
Ningsih sudah berada di Apartemennya. Ningsih ingin menyendiri untuk menenangkan hatinya yang sedang terluka. Ningsih mengirim pesan ke Aditiya, ia bisa mendapatkan nomor Aditiya dari Zahirah karna Zahirah sekarang jarang memegang hp bila bersama suaminya dan hampir seluruh waktunya bersama suaminya jadi Zahirah memberikan nomor Aditiya ke Ningsih jika terjadi sesuatu padanya.
"Selamat malam pak maaf menganggu. Saya Ningsih pak, saya dapat nomor bapak dari istri anda pak. pak saya ingin meminta cuti lagi karna saya ingin pulang kampung karna ada keluarga yang sedang meninggal jika urusan saya telah selesai. Saya akan kembali bekerja. Saya mohon pak jangan di beritahu Zahirah kalau Zahirah tahu pasti dia akan menyusul dan itu akan membuat bapak tidak bertemu istri anda beberapa hari. terima kasih pak."
Ningsih sengaja menyebut nama Zahirah agar Zahirah tidak menghubunginya selama ia ingin menyendiri. Ningsih butuh waktu untuk mengobati rasa sakit yang di terima.
Ningsih menjalani hari-harinya bagaikan ruang gelap tidak ada cahaya. Ningsih berusaha bersikap seperti biasa tapi tak bisa. Terkadang Ningsih makan namun tiba-tiba teringat Aditiya makanan yang sudah masuk keluar lagi. Sekarang tubuhnya hanya tinggal tulang kurus kering.
Ningsih sedang duduk termenung di ruang tamu apartemennya. Selama menyendiri Ningsih tak pernah sekalipun melupakan bayangan Aditiya. Terkadang Ningsih tidak mengingat Aditiya tapi pasti ada saja yang membuatnya teringat contoh sekarang Ningsi sedang duduk di depan TV tiba-tiba muncul berita tentang dia. Ningsih tertawa melihat Aditiya di TV.
"Lucu sekali, di saat aku tidak meningatnya dia tiba-tiba muncul di hadapanku" tertawa dengan air matanya sudah terjatuh.
Ningsih tidak bisa mengelak kalau ia sangat rindu dengan Aditiya. Di saat seperti inilah yang membuat hatinya sesak. Ningsih pergi mengambil air minum karna tenggorokannya kering akibat menangis.
__ADS_1
Di TV masih membicarakan Aditiya, berita yang terakhir membicarakan tentang istrinya kalau Zahirah sedang mengandung anak Aditiya. mendengar itu air minum yang ingin Ningsih minum terjatuh dipahanya.
Deg jantung Ningsih berdetak kencang, napasnya naik terturun. Ningsih susah mengontorol dirinya.
Ningsih berdiri melampisankan semua yang di rasa hatinya membuang barang-barangnya.
Ningsih memasukki kamar mandi dinyalakannya air dan mengisi bathtub membuka seluruh pakaianya. Melihat dirinya di depan cermin, betapa menyedihkannya dirinya, rambut acak-acak, muka tidak terawat, cekukan mata terlihat sangat jelas dan tubuh yang kurus kering. Ningsih seperti mayat hidup.
"Apakah kau mengharapkan Aditiya datang keapartemenmu dan mengungkapkan perasaannya. Memang apa hubunganmu dengan Aditiya. Ingat hubunganmu dengan Aditiya hanya sebatas bos dan kariyawan. Dia memperlakukanmu dengan sangat baik itu semua gara-gara Zahirah. Jika bukan Zahirah kau tidak akan merasakan kemewahan ini semua."
Berciara sendiri didepan cermin " Tapi aku tidak mengharap ini semua kalau hanya rasa sakit yang aku terima. Aku hanya ingin di cintai olehnya tidak bisakah dia menerima cintaku "
bertanya pada dirinya sendiri "Tidak bisa, sadarlah Ningsih sampai kapan kau akan begini. Aditiya dan Zahirah tidak perah salah dalam hal ini yang salah adalah cintaimu yang sudah melampaui batas sehingga kau sendiri tidak bisa membendungnya dan sekarang sedikitpun kau tidak bisa mengharap dia lagi karna dia sudah ingin mempunyai anak. Dia akan hidup bahagia bersama sahabatmu"
__ADS_1
Ningsih tertawa keras
"Yah"
"sekarang dia akan mempunyai keluarga lengkap" tertawa lagi
"Jadi kumohon sadarlah Ningsih" meneshati dirinya sendiri.
Ningsih meninju cermin didepannya tanpa sadar. tanganya sudah berdarah tapi Ningsih tidak menrasakan apapun
"aku sudah pasti sudah gila" berjalan kebathtub "kuharap esok aku tak bangun lagi" menutup mata
"Aku sangat lelah bisakah saya pergi" Ningsih tak bersuara lagi hanya air kerang yang terus berjalan.
__ADS_1