
Ningsih menjalani harinya akhir-akhir ini bagaikan tak bernyawa, ia seakan jatuh tertimpa tangga pula. Ningsih saat ini masih tidak bisa membedakan mana nyata dan mana yang hayalan. Dipikirannya saat ini kemana akan membawa cintanya.
Ningsih sudah terlalu dalam mencintai Aditiya. semakin ia tidak ingin memikirkan tentang Aditiya semakin ia memikirkannya.
Saat ini Ningsih masih berbaring di kamar sudah dua hari Ningsih tidak masuk kerja, ia sengaja mengambil cuti untuk beberapa hari dengan alasan berlibur karna selama ini ia tidak mengambil cutinya hanya untuk melihat alAditiya namun sekarang orang yang Ningsih hindari adalah Aditiya.
Ningsih sekarang tak ingin Zahirah memgetahui kalau ia sangat mencintai Aditiya, ia takut akan menyakiti Zahirah karna Zahirah tidak salah apapun disini. Andai Zahirah tahu kalau ningsih menyukai Aditiya bisa dipastikan Zahirah akan meninggalkan Aditiya karna Ningsih tahu bagaimana sosok Zahirah tapi tidak juga ingin menyakiti Aditiya karna Adtiya sangat mencintai Zahirah yang salah di sini adalah dirinya yang menaruh hati tanpa permisi.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap Zahirah. Zahirah tak salah yang salah adalah aku. Aku tidak jujur dari awal dengan zahirah andaikan aku jujur maka aku tidak akan terlalu jatuh hati terhadap aditiya tapi sekarang aku sudah terlalu mencintainya. Ya Tuhan aku tidak tahu harus melakukan apa terhadap hatiku" Ningsih meracau sendiri didalam selimut ia membentur-benturkan kepalanya di kasur.
Lama menangis akhirnya tertidur. Ningsih bangun dari tidurnya, ia haus berjalan kedapur dengan tertatih, badannya lemas karna sudah dua hari ini tidak makan. Selerah makan Ningsih menghilang sekita walau kini apapun ia bisa makan tidak seperti dulu makanpun susah. Air mata Ningsih terjatuh lagi memgingat perjuangannya bersama Zahirah.
Dulu Ningsih pernah berkata "Ra... jika aku punya pekerjaan bagus dan gajiku besar aku akan memakan apapun yang ingin aku makan," tapi sekarang Ningsih sudah mendapatkan apa yang inginkan justru nafsu makannya tidak ada.
Ningsih duduk di depan Televisi. Tv menyala tapi tatapan Ningsih kosong. Bel berbunyi tapi Ningsih seakan tidak mendengarkannya. Sekarang bukan lagi bel berbunyi tapi gedoran keras akhirnya Ningsih tersadar.
__ADS_1
Zahirah yang awalnya senang yang akhirnya dibukakan pintu berubah menjadi pias ketika melihat kondisi Ningsih yang menyedihkan sedangkan Ningsih tak berkutik apa-apa.
Zahirah masuk "Ning apa yang terjadi denganmu" memeriksa badan Ningsih. Rupanya Ningsih sedang deman tinggi "Kau sedang sakit Ning kenapa kau berdiri, ayo berbaring kekamarmu" menarik Ningsih "apa yang sebenarnya terjadi denganmu Ning, kenapa kamarmu berantakan sekali kau tidak pernah melakukan ini. Ini seperti bukan ningsih yang kukenal" berbicara tanpa memperdulikan raut wajah Ningsih semakin pucat "Ning kau dengar tidak" berbalik kearah Ningsih. Rupanya Ningsih sudah tak sadarkan diri.
Zahirah kaget melihat Ningsih yang pisang. Berlari kearah Ningsih "Ning bangun...bangun Ningsih" menepuk-nepuk pipi Ningsih.
Zahirah berusaha memindahkan Ningsih ketempat tidur. Di tempat tidur Zahirah mellihat kondisi Ningsih, mata bengkak, muka pucat dan bibir kering. Zahirah tidak pernah melihat kondisi Ningsih seperti ini. Zahirah berusaha menurunkan panas Ningsih namun tak kunjung turun akhirnya Zahirah menelpon Aldi, menyuruh Aldi mengirim dokter kerumah Ningsih dan memberi tahu Aldi agar Aldi memberitahu suaminya. Kalau Zahirah akan pulang kalau Ningsih siuman karna pada saat Zahirah menelpon Aditiya sedang rapat.
__ADS_1
Zahirah di beri tahu kalau Ningsih terkena gejala tipes. Ningsih diberikan beberapa obat dan vitamin dokter berpesan jika panasnya tidak turun tolong bawa kerumah sakit.
Zahirah duduk di samping Ningsih "Ning aku tidak tahu kalau kau sedang sakit andaikan aku tahu aku datang secepatnya. maafkan aku yah kurang memperhatikanmu" memuluk Ningsih yang masih tertidur.