya.


"Tapi kau harus menunggu beberapa hari karna aku harus menyelesaikan pekerjaan lebih terdahulu karna ini sangat penting sayang... apa tidak apa-apa kita undur dulu liburanya? "


sebenarnya Aditiya tidak ingin menundanya tapi ini pekerjaan harus diselasaikan.


"Baiklah... tidak masalah" jawabnya dengan gembira.

__ADS_1


__ADS_2