HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 71


__ADS_3

Ningsih susah untuk melangkan kakinya, suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja tapi kenapa ia harus terjebak seperti ini.


"Ningsih cepat" panggil Zahirah tidak sabaran


"Mas lanjut kerja ya nanti aku nyusul kalau ningsih sudah pulang"


"Kamu tega ya mengusir aku dari sini" masih memeluk istrinya enggan meninggalkannya


"cup.... nanti ya" mengedipkan sebelah matanya


"Jah...baiklah...aku tunggu kamu ya " membalas ciuman istrinya dan meninggalkan Zahirah pergi melanjutkan pekerjaannya.


Pasti Aldi akan marah-marah karna sudah beberapa hari ini ia mengabaikan pekerjaannya cuma ingin dekat dengan istrinya.


Zahirah dan Ningsih sedang duduk tidak ada satupun yang mengularkan suara. Zahirah merasa ada yang berbeda dari sahabatnya tapi zahirah takut menanyakannya, takut akan melukai hati Ningsih sedangkan Ningsih tidak ingin mengularkan suara satu katapun ia ingin sekali meninggal rumah ini.


"Ningsih"


"Hmmm"


"Deg" jantung Zahirah mendetak sangat kencang ia tidak tau akan mendapatkan jawaban yang dingin dari Ningsih dan ini untuk pertama kalinya.


"Ningsih" saura Zahirah lemah "kau marah padaku" air matanya sudah jatuh. Ini pertama kalinya air matanhya jatuh semenjak ia hamil.


Ningsih menyadari kalau sudah melakukan kesalahan


"Hahaha" tertawa sumbang "aku bercanda Ra, cepat amat tersinggungnya"


"Wuah...wuah...wuah...." bukannya berhenti menangis malah bertambah.

__ADS_1


"Loh kok tambah nangis jangan nangis nanti suamimu memarahiku dan memecatku" cemberut


"Kamu sih membuatku takut, aku mengira orang didepanku ini bukan Ningsih" memukul lengan Ningsih.


Memeluk Zahirah "Memang Ningsih yang kau kenal itu sudah pergi sekarang ini hanya Ningsih yang tidak ada bedanya dengan botol kosong" batinya


Zahirah merasakan bahunya basah "Kenapa menangis?"


"Hehehe"


"Aku bertanya Ning" tanya tegas


"Galak amat ibu" mengapus air matanya "Aku menangis karna terlalu menrindukanmu "


"Ra, kau sedang menonton apa ?"


"Ohhh....terus bagaimana pendapatmu kalau kau berada di posisi jika cintamu tak terbalas dan melihat sahabatmu bahagia dengan laki-laki yang kau cintai?" tanya Ningsih dengan hati-hati


Zahirah terdiam sangat lama "Ehh kok malah jadi serius aku hanya sekedar bertanya" Ningsih cepat mengalih pembicaraaan


"Ra sudah berapa bulan kehamilanmu "


"Belum cukup satu bulan. kalau aku jadi posisinya yang tidak bisa mengapainya lebih baik aku meninggalkan semua yang berkaitan dengan semuanya."


Perasaan Ningsih sudah tidak karuan lagi, "Ning kau tidak apa-apa?" tanya Zahirah ketika melihat tubuh ningsih bergetar


"Ah..tidak apa-apa, aku sudah terbiasa" melepaskan tangan Zahirah yang berada dipundaknya


"Entahlah akhir-akhir ini aku jarang sekali tidur" suara Ningsih hampa seperti tak memeliki semangat hidup

__ADS_1


"Ra aku pulang ya aku ingin beristrihat"


"Kau bermalam saja di sini kita bisa tidur berdua seperti dulu" Zahirah sangat gembira ketika mengingat masa lalu


"Terus suami kau mau taruh kemana, bukankah kau pernah bilang kalau suami mu tidak bisa tidur tanpamu"


"Iya iya tapi aku kangen Ning. aku sangat rindu di mana kita tidur berdua, yang kau sering curhat tentang calon imanmulah aku rindu di masa-masa itu" Zahirah tak kuasa menahan air matanya


"Tapi aku tidak ada tenaga untuk melakukan hal seperti itu lagi " batin Ningsih


"Baiklah tapi satu syarat kalau suami mengizinkan" pasrah Ningsih tak ingin membuat hati Zahirah kecewa.


"Mas...mas kusayang" panggilnya manja.


Aditiya merasa dipanggil berdiri dari kursi kerjanya


"Tuan pekerjaan anda masih banyak "


"Santai dek"


Aldi melangkah menjauh dari Aditiya, ia takut dengan panggilan itu "Baiklah aku keluar dulu kau kerjaan sisanya oke "


"Baiklah kak"


"Hahah...kau memang adikku yang paling mengerti" tersunyum


"Kau tidak megerti tuan Aditiy, bagaimana caranya aku mengerjaan pekerjaan yang harus ada tanda tangan anda " batin Aldi


Aldi akhir-akhir ingin bersembunyi tidak ingin muncul di hadapan Aditiya.

__ADS_1


__ADS_2