HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 64


__ADS_3

Ningsih kembali tertidur sedangkan Zahirah sedang membersihkan Apartemen Ningsih. Terdengar bunyi bel Zahirah membuka pintu


"Mas" teriak Zahirah.


Aditiya tertawa melihat tingkah laku istrinya "Kau sedang senang yah" Zahirah memeluk Aditiya menganggukkan kepalanya


"mas tidak sibuk katanya tadi kau lembur"


"Mas tidak di suruh masuk " malas menjawab pertanyaan istrinya


"Ihhhh" melepaskan pelukannya "Silahkan masuk tuan seenaknya"


"Apa kau bilang" mendekati istrinya ingin memciumnya


"Ehh... maksudku silahkan masuk suamiku sayang"


Aditiya mengusap kepala istrinya "iya istriku sayang"


"Ihh mas resek" sedang kesal tapi tetap saja memeluk lengan suaminya


"Tunggu yah mas saya ambilkan minum"


Aditiya duduk memperhatikan keadaan ternyata tidak ada yang berubah dari ia datang sebelumnya.


"Ningsih mana?" tanya Aditiya melihat istrinya duduk disampainya


"Mas tau namanya Ningsih"


"Taulah, aku harus tau kalau itu bersangkutan denganmu"


Zahirah menyandarkan kepalanya di lengan Aditiya "Makasih yah mas"


aditiya mencium kepalanya istrinya "Tak usah terima kasih apa yang mas lakukan untukmu"


"Itu tandanya saya sangat bersyukur memilikimu mas" memeluk lengan suaminya dengan erat


Aditiya mengangkat badan istrinya dan membawanya kepangkuannya "apa yang mas lakukan sih" kaget


Aditiya tidak menjawab, ia langusung mencium istrinya, lama berciuam Zahirah yang hampir kehabisan napas menepuk pundak suaminya.


Aditiya melepaskan tautannya, mereka saling pandang dan Aditiya mencium kening istrinya

__ADS_1


"aku juga sangat bersyukur kau telah menikah denganku" memeluk istrinya.


"Mas turunkan aku"


"Memang kenapa"


"Aku takut kalau Ningsih melihat kita berdua seperti ini"


"Memang ada yang salah dengan apa yang kita lakukan" masih saja memeluk istrinya ditambah bibirnya memcium leher istrinya


Zahirah bergerak gelisa "Kalau aku tidak turun dari pangkuan mas bisa gawat ini" batin Zahirah


"Kau bisa diam" memberikan isyarat kalau Aditiya sedang kesal karna terganggu tingkah laku istirinya


Zahirah terdiam "Mas jangan di sini yah nanti di rumah" takut karna tangan suaminya sudah masuk kedalam bajunya. Aditiya tidak mendengarkan ucapan Zahirah ia sedang asyik apa yang di lakukan sekarang.


"Aku takut nanti Ningsih keluar tiba-tiba dan melihat ini, ini sangat memalukan dan juga kenapa sih tuan satu ini tidak tau tempat" batin Zahirah frustasi


"Mas" mengusap punggung Aditiya


"Mas berhenti yah nanti kalau Ningsih keluar bagaimana"


Masih saja tidak mendengarkan istirinya


Aditiya berhenti apa yang dilakukannya "kenapa" melihat istirinya


"Kenapa kau berteriak"


"Mas ini bukan di rumah nanti Ningsih melihat kita"


"Tapi apa yang aku lakukan wajar Ra" mengusap pipi istrinya


Zahirah berdiri dan menjauh dari suaminya "Hei mau kemana kau "


melihat istirinya berlari "Mau melihat Ningsih" teriaknya


"Kita belum selesai sayang"


"Tauh ah " masuk kedalam kamar Ningsih sedangkan Aditiya tertawa


"Padahal aku cuma mau mengodanya eh keterusan" menggelengkan kepalanya sadar akan perbuatannya

__ADS_1


Di dalam kamar "Ning kau sudah bangun" Ningsih menganggukan kepalanya


"Apa kau mau makan sesuatu" lagi Ningsih menjawab dengan gelengan kepalanya


"Apa kau merasakan sakit" Ningsih menganggukan kepalanya tapi kemudian memggelengkan kepalanya.


Zahirah tidak tahu kenapa Ningsih bertingkah aneh lagi, apa ia sedang membuat lagi kesalahan.


"Ning apa aku berbuat salah."


Ningsih yang tidak ada tenaga untuk menjawab kembali berbaring


"ning katakanlah sesuatu " Ningsih menghela napasnya


"Apa aku boleh meminta sesuatu" zahirah menganggukan kepalanya


"Aku ingin" belum melanjutkan perkataanya pintu terbuka. Ningsih dan Zahirah berbalik kearah pintu.


"Ra kenapa kau lama sekali kau lupa yah dengan suamimu ini " Aditiya masuk kedalam kamar Ningsih tanpa permisi, memcium kening istrinya


"Ningsih bagaimana keadaanmu "


"Baik pak" menjawab dengan gugup


"Tidak mas, Ningsih tidak lagi baik-baik saja"


"Aku baik Ra, kau boleh pulang kok " suarah ningsih serak seperti menahan sesuatu


"Kau dengarkan Ningsih sudah membaik"


"Benar kau tidak apa-apa di tinggal sendiri" Ningsih menganggukan kepalanya dan tersenyum


"Baiklah aku pulang tapi jangan lupa makan yah "


memeluk Ningsih "Iya bawel" membalas pelukan Zahirah.


Aditiya berdiri dan mengusap kepala ningsih "Kau cepat sembuh kantor membutuhkanmu "


Ningsih terkejut ketika aditiya mengusap kepalanya "Baik pak "mencengram seprai kasurnya


"Aku pulang dulu yah, kalau ada apa-apa telpon aku.. oke" Ningsih menganggukan kepalanya dan melambaikan tangannya.

__ADS_1


Selepas kepergian mereka dari apartemennya Ningsih menangis sangat keras.


__ADS_2