
Ningsih membereskan pakaiannya
"Apa ada bisa kubantu " Zahirah melihat sahabatnya sedang kewalahan
"Tidak usah, aku lagi senang jadi tidak usah membantuku"
"Emang ada hubungannya ya kau lagi senang dengan aku membantumu "
"Adalah Ra kalau senang mengejarkan sesuatu akan lebih ringan dan pekerjaanku menjadi lebih cepat selesai"
"Ohhhh" zahirah hanya beroh saja
"Aku keliling dulu ya" Ningsih menjawab anggukan kepalanya, "aku bosan mendengar nyanyian mu yag tidak jelas dan tidak ada yang selesai satu lagu pun. semua terpotong dan parahnya semua lagu yang kau nyanyiankan hanya reffnya saja" Zahirah mengeluh
"Hahaha...baiklah-baiklah kau bisa keliling sepuas hatimu."
Zahirah meninggalkan Ningsih yang bernyanyian tidak karuan, ia ingin melihat tempat tinggal sahabatnya "Wah....aku tidak menyangka kalau apartemen ini hampir menyamai rumah mewah yang pernah kuliat di TV" Zahirah kagum melihat isi di dalam Apartemen ini semuanya lengkap.
"Tapi siapa orang yang baik hati sekali memberikan apartemen mewah ini kepada Ningsih, semoga saya bisa bertemu dengan orang itu, aku ingin menyampaikan rasa terimah kasih. Kenapa aku tidak menanyakan kepada Ningsih saja ya" batin Zahirah.
Zahirah berjalan menuju kamar Ningsih "Ning kau sudah selesai" Zahirah melihat Ningsih sedang berbaring ditempat tidur
"Sudah kok dari tadi emang kamu dari mana "
"Aku kan tadi sudah bilang padamu"
"Iya aku tau tapi kenapa kau lama sekali "
"Emang ini kayak kostmu, keluar dari kamar dapur maju satu langkah wc maju dua langkah pintu"
__ADS_1
"Ehhh....emang kostku kandang ayam" kesal ningsih walau sebenarnya benar yang dikatakan Zahirah.
"Hahaha...aku tidak bilang ya..kau yang bilang"
"Tapi menang benar sih kostku dulu sangat sempit" mereka berdua tertawa.
Zahirah dan Ningsih sedang berbaring di kasur yang sangat lembut, mereka tidak pernah terpikir bahwa hidupnya akan berubah dratis
"Ning "
"Hmmm" Ningsih sedang menatap atap kamarnya
"Siapa sih orang baik yang memberikanmu Apartemen ini"
"Bosku"
"Iya aku tau kalau bos yang memberikannya"
"Terus"
"Kau sudah ketemu kok dan berbicara dengannya"
"Masa sih" Zahirah tak percaya bahwa bosnya Ningsih pernah bertemu dengannya
"Memang di mana"
"Di rumah sakit"
Aaduh jangan bertele-tele deh Ning kepala kupusing mendengarkan jawaban yang tidak jelas."
__ADS_1
"Terus" Ningsih masih saja santai menjawab
"Aku ingin melihat orangnya, apa kamu punya fotonya"
"Di paman google banyak kok"
"Ningsih" teriak Zahirah kenapa sahabatnya ini semakin lama semakin meyebalkan
"Hahaha" Ningsih tertawa melihat muka merah Zahirah "Ini orangnya" Ningsih memperlihatkan wajah bosnya "Dia adalah Aditiya Kusuma Wijaya yang memiliki perusahaan terbesar ini kota ini"
Zahirah kaget melihat siapa sosokyang di perliatkan Ningsih "Mas Aditiya" batin Zahirah, ia tidak percaya bahwa suaminya yang selalu membantunya dan sahabatnya.
"Ra..." tegur Ningsih melihat Zahirah melamun
"Ah..iya" Zahirah tetsadar dari lamungannya
"Kamu sudah mengenalnyakan"
Zahirah menganggukan kepala. Ia merasa pikirannya kosong tak percaya
"Itu loh laki-laki yang berkunjung di rumah sakit, waktu aku dirawat di rumah sakit"
"Iya aku sudah mengenalnya."
Ningsih ingin keluar dari kamarnya "Mau kemana"
"Mau buat makanan, emang kamu tidak lapar"
"Lapar..hehehe" Zahirah tersenyum
__ADS_1
"Dasar" Ningsih keluar dari kamarnya meninggalkan Zahirah.
".as Aditiya" hanya itu yang bisa Zahirah ungkapkan, ia tidak tahu harus berkata apa. Dipikiran Zahirah saat ini, suaminya adalah orang penting di kota ini dibandingkan dirinya bukanlah siapa-siapa jadi kapanpun suaminya ingin membuangnya tak jadi masalah bagi Aditiya tapi Zahirah harus bagaimana dengan perasaannya. Alih-alih kecewa terhadap Aditiya karena telah membohonginya justru zahirah semakin jatuh hati terhadap suaminya itu.