HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 18


__ADS_3

Ibu zahirah sudah di makamkan, kini Zahirah tinggal seorang diri dirumahnya ditemani Ningsih.


Flaskback off


Ningsih sedang bekerja hpnya dalam keadaan silent sudah berapa banyak panggilan tak terjawab Zahirah.


Setelah selesai bekerja barulah Ningsih melihat hpnya. Ningsih kaget melihat panggilan tak terjawab Zahirah.


Buru-buru Ningsih menelpon Zahirah, panggilan pertama tidak terjawab


"Angkat donk ra......" guman Ningsih ketika panggilan sudah ketiga kalinya


"Halo ningsih " jawab Zahirah lemah


" Apa yang terjadi ra..." perasaan Ningsih sudah tidak enak mendengar suara Zahirah menahan tagis


"bu Ning...ibu Ning....ibu.....telah pergi" suara Zahirah terdengar tercekat


Mendengar ibu Zahirah telah pergi Ningsih sudah terjatuh kelantai, ia menutup mulutnya tak percaya apa yang telah ia dengar.


" Ya Tuhan kenapa harus seperti ini, apa yang sebenarnya Engkau rencanakan di dalam kehidupan Zahirah" batin n Ningsih


"Ra kamu di mana sekarang " tanya Ningsih


"saya masih di rumah sakit, saya menunggu ibu dibersihkan setelah itu di makamkan " jawab Zahirah


"Ok..ok..saya menuju kesana. "


Sesampai dirumah sakit Ningsih, ia sudah berada didepan ruangan Zahirah berada, perasaanya campur aduk.


Ningsih masuk dan melihat zahirah sedang duduk disofa termenung entah apa yang dia khayalkan, keadaannya jangan ditanya Zahirah seperti orang yang kehilangan arah. Ningsih pernah melihat bagaimana menderitanya Zahirah ketika ayahnya meninggalkan, Zahirah juga menderita sampai dia pergi kepiskologi tapi sekarang ibunya sudah pergi dan sekarang apa yang akan terjadi pada diri Zahirah.

__ADS_1


"Hei" sapa Ningsih lembut


" Ra....jangan seperti ini kumohon" kata Ningsih ketika Zahirah tidak menyambut sapaannya air matanya sudah terjatuh.


Mendengar seseorang menangis Zahirah menoleh kesamping, ia melihat Ningsih dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Zahirah langsung memeluk erat Ningsih air matanya tumpah kembali. Ningsih membalas pelukan Zahirah sama-sama eratnya. mereka menumpahkan kesedihannya.


"Ning ibu...ibu...ibu...." hanya itu yang dapat diucapkan Zahirah


"Ssht......ia Ra....sabar mungkin ini jalan terbaik untuk ibu agar ibu sudah tidak merasa sakit lagi" kata Ningsih yang lebih tegar.


Zahirah hanyak menganggukan kepalanya, ia masih memeluk Ningsih.


flaskback on


Setelah acara pemakaman selesai Zahirah dan Ningsih kembali ke rumah Zahirah.


Ningsih mengenal Zahirah sejak lama jadi ia tahu apa yang Zahirah rasakan bagaimana ia berjuang melawan traumanya ditambah ayahnya meninggal dan sekarang ibunya juga meninggal. Ningsih tahu kalau Zahirah selalu menyalahkan dirinya ketika musibah itu terjadi pada orang-orang dia sayangi dan Ningsih pun tahu jika dibiarkan seperti ini Zahirah akan seperti mayat hidup.


Ningsih tidak ingin itu terjadi pada diri Zahirah makanya nNngsih harus kuat jika ia memperlihatkan kesedihannya maka Zahirah akan menyalahkan dirinya lagi dan lagi


" Ra...." panggil Ningsi


" Ra..." panggil Ningsih lagi namun tidak dijawab oleh Zahirah


Mereka masih berada diruangan tamu Zahirah, ningsih berniat untuk menanyakan ingin makan apa namun tidak dijawab oleh zahirah.


" Zahirah...." bentak Ningsih...


Zahirah menoleh kearah Ningsih "iya Ning"

__ADS_1


" Kamu mau makan apa? " tanya Ningsi


"Saya belum lapar Ning, kamu saja ya yang makan" jawab Zahirah lemah


Ningsih sudah tidak bisa menahan emosinya melihat keadaan zahirah seperti ini dengan langkah lebar mendekati Zahirah. Ningsih memegang bahu Zahirah agar Zahirah dapat berdiri ketika sama-sama berdiri


"Ra kumohon kamu tidak boleh seperti ini, aku tahu bahwa ini sangat menyakitkan bagimu tapi kamu harus kuat menjalani kehidupan ini Ra...." kata Ningsih lemah


mendengar nasehat sahabatnya Zahirah langsung tersadar " Saya baik-baik saja Ning" jawab Zahirah dengan memaksakan senyumnya


" Kau bohong Ra....kenapa kamu selalu menutupi kesedihan mu...aku tidak ingin melihatmu seperti ini Ra ...kumohon Ra lanjutkan kehidupan mu kamu masih ada aku kok kamu harus kuat untukku " kata Ningsih air mata sudah terjatuh, ia sudah tidak tahan untk tidak menangis


"Baiklah...baiklah...baiklah saya harus kuat " jawab Zahirah dengan cepat ketika melihat sahabatnya itu menangis


"Janji ! " kata Ningsih


Mendengarkan kata janji Zahirah membeku ia tidak tahu apakah dia bisa menjalani kehidupan lebih baik atau tidak. Zahirah pun tidak bisa menjanjikan sesuatu pada dirinya sendiri terus bagaimana bisa ia menjanjikan sesuatu kalau dirinya sajapun tidak yakin.


" Ra.......kamu janjikan kalau kamu akan menjalani kehidupan dengan baikkan " kata Ningsih dengan memohon


"maafkan aku Ningsih " kata Zahirah lemah dengan menundukkan kepalanya


" Sudah kuduga kau akan menjawab seperti itu Ra. Baiklah kalau kamu ingin hidup seperti mayat hidup lakukan...lakukan sesuka hati mu tapi satu hal yang harus kau tau aku akan pergi dari kehidupanmu dan tidak akan kembali lagi " kata Ningsih dengan marah


" Ning....maksudku bukan begitu aku..aku..aku.."


Zahirah bigung haruskah dia menceritakan bahwa traumanya tidak pernah sembuh total tapi kalau dia menceritakan takutnya ia akan menyakiti sahabatnya itu


" Sudahlah Ra...kau sudah tidak menganggapku lagi sebagai sehabat mu...aku pergi" kata Ningsih


Ningsih sebenarnya tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya tapi ia harus memberi pelajaran agar Zahirah tidak menyia-yiakan hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2