
Acara ulang tahun akan diadakan beberapa jam lagi. Semua jajaran petinggi perusahaan Kusuma Wijaya sudah berada ditempat tersebut dan begitunpun denagan pengawai biasa.
Semua orang yang ada di acara tersebut menikmatinya mulai dari hidangan yang disediakan dan para penghibur acara tersebut.
Ningsih yang sudah datang dari tadi sedang menunggu pemilik acara tersebut namun batang hidungnya tak terlihat sama sekali hanya Aldi terliat beberapa kali mungkin dia memeriksa acara tersebut agar tidak ada kesehalahan sama sekali tapi kalau dipikir-pikir acara ini tidak ada cacatnya sama kali dan perlu diketehui walau tak satupun ada wartawan ada diacara padahal acara ini sangat besar mengingat bagaimana pengharuh Aditiya Kusuma Wijaya di dalam dunia perbisnisan tapi kenapa yah wartawan tidak ada sema sekali, pikir Ningsih.
"Kemana sih pak Aditiya." guman Ningsih
Sedangkan pemilik acara sedang berada di kamar di mana dia sedang mengejerjai istrinya.
"Mas memang mau kemana sih harus berdandan seperti ini" Zahira protes sejak tadi sore. Tiba-tiba suaminya menjemput dari rumah dan membawa kehotel untuk mempersiapkan dirinya.
"Jangan bawel, kau duduk saja dan terima saja orang-orangku melakukan apa kuperintahkah" memandang istrinya yang sedang dirias
"Iya tapi ini saya dari tadi duduk disini sampai kapan sih aku harus didandani" pasalnya suami selalu saja memprotes dandanan istrinya, katanya terlalu tebal lah bedaknya kalau bukan lisptiknya dan itu berulang kali.
"Entah" kesal sendiri karna melihat istrinya begitu cantik didandani, ia tidak rela memperlihat istrinya dihadapan semua tamu yang datang.
__ADS_1
Zahirah kesal sendiri dibuatnya. Akhirnya ia berinisiatif sendri "Mbak istrihat ya biar aku yang menyelesaikan ini" Zahirah kasihan sama mbaknya yang sudah terlihat sangat kelelahan.
Zahirah memberika oles terakhir dibibirnya warna sesuai warna bibirnya "sudah baguskan" memperliatkan di depan wajah suaminya.
Aditiya membersihkan lipstik istrinya dengan jemlol tangannya "ini baru sempurna "
"kalau begitu tak usah dandan dari tadi buat capek saja" cemberut melihat wajanya di depan cermin. lipstiknya sudah hilang "Iya kan mbak "
mbak yang ditanya hanya tersenyum melihat wajah Zahirah yang lucu.
"Kau boleh keluar. "
"Tidak papa nona, terima kasih"
"Maafkan yah suamiku mbak."
Mbaknya hanya menganggukan kepalanya dan berlalu meninggal Zahirah berdiri. Jika berlama-lama maka kesempatan mendapatkan bekerja sama dengan aditiya hilang sekejap mata karna hanya membuatnya kesal tuan rumah.
__ADS_1
Zahirah mengikuti langkah Aditiya. Aditiya duduk di kasur dan menupuk pahanya.
"Loh kekasur sih kita kan mau ganti baju dan kenapa malah menyuruhku duduk dipahanya. bagaimana cara agar bisa mengalihkan pikirannya" batin Zahirah menjerit ingin rasanya keluar dari kamar hotel ini.
"Mas memang kita mau keacara mana sih" Zahirah berjalan kearah sofa, ia pura-pura tidak lihat tangan Aditiya.
"Ehh..mau kemana kau...sini duduk" menyadari istrinya bukan berjalan kearahnya
Zahirah pasrah "puaskan" duduk di paha suaminya
"Hahah...cup" mencium istrinya dan tak luap tangannya membuka resleting baju istrinya.
"Mas mau ngapain" siaga satu
"Kan mau ganti baju "
Zahirah menaikkan kembali lengan bajunya yang sudah jatuh "Aku bisa sendiri mas" ingin berdiri
__ADS_1
"Diam" memberi perintah, ia ingin memanjakan istrinya.
Zahirah diam dan membiarkan suaminya berbuat semaunya. Ya Tuhan kenapa sih perihal ganti baju saja lama sekali.